Minggu, 20 Juni 2010
BOBROK
"Sungguh bobrok..." sekali lagi ia menguatkan pernyataannya seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Ungkapan itu sering ia katakan setiap kali ia melihat rumahnya. Bukan karena bentuk fisiknya yang reot, bukan karena kondisinya yang seperti sarang laba-laba. Rumahnya berdiri sangat kokoh dan sama sekali tidak ada tanda-tanda akan roboh. Rumahnya juga bersih terawat setiap hari, bahkan didesain oleh arsitek terkemuka. Rumahnya terbilang sempurna. Tetapi kata bobrok itu adalah kata yang menurut Reni pantas untuk menyebut rumahnya.
Setelah kepergian ibunya dua tahun yang lalu jalan hidupnya telah melenceng dari skenario yang telah digariskan oleh Tuhan. Roda kehidupan terus berputar, musimpun telah berganti. Tuhan telah mengambil ibunya terlebih dahulu. Tidak ada lagi kasih sayang seorang ibu apalagi seorang ayah. Ayahnya jadi sering pulang malam dalam keadaan mabuk bahkan membawa perempuan ke rumah. Reni sebagai anak tertua selalu menegur ayahnya tetapi selalu saja berahir dengan pertengkaran. Pepatah mengatakan "Rumahku Surgaku" tetapi bagi Reni pepatah itu sudah direvisi menjadi rumahku nerakaku.
Keburukan ayahnya mereda setelah menikahinya. Perempuan yang pernah mengumpat mencari ayahnya untuk meminta pertanggungjawaban. Perempuan itulah yang telah merenggut seluruh cinta ayahnya. Sikapnya tak lagi penyayang seperti ketika masih bersama istrinya yang dulu. Reni menjadi tidak betah berlama-lama bersama mereka. Sering kali ia pulang malam. Memberontak. Berbeda dengan Rani, adik satu-satunya yang Umurnya hanya selisih satu tahun dengan Re. Ia sangat penurut.
***
Hari ini Reni kembali ke rumah ini, tempat yang dulu menjadi buku hariannya selama tujuh belas tahun. tempat yang mengajarkannya banyak hal. Dari kebahagiaan hingga kesedihan. Semua itu ia jadikan sebagai bekal hidupnya. Hidup yang ia pilih bersama sepi tanpa kasih sayang. Hidup yang sempat ditentang oleh ayahnya.
"Untuk apa jauh-jauh ke Yogya di Semarang juga banyak universitas yang bagus dan berkualitas," tiba-tiba Re teringat kembali protes ayahnya saat Re mengutarakan keinginannya untuk kuliah di Yogya.
"Tapi Re pengennya di Yogya !" suaranya meninggi. "Tidak betah di Semarang," lanjutnya dengan nada yang sangat sinis.
Tanpa menunggu apa yang akan dikatakan ayahnya Re langsung melenggang pergi.
"Reeee..." teriak Rani setelah melihat kakak satu-satunya tiba-tiba sudah ada di depan pintu rumah. Ia langsung menghambur memeluknya. Rani tidak sabar lagi ingin seperti dulu. Saling bercerita, berbagi pendapat dan berkeluh kesah tentang hidup mereka sekarang. setelah setahun lebih dipisahkan oleh jarak antara semarang Yogya.
"Capek banget Ran," Reni menghempaskan tubuhnya di sofa panjang. Seperti yang ia lakukan dulu setelah pulang sekolah dan selalu ada yang bisa mengusir rasa capek, ibunya selalu membuatkan jus alpukat kesukaannya. Lalu sekarang.
"Dimana perempuan itu Ran ?" Re mengingatnya.
Rani hanya mengangkat bahunya tidak tahu. "Buat Rani mana Ren ?" katanya sambil membongkar tas kakaknya.
"Ayah ?" tanya Re lagi.
"Ayah marah-marah Re, kamu sih nggak pulang-pulang."
"kenapa kangen ya ?" jawab Re datar "Apa benar ayahnya kangen ?" gumamnya dalam hati.
"Siapa juga yang kangen sama kamu. sebulan yang lalu ayah kedatangan tamu."
"Maksudmu datang bulan ?" mereka sama-sama tertawa. Sudah lama mereka tidak sebahagia ini.
"Tamu itu bakal jadi kakak iparmu Ran." sela ayah mereka yang sudah ada di dekat mereka. Tawa mereka serentak berhenti.
"kakak iparku ?" tanya Rani kaget.
"Maksud ayah apa ?" tanya Re tak kalah kagetnya. Reni berdiri menahan marah.
"Bosnya ayah melamar kamu untuk anaknya," jawab ayahnya tenang.
"Jadi karena ini ayah nyuruh Reni pulang ? Kenapa tidak bilang dulu sama Reni ?" Reni kesal. "Tidak Reni tidak mau." Reni berbalik dan membanting pintu kamarnya yang bersebalahan dengan ruang tamu.
***
Pagi-pagi sekali Reni mengemasi barang-barang bawaan yang sama sekali tidak disentuhnya sejak kemarin. Reni berniat akan kembali ke Yogya. Sebelumnya Re berharap pulang akan melihat keadaan yang dulu akan berubah, ternyata tidak. Reni malah menemui kekecewaan yang ditimbulkan oleh ayahnya.
"Mau kemana kamu Re ?" tanya ayahnya setengah membentak.
"Pulang," jawabnya.
"Pulang kemana ini rumahmu."
"Rumah Re di Yogya, Re akan balik kesana. Re kesini cuma buang-buang waktu saja." sahut Re kesal.
"Jangan kurang ajar sama ayah Re."
"Re tidak bermaksud kurang ajar sama ayah tapi Re cuma ingin dihargai disini. Re pengen kuliah sampai selasai," Re gusar dan pergi dari rumah meninggalkan ayahnya yang masih mematung di depan pintu kamarnya.
Re berlari ke jalan untuk mencari kendaraan yang bisa membawanya pergi dari rumahnya. Sekuat tenaga ia berlari seakan-akan dikejar ayahnya. Memang benar ayahnya mengejarnya tapi hanya sampai di pintu depan.
"Ingat Re akan ada pesta besar-besaran menantimu disini," teriakan ayahnya masih didengar Re yang baru saja masuk ke dalam taksi.
Malam ini Reni memandangi langit yang terlihat begitu megah dengan indahnya senyuman sang rembulan. Sayangnya senyuman Reni kini tak lagi seindah senyuman sang raja malam disana. Yang menampakkan cahayanya begitu transparan dan mampu menelanjangi setiap mata yang melihatnya. Tetapi tidak untuk mata Reni. Melihat keindahan malam ini, matanya langsung dihujani oleh air mata. Membayangkan tak ada lagi keindahan malam seperti malam ini. "Pesta ?" sepenggal suara ayahnya terngiang kembali. Sungguh-sungguhkah ayah ? Pikirnya dalam hati. Kuliahku bagaimana kalau aku bakal jadi seorang istri ? Memang pemikiran orang terdahulu yang tidak lagi mengerti betapa pentingnya pendidikan di zaman sekarang. Ayahnya hanya lulusan SMA yang kini hanya jadi tangan kanan Hartoyo, direktur perusahaan yang sangat otoriter. Apa yang diinginkan harus dicapainya. Menikahkan anaknya dengan anak seorang pembantu memang bukan keinginannya, melainkan keinginan ayah Reni, yang tidak lain karena tergiur dengan apa yang dimiliki bosnya. Hartoyo marah kemudian menggebrak mejanya dengan sengit "kau menghinaku ?"
"Atau aku akan melaporkanmu pada semua relasimu ?" ancamnya ketika permintaannya ditolak.
Harta memang sudah membutakan seseorang. Hartoyo tern'yata salah telah memilihnya sebagai orang kepercayaan. Orang yang telah tahu kelicikannya menjalankan suksesnya bisnis yang telah digeluti selama bertahun-tahun. Akhirnya dituruti saja kemauannya untuk mempertahankan kesuksesannya itu. Sedangkan Randy, lelaki yang akan dinikahkan dengan Re hanya mengangguk layaknya kerbau yang dicocok hidungnya. Karena memang Reni yang cantik membuat siapa saja akan tertarik kepadanya. Randypun juga tampan. Dan dengan ketampanan itulah yang selalu dijadikan Ayahnya alasan untuk mengiming-imingi Reni.
"Kamu akan menyesal Re anaknya tampan lho" bujuk ayahnya ketika Reni mengunjungi rumahnya minggu lalu.
"Re tidak tertarik, " tolak Reni.
"Kamu tidak boleh menolak," tegas ayahnya.
"Re masih pengen kuliah yah."
"Re Re kamu kuliah mau jadi apa ? Kamu itu perempuan Re ujung-ujungnya juga di dapur melayani suami."
"Pokoknya Re tidak mau, titik," Reni ngotot menolak untuk dinikahkan.
Seminggu sebelum acara pernikahannya. Ayahnya sudah berkali-kali menyuruhnya pulang tapi ia sama sekali tidak menanggapi perintah itu. Hingga suatu hari ketika Re berada di kampusnya ada mobil mewah yang tengah menghadangnya. Dari luar terlihat bukan orang sembarangan siapa yang ada di dalamnya. Pasti orang-orang yang terbiasa duduk di belakang meja DPR, pikirnya. Pintu terbuka dan seorang lelaki yang tampak berwibawa keluar dari sana.
"Hai Re senang bertemu denganmu," lelaki itu mengulurkan tangannya. Lalu pintu keduapun terbuka.
"Ayah ?" seru Re tampak kaget melihat ayahnya turut keluar dari mobil itu juga. ***
Pintu gerbang terbuka, berdiri di sana mak Sum yang biasa mengurus kebutuhan anak-anak kos. Randy menghentikan mobilnya tepat di depan tempat kos Reni. Pintu mobil belakang terbuka.
"Re," panggil ayahnya sebelum ia turun dari mobil itu.
"Iya yah," sahutnya antusias.
"Kemasi barang-barang kamu dan kembali lagi kesini."
"Maksud ayah ?"
"Kita pulang."
"Re tidak mau."
"Pokoknya yah tidak ada acara pernikahan tidak ada pesta buat Re, Re mau tetap kuliah di sini." jawab Re mantap.
"Jangan membantah kamu Re ayo cepat kamasi barang kamu dan kembali ke sini kita pulang," kata ayah Re sambil berteriak setelah melihat Re meninggalkan mereka.
Rapat-rapat Re mengunci kamarnya. membiarkan ayahnya pulang bersama Randy. Di belakang pintu kamarnya, Reni menekuk lutut dan sesenggukan menahan tangis. Ia berpikir untuk menggagalkan rencana ayahnya itu. Pernikahan itu tidak boleh terjadi. Tetapi acara itu sudah semakin dekat dan ayahnya telah mempersiapkan segalanya. Reni tidak punya cara lain. Reni menghilang ke suatu tempat karena ia yakin pasti ayahnya akan kembali untuk mencarinya. Dan hari itu semakin dekat. Dua hari sebelum pernikahannya ayahnya memang mencari Reni ke tempat kosnya juga ke kampus Renipun tidak ada di sana. Tepat di hari pernikahannya Reni tetap tidak muncul juga. Ayahnya sangat panik. Begitu pula Randy juga tak kalah cemasnya karena pengantinnya belum juga datang.Berbeda dengan Hartoyo ia merasa puas melihat kepanikan cukongnya itu. Ia tidak sudi berbesanan dengannya. Rani, adiknya juga berusaha menelepon nomor HP Reni hingga berkali-kali tidak juga aktiv. Ketika Rani sudah putus asa tiba-tiba teleponnya berbunyi.
"Ran aku tidak bisa datang," suara Re di seberang sana.
Rani langsung berteriak menyebut nama kakaknya ketika mendengar suara Re. Semua yang ada di dekat Rani menghentikan apa saja yang mereka kerjakan. Begitu juga dengan ayahnya, kecemasan langsung hilang seketika nama Reni disebut-sebut oleh Rani. Dengan tidak sabar ayahnya mengambil telepon yang tengah dipegang oleh Rani.
"Re kamu di mana semua orang sudah menunggumu di sini. Acara akan segera dimulai." kata ayahnya gugup.
"Maaf yah aku tidak bisa," putusnya setelah lama ia menimbang-nimbang.
"Tidak ada cara lain Re," katanya lemas. "Kalau lima jam lagi kamu tidak pulang acara ini akan tetap ayah lanjutkan dan adikmu yang akan menggantikan posisimu," ayahnya mengancam.
"Rani ?" Reni masih melongo kaget.
Terdengar bunyi tut tut tut telepon telah terputus. Percuma saja Reni berteriak memanggil nama ayahnya. "Kenapa harus Rani yah batalkan saja pernikahannya kalau Reni tidak mau," sanggah Rani.
"Ayah bisa malu kalau acara ini dibatalkan Ran, dan jalan satu-satunya hanya kamu yang menggantikan jika kakakmu tidak juga datang," jelas ayahnya.
"Menurut ayah Rani mau gitu?" tanyanya sengit.
"Jangan seperti Reni kamu Ran." suara ayahnya meninggi.
"Jangan korbankan Rani yah," seru Reni yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka. semua yang ada di tempat itu kaget melihatnya. Ayahnya mendesak agar acaranya cepat di laksanakan takut jika Reni akan kabur lagi.
"Re kesini tidak untuk menikah yah. Re tidak ingin melihat Rani menjadi korban kerakusan ayah sama harta."
"Apa katamu ?" bentak ayahnya seraya melayangkan tangannya ke pipi Re.
"Ayah." Rani menghela ayahnya. Ia tidak mau ayahnya akan lebih marah dan terjadi pukulan yang berikutnya terhadap Reni. Ayahnya memberontak dan keduanya saling beradu pendapat.
"Iya iya Rani mau," akhirnya Rani menengahi perdebatan keduanya. "Tapi dengan satu syarat," lanjutnya.
"Ran kamu gila apa?" sergah Reni.
"Apa syaratnya Ran?" tanya ayahnya semangat.
"Jika Re benar-benar tidak mau dan ayah maunya Rani, Rani punya satu syarat buat Re. semua yang sebelumnya diberikan ibu harus menjadi milik Rani tanpa terkecuali," ancam Rani. Ia sama sekali tidak bermaksud demikian tetapi ia hanya mengancam agar Reni mengubah keputusannya. Dan ternyata Reni tidak mengubah keputusannya. Ia malah membenci adiknya karena dianggapnya Rani sama saja dengan ayahnya yang gila akan harta.
"Ambil saja semuanya Ran aku tidak menginginkannya. Jika kamu pikir aku mau menikah dengan dia karena kamu mengancamku seperti itu kamu salah. Baik Ran selamat berbahagia dengan lelaki pilihan ayah. Aku akan balik ke Yogya. Selamat tinggal Ran. Ayah."
Reni kembali tanpa membawa apapun. Ia meninggalkan Rani bersama ayahnya. Membiarkan Rani dipersunting oleh Randy yang sama sekali tidak diketahui bagaimana kelakuannya. Reni kembali meneruskan kuliahnya dengan biayanya sendiri. Ia tidak lagi menemui keluarganya.
***
Rani tidak bisa bekerja, sekarang menjadi janda muda yang tak terurus. Seminggu setelah pernikahannya dengan Randy ia diceraikan. Sedangkan ayahnya di PHK dari perusahaan.
Nur hidayah
Minggu, 13 Juni 2010
artikel by Kg.Anas ASa
Awal bulan mei 2010 lalu, kelompok gabungan peneliti Cina, Hongkong, dan Turki merilis sebuah video yang berisi gambar para peneliti memasuki sebuah goa di kaki gunung Ararat Turki, yang di dalam goa tersebut semua dindingnya terbuat dari bahan kayu. Diduga usia kayu itu berkisar sekitar 100.000 tahun. Penelitian ini merupakan tindak lanjut dari dugaan-dugaan bahwa di kaki gunung Ararat tersebut terdapat artefak kapal.
Seperti kabar yang pernah dirilis oleh peneliti dari Kerajaan Turki tahun 1883, Kaisar Rusia tahun 1917, dan satelit Amerika Bolsey Taylor tahu 1995. Memberikan gambaran (foto-foto) mengenai adanya sebuah gumpalan mirip perahu atau kapal yang berada di kaki gunung Ararat. Gumpalan itulah yang diduga kuat The Great of Noah Ark (Kapal Nabi Nuh). Sehingga hasil penemuan dari peneliti Cina, Hongkong dan Turki ini menguatkan bahwa penemuan itu adalah benar dimungkinkan The Great of Noah Ark.
Sebagai orang Islam tentu kita meyakini kisah dari Nabi Nuh, kapalnya, dan bencana banjir besarnya. Hal ini diterangkan di dalam Al qur’an surat Hud ayat 37, Allah SWT befirman “Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan petunjuk wahyu kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan”. Kemudian mengenai banjir dijelaskan dalam Surat Hud ayat 40, “Hingga apabila perintah kami datang dan tanur telah memancarkan air, kami (Allah SWT) berfirman, ‘muatkanlah ke dalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan) sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu (Nuh) kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu dan (muatkan pula) orang yang beriman’. Ternyata orang-orang yang beriman yang bersama Nuh hanya sedikit”. Untuk kisah lengkapnya dapat dibaca di Surat Nuh dan sebagian surat Hud.
Tentu tidak ada keraguan bagi kita umat islam untuk meyakini dari kisah Nabi Nuh. Namun kisah yang telah ribuan tahun lalu terjadi kini disuguhkan kembali kepada kita dengan berupa penemuan sebuah artefak kapal yang sampai saat ini para peneliti tersebut sangat berkeyakinan bahwa itu adalah The Great of Noah Ark. Boleh percaya atau tidak kita terhadap penemuan dan klaim tersebut, kita umat islam harus tetap mengapresiasi hasil penelitian tersebut. Kita boleh saja tidak percaya dengan penemuan itu dengan berbagai macam pendapat. Namun setidaknya jika kita percayapun bukanlah sebuah kerugian bagi kita.
Jika benar artefak itu adalah The Great of Noah Ark maka suatu bukti kemahabesaran Allah SWT. Karena Ke Agungan Allah SWT Kita diberi kesempatan melihat bagaimana sisa-sisa dari kapal seorang nabi ulul azmi, nabi Nuh as. Dimana seorang nabi yang diberikan cobaan begitu besar dengan tidak pada beriman-imanya kaum bani Rasib (kaum nabi Nuh) padahal telah didakwahi selama 500 tahun. Dari sekian ribu kaum bani Rasib hanya beberapa glintir orang yang mau beriman. Hal inilah yang membuat sedih nabi Nuh sehingga mendoakan kaumnya yang tidak beriman untuk dimusnahkan dari muka bumi. Seperti yang tercantum dalah Surat Nuh ayat 26 yang artinya “Dan Nuh berkata ”Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi”. Tidak hanya percaya pada kisah nabi nuh nya, kalau kita sudah melihat beberapa foto-foto dan videonya kita akan kagum dengan The Great of Noah Ark ini. Sebab sulit untuk kita percayai pada masa nabi Nuh telah mampu membuat teknologi kapal yang begitu besar dan modern. Tentu jika kita tidak memiliki keimanan kita tidak akan meyakini keberadaan kapal tersebut.
Kalaupun penemuan The Great of Noah Ark bukan sebuah kebenaran, hal ini masih menjadi bukti ke Maha Besaraan Allah SWT dengan segala rahasia Nya. Dengan segala Ke Maha Pengetahun Nya, rahasia keberadaan kapal nabi Nuh belum bisa diungkap tentu menyimpan rahasia-rahasia besar dan mungkin sulit dicerna oleh pengetahuan manusia biasa. Hal ini menandakan bahwa manusia itu makhluk yang masih lemah dan hanya sedikit kecerdasan yang dimiliki. Sehingga tidak layak untuk menyombongkan diri dengan keilmuan yang dimiliki.
Percaya atau tidak dengan penemuan The Great of Noah Ark ini jangan lantas kita jadikan sebagai pemikiran dangkal yang dapat membuat perpecahan di kalangan kita, terutama sesama kalangan umat islam. Percaya atau tidak itu adalah hak masing-masing dan keyakinan masing-masing. Namun hal penting yang harus kita yakini adalah, bahwa ilmu pengetahuan yang dapat kita serap hanya secuil dari apa yang telah Allah SWT berikan. Sehingga jangan cepat berpuas dirilah kamu dalam mencari ilmu. Penemuan artefak kapal ini hanya sebagian kecil dari tanda-tanda kemahabesaran Allah. Dan jika mau mengetahui lebih dalam mengenai artefak kapal ini, maka carilah keteranga itu dengan ilmu yang kau punyai. Jadi, benarkah itu kapal nabi Nuh? Wallahu a’lam bishowabi. (by AsA).
Analisis Santri by Dian Afrianti
Oleh Dian A
Salah satu dari qaidah ushul fiqih disebutkan bahwa “kesukaran itu mendatangkan kemudahan”.
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-baqarah 185
Artinya:” Allah menghendaki kelonggaran bagimu dan tidak menghendaki kesempitan bagimu”
(al-baqarah: 185)
Dalam kaitannya dengan hal ini imam Syafi’i pernah memberikan jawaban sesuai dengan qaidah ini atas tiga pertanyaan yang berbeda-beda
1. Bagaimana status hukum seorang wanita yang tanpa wali bepergian diantar oleh laki-laki yang bukan muhrimnya. Dengan spontan beliau menjawab: “idza dhoqol-amru ittasa’a.”
2. Jawaban serupa juga diberikan kepada seseorang yang menanyakanbejana yang di buat dari tanah liat yang bercampur dengan najis apakah dapat dipakai sebagai tempat air wudlu atau tidak.
3. Tentang seekor lalat yang baru saja mendekap di kotoran. Lalu terbang dan hinggap di pakaian. Beliau menjawab: tidak mengapa jika waktu terbangnya memungkinkan kedua kakinya menjadi kering karenanya.
Dari kaidah ini menjadi sumber adanya bermacam-macam rukhsah (kemurahan) dalam melaksanakan syariat.
Contohnya:
1. Kesulitan seseorang menjalankan sholat dengan berdiri, memberikan padanya keringanan untuk duduk. Bila keringanan ini masih dirasa berat maka boleh dilakukan dengan berbaring. Dan bila keringanan itu masih merupakan keberatan keberatan, ia diizinkan sholat dengan mengerdipkan mata saja.
2. Bila seseorang sulit menghindari najis darah nyamuk yang melekat pada pakaiannya atau percikan air di jalanan akibat hujan yang memercik pada celanaya, maka ia di maafkan sholat dengan pakaian tersebut.
3. Diperkenankan bertatap muka dengan wanita yang bukan muhrimnya dalam keperluan melamar, memberikan pelajaran, persaksian, pengobatan dan lain sebagainya. Sebab akan menjadi kesulitan perbuatan tersebut dilakukan dengan tanpa bertatap muka.
4. Orang yang akan meninggal dunia diperkenankan mewsasiatkan seprtiga harta peninggalannya kepada siapa saja yang dikehendakinya untuk menambah amal taqarrubnya. Andaikata ia tidak diberi batasan maksimal sepertiga harta peninggalannya, maka hal itu akan menimbulkan kesulitan ekonomi bagi ahli waris yang berhak menerimanya. Apalagi kalau mereka sangat membutuhkannya.
Sebab-sebab timbulnya keringanan
Setelah mengadakan penelitian secara mendalam para ulama ahli ushul menemukan sebab-sebab timbulnya keringanan itu, yakni:
a. Bepergian
b. Sakit
c. Terpaksa
d. Lupa
e. Kebodohan
f. Kurang mampu
g. Kesukaran umum
Kaidah-kaidah yang berkaitan dengan kemurahan
Ada dua macam kaidah yang erat hubungannya dengan kemurahan,
1. Rukhsah-rukhsah itu tidak boleh dihubungkan dengan kemaksiatan
Mengerjakan maksiat dilarang oleh syariat. Tuntunan itu sangat kuat sehingga hampir tidak ada jalan untuk memperingankannya. Padahal keringanan itu sendiri pada hakikatnya adalah suatu kelonggaran dalam menjalankan perintah syariat. Karena itu tidak logis jika dalam mengerjakan maksiat diberi kelonggaran demi tercapainya suatu kemaksiatan yang justru harus dihindarinya.
Orang yang sedang bepergian untuk merampok atau mencuri, sekalipun jarak perjalanannya sudah memenuhi syarat diperkenankannya rukhsah, maka tidaklah diperkenankan kemurahan-kemurahan dalam bepergian
Bepergian untuk maksiat berbeda dengan maksiat dalam bepergian. Seorang istri pergi karena purik (nusuz) dari suaminya atau seseorang yang pergi untuk membunuh kawannya adalah bepergian untuk maksiat. Selama kepergiannya bersifat semacam itu , ia dilarang menjalankan rukhsah. Sedangkan jika seseorang bepergian mubah, kemudian dalam perjalanan itu ia melakukan maksiat, maka ia dikatakan menjalankan maksiat di dalam bepergian. Karena itu ia diperbolehkan melekukan rukhsoh bepergian.
2. Rukhsah-rukhsah itu tidak disangkutpautkan dengan keraguan
Misalnya, apabila seseorang raguapakah kepergiannya itutelah memenuhi syarat untuk menqashar sholat atau belum, maka ia harus menjalankan sholat secara sempurna, tidak boleh menqasharnya. Sebab menurut asalnya ia harus menyempurnakan sholat. Sedang qashar itu diperbolehkan apabila telah memenuhi syarat-syaratnya. Padahal syarat-syarat tersebut diragukannya.
Wallahu a’lam bisshowab....
Sumber: Dasar-dasar pembinaan hukum fiqih islami, ushul fiqih
Minggu, 23 Mei 2010
cerpen by wahyu ameer
Bapak tak pernah tahu kalau sebenarnya ada yang aneh dengan anak bungsunya. Begitu pula dengan adik-adikku yang lain, tak sedikit pun terbesit dalam pengamatan mereka ada hal yang janggal dengan tingkah laku Lastri. Seno dan Agung tak menyadari perbedaan sosok Lastri dengan perempuan sebayanya. Perbedaan yang begitu parahnya bagiku.
Adik perempuanku tak pernah mau memakai BH. Tak ada lapisan bedak di pipinya seperti wanita muda pada umumnya. Ia tak peduli lagi dengan penampilannya. Diam-diam aku tahu isi lemarinya sudah tak ada lagi rok, gaun, atau pula kebaya. Hanya ada jeans, celana pendek, dan bertumpuk-tumpuk kaos. Di meja riasnya pun tak kujumpai ada wewangian yang beraroma feminim. Gincu pun tak ada. Puntung rokok berserakan di lantai. Seprai dibiarkannya tak rapi. Bahkan sesekali kutemukan sebotol kecil minuman keras yang merknya asing bagiku. Suasana kamarnya awut-awutan.
Pernah aku melihat Lastri memanjat pohon kelapa. Astaga, pikirku. Pohon kelapa setinggi tujuh meter dipanjat gadis dua-puluh tahun. Aku sendiri pun bergidik bila disuruh menatap lantai dasar saat berada di balkon. Seperti lelaki saja ulah Lastri.
Saban bakda magrib, ia telah melenggang hilang dari rumah. Kata bapak ia bekerja shift malam di swalayan yang buka dua-puluh empat jam nonstop. Bagiku itu konyol. Memangnya tidak ada kerjaan lain, selain jaga malam. Pakaiannya pun menurutku tidak menunjukkan kalau dia seorang karyawan. Lebih pantas disebut mau dugem. Aku menangkap tanda kalau ia hanya kelayapan saja.
Bukannya aku tak sependapat jika zaman sekarang perempuan bisa sederajat dengan laki-laki. Tapi bukan untuk urusan kodrat, bukan? Aku paham, bukan saatnya perempuan terkungkung dalam rumah. Tahunya Cuma dapur, sumur, dan kasur. Kali ini berbeda. Lastri tak mau lagi menamai dirinya perempuan. Ia tak mau disebut sebagai seorang hawa. Hingga saat ini pun ia tak mau membuat KTP meski usianya sudah cukup. Sebab ia tahu petugas kecamatan akan menyodorinya formulir yang berisi pilihan jenis kelamin. Laki-laki atau perempuan. Itu akan menyinggung perasaannya.
Aku pun maklum dan tak mau memojokkan Lastri. Ia kubiarkan bebas pada prinsipnya itu. Jika ada yang aku sayangkan, yang mungkin juga akan disesali ibu, karena belum sempat melihat adik terkecilku menikah. Mendapat seorang pasangan hidup yang mampu menyayanginya lahir maupun batin. Berumah tangga dengan laki-laki yang bertanggung jawab pada keluarga. Tapi barangkali jika ibu mengetahui keadaan Lastri seperti sekarang ini, aku tak bisa membayangkan betapa kecewanya ibu pada Lastri. Untungnya cuma aku saja yang memperhatikan tingkah polah anehnya. Kalau bapak menyadarinya bisa kumat mendadak darah tinggi beliau. Seno dan Agung, yang aku paham keduanya amat temperamen, akan tega mereka memaki Lastri habis-habisan. Pasti sudah sangat malu mereka.
Bercak-bercak cahaya keemasan menempel di dinding, menembus pori-pori ventilasi ruang tamu. Menandakan senja telah datang ke tempat kami tanpa ungkapan permisi terlebih dahulu. Tanah di halaman menjadi gembur akibat ulah nakal hujan mengguyur siang tadi tiada ampun. Masih tersisa tetesan-tetesan kecil di antara rimbun daun jambu air yang menjalar rantingnya kemana-mana. Sore; Indahnya bisa aku rasakan ketika saat itu juga aku membayangkan ibu masih berkumpul bersama kami. Lastri akan begitu senangnya duduk di samping ibu. Meski hanya duduk di beranda memandangi orang-orang berseliweran. Suasana seperti itu begitu membuatku kangen. Ah, aku rindu keluargaku yang utuh. Semenjak wafatnya ibu (ketika itu umur Lastri tujuh tahun) cuma Lastri satu-satunya perempuan di keluarga ini. Semoga ibu tenang di alam sana.
Pekarangan telah tak tampak seperti dulu. Bunga-bunga matahari yang dulu ditanam ibu kini berubah menjadi ilalang dan rerumputan menjulang berlomba-lomba membuktikan diri yang tertinggi. Mawar putih dan merah hanya terlihat batang berdurinya yang kurus kering. Dipan bambu buatan bapak sudah tak segagah dulu. Pikiranku tak lagi di Surabaya. Aku tinggalkan anak-anak dan istriku di sana, di rumah mertuaku. Dua bulan ini aku silang tugas dengan rekanku. Sebenarnya, sebelum aku mendapat tugas di kampung halamanku ini, aku akan di tempatkan di Makasar. Kebetulan ada salah satu teman orang Manado yang mau bertukar tempat denganku. Atasanku menyetujuinya. Jadilah aku bertugas sambil tengok keluarga.
Terlintas begitu saja di benakku untuk mengambil sebatang rokok kretek yang sejak tadi pagi mengerami kantong bajuku. Pantas saja mulutku terasa hambar. Rupanya seharian ini tak satu pun rokok tersulut di bibirku. Kusulut satu. Asap putih mengepul. Plong rasanya. Rokok memang teman ternikmat untuk melayangkan pikiran.
“Surya”.
Suara bapak membuyarkan imaji-imaji dalam pikiranku. Diletakkannya sepiring pisang goreng di samping tempatku duduk melamun. Bapak duduk juga di sebelah piring tersebut. Ikut pula memandangi pagar dan lalu lalang anak-anak kampung yang bergegas menuju Langgar. Usianya yang telah menyongsong senja tertutupi oleh keriput di wajah. Rambutnya tampak seperti guratan salju yang putih. Jika disuruh membuat daftar orang-orang yang aku kagumi di dunia ini, bapak akan kutempatkan pada temapat terdepan. Beliau sosok yang amat demokratis. Membebaskan putra-putrinya mencari jati diri masing-masing.
Di masa tangguhnya pemerintahan orde baru, aku sering bersitegang dengan ibu karena menolak mengikuti partai yang bapak anut saat itu. Maklum saja saat itu bapak bekerja sebagai pegawai negeri rendahan yang ditekan agar mengikuti partai yang dianut pula oleh atasannya. Gejolak muda yang dipenuhi idealisme tinggi membuatku kokoh pada peran rasa anti diktator. Aku tetap tak mau mengikuti partai bapak. Ibu pun mengancamku tidak akan membiayai kuliahku jika aku tetap pada pendirianku. Namun bapak dengan mudahnya memberi jalan tengah. Beliau tetap menjamin kuliahku, begitu juga dengan idealismeku. Dengan satu syarat agar aku tetap memperjuangkan ideologi yang aku junjung tidak setengah-setengah.
Kesempatan yang diberikan bapak tidak kusia-siakan. Dan hasilnya, tahun 1998 telah tercatat dalam sejarah Indonesia sebuah perubahan besar yang pernah ada di negeri ini. Kekuatan yang mampu menggulingkan keotoriteran penguasa. Bersatu dari penjuru negeri ini meski ada beberapa teman kami yang menjadi tumbal. Meskipun perjuangan itu seakan bagai mencabuti ilalang. Satu musnah, lalu muncul yang lainnya. Justru yang lain inilah yang membunuh rakyat pelan-pelan. Sebab di luarnya mereka tampak mengangung-agungkan aspirasi kaum papa. Pada kenyataannya mereka sendiri yang menjadi racun arsenik, tanpa rasa, tanpa bau, tetapi mematikan.
Bapak terlihat meluap-luap seolah hendak mengungkapkan sesuatu.
“Adik perempuanmu….”, Bapak memulai pembicaraan.
“Ada apa dengan Lastri?” Tanyaku datar.
“Lamaran si Sodik anak Haji Sarkum ditolaknya, Bapak jadi semakin bingung, lelaki seperti apa yang diinginkan adikmu itu, yang kaya tak mau, yang tampan berpendidikan pun tak mau pula”. Ungkap bapak.
“Bapak paling tidak bisa jika harus memaksa Lastri, kamu tentu paham apa yang bapak maksudkan”, sambung bapak.
Suatu kali bapak juga pernah bercerita tentang lamaran-lamaran pemuda kampung. Namun tanpa cang-cing-cong ditolak pula oleh Lastri. Lamaran Sodik adalah dari kesekian kalinya yang kembali ditolaknya. Kuakui paras adikku memang lumayan cantik. Hidungnya seperti hidung ibu, mungil tapi mancung. Matanya tampak teduh dengan bola mata yang hitam. Tingginya pun lumayan. Kulitnya juga putih bersih. Banyak lelaki kampung yang tergila padanya.
Untuk ukuran pemuda yang akan berkeluarga kurasa Sodik cukup dalam hal kematangan materi. Sebagai seorang kepala kantor transmigrasi pasti terpenuhilah gajinya untuk membiayai keluarganya. Lebih-lebih ia sebagai pewaris tunggal berhektar-hektar sawah ladang Haji Sarkum. Tampang tak mengecewakan. Jebolan pesantren pula. Kurang apalagi pada diri seorang Sodik. Tapi mau bagaimana lagi, Lastri tetap menolak pinangannya. Dibujuk seperti apapun ia tetap keras kepala. Kelihatannya tidak ada niat dalam diri Lastri untuk menikah. Bahkan yang aku tahu tegur sapa dengan laki-laki di luar rumah ini pun kalau terpaksa. Apa aku harus membiarkan ia jadi perawan tua.
Saat upacara tedak-siten anakku yang pertama. Aku pernah berusaha meminta bapak membujuk Lastri turut serta ke Surabaya. Niatku mengenalkannya dengan saudara jauh istriku, putra sulung pengusaha tekstil dari Tuban. Siapa tahu hatinya agak lunak. Tetap saja hasilnya percuma.
Dengan segala keanehan tingkah polah Lastri aku tetap mencoba tak memusingkan diri. Aku hanya khawatir dengan bapak. Aku tak mau bapak bertambah beban pikiran di usia pensiunnya. Semoga saja Lastri tidak melakukan hal yang macam-macam, yang mungkin akan membuat gempar keluarga ini. Tapi mengapa harus aku duluan yang menyadarinya. Dan mengapa hatiku selalu menolak tiap ingin merembug masalah ini dengan Bapak. Tak munafik. Aku pun malu jika sanak-saudara lainnya tahu. Jika aku malu, lalu bapak akan seperti apa. Disingkirkan dari keluarga besar kakek mugkin. Entah.
Inikah zaman modern itu. Zaman yang telah berlari jauh sekali. Hingga jarum jam di segala sudut bumi seperti terlalu bernafsu mengejar waktu. Sampai-sampai melewatkan masa-masa adikku mengenal kodratnya sebagai perempuan. Dan sialnya, adikku tak mau sejengkal pun berusaha, sekalipun menyeret langkah. Hanya menunggu sang waktu membalikkan keadaan.
Ketenangan rumah ini sempat terpecah kala suara lantang Lastri begitu kerasnya kepada bapak.
“Aku tidak mau menikah!” katanya suatu kali,
“Kubilang berulangkali kalian tetap saja memaksaku. Tidak dengan Fajar, Ari, Sodik, atau tidak pun dengan laki-laki yang lain, mereka itu anjing!” Begitulah Lastri menjawab dengan kerasnya.
“Persetan semuanya!”
Bapak menghela nafas.
Petang itu menjadi petang terakhir Lastri di rumah. Kepergiannya yang tiba-tiba menjadi beban bagi bapak. Apalagi dia satu-satunya anak perempuan bapak. Telah kuhubungi teman-temannya, tak ada satu pun yang tahu keberadaannya. Tindakan nekatnya ini membuatku semakin bingung. Akibatnya kepulanganku ke Surabaya aku tangguhkan paling tidak hingga Lastri ketemu . Atau mungkin jika bosku merasa tak nyaman karena aku meninggalkan kerjaan maka paling lama aku di rumah hingga beberapa hari lagi saja.
Telah kutanyakan pada teman-temannya, tapi tak ada satu pun yang tahu. Lantas ke mana Lastri selama ini. Tiap kali Bapak tanya hasilnya, aku cuma bisa menggeleng. Agaknya ancaman yang dilontarkannnya kala itu benar-benar ia lakukan. Ia minggat tanpa ada satu pun yang tahu kapan dan kemana perginya.
Azan isya’ memenuhi angkasa. Dedaunan berbincang-bincang dengan angin, membicarakan cerita seorang bocah yang tadi pagi memaksanya mematahkan ranting. Sang bocah terjatuh saat salah berpijak pada kayu rapuh. Mereka tertawa berderai hingga mengaburkan burung gereja yang bertengger kelelahan. Ah masa bodo. Ingin rasanya kubelokkan pikiranku barang sesaat saja. Tak perlu ada lastri dalam pikiranku, bahkan kalau bisa bapak juga tak usah ikut-ikutan hadir dalam pikiranku. Tiap aku berusaha melenyapkan mereka dalam bayang-bayangku, maka akan muncul bayang-bayang lainnya. Tentang istri dan anakku di Surabaya, juga tentang kerjaanku yang kutinggalkan. Biarlah sejenak saja kulupakan semua itu.
Orang-orang berjalan beriringan mengumandangkan kalimat yang mengagungkan Tuhan. Langit terlapis awan seperti serpihan yang berserakan, tak rela jika Bapak harus tersengat matahari di hari yang menghantarkannya ke peraduan yang terakhir. Semua begitu cepat terjadi. Dayaku telah tiada di hari ini, entah kekuatan mana yang telah membuatku mampu menelapak. Bahu kananku terus saja memikul keranda. Pandangan mata seolah menarik tubuhku hingga tak terasa jika aku telah bergerak maju.
Kata Agung, sejak malam itu Bapak sakit keras. Bapak juga sangat kecewa atas kepergian Lastri. Beliau terus-menerus memikirkan Lastri yang tak jelas ke mana. Kesehatannya pun tak diperhatikan. Suatu kali tatkala Agung berpikir hari telah siang tapi Bapak belum bangun juga, maka ia membangunkan Bapak. Ia heran tangan Bapak terasa dingin. Juga tak terdengar dengkurannya. Ia tak merasakan nadi yang berkedut di pergelangan tangan Bapak. Setelah beberapa kali tangan Agung menepuk-nepuk paha Bapak, tak kunjung ada gerakan. Ia goyang-goyangkan tubuh Bapak yang telah terpejam, tapi sama saja. Lantas ia tahu Bapak telah tak lagi bernyawa. Bahwa itu adalah babak terakhir Bapak berada di dunia.
Pemakaman telah sesak dipenuhi warga dan kerabat yang turut mengantarkan jenazah Bapak. Kulihat liang tanah merah telah tergali. Dengan pasrah kuraihkan tubuh Bapak pada Seno yang telah berdiri siap dalam lubang itu.
Modin telah selesai memimpin do’a. Kuamati orang-orang di sekelilingku. Tampak tak pernah kukenal. Mereka melenggang pulang seusai upacara pemakaman.
Di rumah masih terdengar bacaan surah Yasin. Juga ada beberapa tetangga yang turut membantu menata kembali kursi. Kini ingatanku terbentang pada apa yang kulihat tadi. Di antara kerumunan kulihat seorang pemuda. Bukan pemuda tapi ibu. Bukan juga ibu tapi Lastri. Lastri yang telah serupa dengan laki-laki. Lastri yang tampan telah berdiri mengamati prosesi pemakaman Bapak dari kejauhan.
(Jepara, Februari 2010)
Muhammad Wahyu Amiruddin (Wahyu Ameer). Lahir di Jepara, 24 Juni 1989. Alamat Sekarang di Ponpes Durrotu Aswaja, Banaran,Gunungpati, Semarang. Masih kuliah di Universitas Negeri Semarang Prodi Sastra Indonesia. Pengalaman Kepenulisan Juara Tiga Lomba Cerpen Islami Rohis Kalimasada Semarang, Lima terbaik puisi pilihan Jateng. Aktif di Komunitas Kalam Semarang.aktif menulis di majalah annida. pegiat komunitas Kalimasada Semarang.
Sabtu, 08 Mei 2010
lingustik
Bahasa merupakan suatu keunikan yag sering tidak kita sadari. Pernahkah kita bertanya, misalnya, mengapa benda yang kita duduki dinamakan kursi, orang yang mengeluarkan airmata dinamakan menangis, dan binatang yang merayap di dinding dan memakan nyamuk dinamakan cicak. Lalu pernahkah kita bertanya sekali lagi, siapa tokoh yang menciptakan penamaan tersebut? Yang jelas, terciptanya bahasa bukan karena jasa perorangan. Bahasa terbentuk salah satunya karena adanya konvensi antar manusia yang menuturkan bahasa tersebut. Konvensi atau kesepakatan tersebut mengakibatkan penamaan terhadap apa yang ada di sekitarnya. Bahasa juga terbentuk melalui tiruan bunyi. Misalnya kata “tokek”, kata tersebut berasal dari bunyi yang dikeluarkan oleh binatang yang merayap di dinding yang besarnya melebihi cicak, dan berbentuk seperti kadal. Penamaan karena adanya peniruan bunyi tersebut dalam ilmu bahasa dinamakan onomatope. Banyak kita dapat kata-kata yang berasal dari onomatope, contohnya “meringkik”, “mencebur” , dan lainnya.
Dalam perkembangannya bahasa telah melalui banyak kajian para linguis. Maka para linguis merumuskan aturan-aturan standar dalam penggunaan bahasa yang sesuai dengan makna, grammar dan konteksnya. Namun, karena kurangnya pengetahuan yang mendalam penutur bahasa tersebut, sering terjadi pula kesalahan-kesalahan yang menjadi biasa.
……………
Saat Aku mencoba
merubah segalanya,
saat aku meratapi kekalahanku
……………
Kalimat di atas merupakan penggalan lagu yang berjudul Merindukanmu yang dipopulerkan grup musik D’Massive. Sekilas, kita tidak menyadari bahwa syair yang kita dengar ini tidak ada yang aneh. Hal ini mungkin karena iramanya yang mudah dicerna otak sehingga kita tidak perlu memusingkan diri benar atau salah segi semantik dan gramatikalnya. Namun jika kita mau teliti dan sedikit menganalisis terhadap syair tersebut, akan ada hal yang menarik yang bisa kita ungkap. Sesuatu yang “salah” tetapi malah dianggap wajar oleh penutur atau mitra tutur.
Hal yang sama pula terdapat pada penggalan lagu yang dipopulerkan Once, vokalis Dewa, yang berjudul Aku Mau, berikut petikan lagunya.
Kau boleh acuhkan diriku,
Dan anggapku tak ada
Tapi tak kan merubah perasaanku, kepadamu
……………..
Kita mungkin tidak mau ambil pusing terhadap apa yang kita dengar. Kita pun terkadang tidak mempersoalkannya. Lebih-lebih kita hanya sebagai pendengar yang hanya menikmati tanpa sedikit pun sikap kritis. Justru mulai dari sikap itulah, sesuatu yang sebenarnya salah akan menjadi hal yang wajar dan seolah-olah benar. Dalam masyarakat umum hal tersebut dinamakan “salah kaprah”
Mari kita teliti sekilas petikan lagu di atas!
Kata merubah yang diinginkan pengarang, dimaksudkan kepada proses menjadikan suatu hal menjadi hal yang berbeda. Secara gramatikal memang tidak salah. Akan tetapi dari segi semantik (makna) kata merubah sebenarnya berasal dari kata dasar rubah mendapat awalan me-, yang menyatakan arti menyerupai yang terdapat pada kata dasar. Dalam pemaknaan kata tersebut yaitu menyerupai rubah. Sedangkan kata mengubah berasal dari kata dasar ubah yang mendapat imbuhan prefiks (awalan) yang sama yaitu me-. Awalan me- pada verba (kata kerja) ubah mengalami nasalisasi (perubahan bunyi sengau) menjadi meng-. Makna kata mengubah yaitu melakukan perbuatan yang dinyatakan oleh kata dasar.
Dari segi kelas kata dasarnya pun berbeda. Kata merubah berasal dari kelas kata nomina atau sering disebut kata benda, sedangkan mengubah berasal dari kelas kata verba atau kata kerja. Ditinjau dalam susunan pola kalimat, kata merubah merupakan verba intransitif (tidak membutuhkan objek dalam kalimat). Misalnya kalimat, Andi akan merubah. Andi sebagi subjek, akan merupakan atribut kalimat, dan merubah adalah predikat verba intransitif. Berbeda halnya dengan Andi mengubah wajah. Kalimat tersebut berpola SPO. Andi sebagai subjek, mengubah merupakan predikat verba transitif, dan wajah merupakan objek kalimat.
Jadi, kata merubah yang digunakan dalam lagu tersebut kurang tepat pemakaiannya. Sebab arti kata merubah ialah menjadikan sesuatu menyerupai rubah (binatang rubah). Seharusnya pengarang lagu tersebut menggunakan kata mengubah yang berarti melakukan perbuatan sesuai kata dasar ubah. Sehingga antara maksud pengarang lagu, diksi (pilihan kata), dan pemaknaan pendengar dapat sesuai, seimbang dan tidak terjadi salah tafsir.
Memang, tidak ada aturan yang pokok mengenai tata penggunaan bahasa dalam sebuah syair. Kita tidak bisa pula serta merta menyalahkan sebab lagu pada hakikatnya adalah sebuah puisi populer yang berisi irama. Sehingga asas licentia poetika sah-sah saja jika digunakan dalam lagu. Namun, jika kata yang “salah” tersebut sudah dianggap benar oleh penutur bahasa secara umum maka mungkin saja hal tersebut akan menjadi hal yang berkesinambungan. Masyarakat pun akan menilai bahwa sesuatu yang umum mereka tahu adalah sasuatu yang benar.
Oleh karena itu, pendengar atau penikmat musik Indonesia agar lebih bijak dan teliti terhadap lagu-lagu dalam negeri. Jangan sampai kekayaan daya kreatif musisi kita justru merusak tatanan bahasa Indonesia.
*)oleh Kang Wahyu Ameer
sastra
NAHWU
Apakah kau tahu tentang mubtada'
Tulisan arab yang tiada jelas
Tak berharkah tak bermakna
Mangapa kau bisa membacanya
Bukankah itu hal yang tak mudah
Kenapa kalimat ini bisa dibaca seperti itu kawan
Hah,
Atau mungkin kau hanya asal membaca
Biar dikira kau orang pintar berbahasa arab
Tahu apa kau tentang bahasa arab
Aku tak pernah tahu tulisan itu bisa dibaca
Mengerti apa kau tentang kalimat
Kau bilang itu ilmu nahwu
Apa itu nahwu?
Aku tak pernah mendengar ilmu semacam itu
Ha, ha, ha,
Ilmu yang kutahu hanyalah ilmu matematika, fisika, kimia, bahasa, sejarah dan ilmu-ilmu lain yang sejak nenek moyang kita menemukan itu
Nahwu,
Kutak mengerti ilmu semacam apa itu
Tidak Mudah
Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tidaklah kau, tidaklah dia, tidaklah diriku pula.
Semua hanyalah suatu titipan belaka. Tidak nyawa, tidak raga, tidak jasad, dan tidak semua apa yang kita miliki. Semua hanyalah sesuatu yang nantinya akan kita tinggalkan
Kepintaran, kedigjayaan, kekuasaan, dan kemewahan bukanlah kepunyaan kita.
Bumi yang selama ini kita singgahi, hanyalah tempat kita merenung, tempat kita menanam, dan tempat kita menuai kebaikan dunia.
Bukanlah suatu kemudahan untuk menjadi orang yang mendekati sempurna, yaitu manusia yang bijak, derma, putih hati, polos budi, dan semua kebaikan-kebaikan yang kelak kita raih
Banyak hal yang harus kita kerjakan, kita laksanakan, kita tunaikan , dan kita jalankan.
Kumemang sulit merubah diri, merubah sikap, merubah, penampilan, dan merubah semua kenegatifan di dalam raga yang melekat.
Tidaklah mudah
Tidaklah mudah merubah dunia semudah membalikkan telapak tangan
Tidaklah mudah merubah keadaan menjadi lebih baik, karena begitu banyak noda-noda yang melekat dalam kehidupan, virus-virus yang tumbuh dalam kelakuan
Tidak mudah
KENAPA DENGAN DIRIKU
Kutahu memang tak sehat
Kuakui memang sakit
Beragam cara tuk sembuh ku tempuh
Beraneka upaya tuk meraih sehat kujalani
Mungkin nodaku sungguh melimpah
Tentu dosaku begitu meruah
Mungkin salahku tak hingga
Tapi kenapa dengan diriku
Dalam sakit ku masih
Penyakit yang menggerogotiku belum sadarkan
Sakitku belum buatku bangkit dari gelimangan kekotoran
Kenapa dengan diriku
Sakit pun masih bermaksiat
Belum bisa bertaubat
Belum bersyukur atas nikmat
Kenapa dengan diriku
Otak yang seharusnya bersih kini telah kotor
Dengan otak kulakukan kekejian
Dengan pikiran kujalani kenistaan
Kenapa dengan diriku
Otak yang seharusnya s’lalu mengingat-Mu
kini teracuni pikiran-pikiran kotor yang Kau murkai
Masih pantaskah kudapati nikmat-Mu
Ku ini kenapa
Setan begitu mudah merasuki kalbuku
Bisikannya kuat hingga menghantam lubukkku
Tiada kuasa menampik bujuknya
Kenapa dengan diriku
*) Oleh. SAIFUSSALAM
artikel bebas
Wisata Sejarah Di Kediaman Kartini
Selama ini sedikit yang mengetahui jika kediaman Kartini ternyata berada di kawasan Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Jepara. Bahkan warga Jepara sendiri pun tak banyak yang tahu. Letaknya dibelakang Pendopo Sekitar dua puluh meter ke selatan dari Kantor Setda atau sekitar lima menit berjalan kaki dari alun-alun menuju ke timur menyebrang jalan raya.
Kartini merupakan tokoh pahlawan emansipasi wanita di Indonesia. Hari kelahirannya pun (21 April) diperingati sebagai hari Kartini. Sosoknya tidak hanya dikenal di nusantara tetapi juga hingga Negeri Kincir Angin. Tokoh wanita progresif ini sempat mencengangkan khalayak dunia melalui buah pemikirannya yang tertuang dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.
Kartini, seorang wanita bangsawan Jawa yang lahir dari pasangan Raden Mas Semangun Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah. Ayahnya keturunan bangsawan menjabat sebagai Bupati Jepara, sedangkan ibunya seorang keturunan rakyat jelata, putri seorang kyai dari Desa Telukawur yang jaraknya kira-kira enam kilo meter ke arah selatan dari pusat kota Jepara.
Saat penulis mengikuti seminar Internasional mengenai Kartini yang diselenggarakan di pendopo Kabupaten Jepara, penulis berkesempatan diajak mengunjungi tempat tinggal Kartini. Di sana keutuhan perpaduan arsitektur Jawa dengan Belanda masih tampak asli. Memasuki tempat tersebut, sebelumnya dari pendopo melewati gebyok berukir motif bunga kita akan memasuki ruang penerima tamu yang banyak terpajang hiasan kayu dan kaligrafi berukir.
Setelah melewati ruang tersebut kita akan berada di ruang keluarga yang juga banyak terpajang benda-benda peninggalan Belanda, misalnya keramik dan perabotan lainnya. Selanjutnya, tempat Kartini mengajar wanita-wanita Bumiputera yaitu di teras belakang rumah. Bagian utara teras tersebut terdapat sumur yang berada di depan sebuah kamar yang dulunya merupakan kamar milik Mas Ajeng Ngasirah.
Masih banyak lagi lainnya yang menarik dari tempat tersebut. Namun patut disayangkan, sedikit yang mengetahui tempat tersebut adalah kediaman Kartini sebelum dipingit ke Rembang. Pemerintah setempat pun tidak melakukan sosialisasi pada masyarakat. Sehingga seolah tempat itu tidak terbuka untuk umum. Mengingat program nasional pada tahun 2010 ini adalah tahun kunjungan ke museum. Harapannya, jika tempat tersebut dijadikan objek wisata sejarah tentu mampu memberi pengetahuan yang lebih kepada masyarakat tentang peninggalan Kartini semasa hidup di Jepara.
oleh Wahyu Ameer