"Bobrok..." ungkap Reni lemas ketika tiba di depan rumahnya. Setelah berjam-jam menempuh perjalanan Yogya Semarang, iapun sampai di tempat yang tak ingin lagi disinggahinya itu. Dengan langkah gontai Reni memasuki pelataran rumahnya. Disana ia bermain ayunan bersama ibunya. Berlarian bersama ayahnya.
"Sungguh bobrok..." sekali lagi ia menguatkan pernyataannya seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Ungkapan itu sering ia katakan setiap kali ia melihat rumahnya. Bukan karena bentuk fisiknya yang reot, bukan karena kondisinya yang seperti sarang laba-laba. Rumahnya berdiri sangat kokoh dan sama sekali tidak ada tanda-tanda akan roboh. Rumahnya juga bersih terawat setiap hari, bahkan didesain oleh arsitek terkemuka. Rumahnya terbilang sempurna. Tetapi kata bobrok itu adalah kata yang menurut Reni pantas untuk menyebut rumahnya.
Setelah kepergian ibunya dua tahun yang lalu jalan hidupnya telah melenceng dari skenario yang telah digariskan oleh Tuhan. Roda kehidupan terus berputar, musimpun telah berganti. Tuhan telah mengambil ibunya terlebih dahulu. Tidak ada lagi kasih sayang seorang ibu apalagi seorang ayah. Ayahnya jadi sering pulang malam dalam keadaan mabuk bahkan membawa perempuan ke rumah. Reni sebagai anak tertua selalu menegur ayahnya tetapi selalu saja berahir dengan pertengkaran. Pepatah mengatakan "Rumahku Surgaku" tetapi bagi Reni pepatah itu sudah direvisi menjadi rumahku nerakaku.
Keburukan ayahnya mereda setelah menikahinya. Perempuan yang pernah mengumpat mencari ayahnya untuk meminta pertanggungjawaban. Perempuan itulah yang telah merenggut seluruh cinta ayahnya. Sikapnya tak lagi penyayang seperti ketika masih bersama istrinya yang dulu. Reni menjadi tidak betah berlama-lama bersama mereka. Sering kali ia pulang malam. Memberontak. Berbeda dengan Rani, adik satu-satunya yang Umurnya hanya selisih satu tahun dengan Re. Ia sangat penurut.
***
Hari ini Reni kembali ke rumah ini, tempat yang dulu menjadi buku hariannya selama tujuh belas tahun. tempat yang mengajarkannya banyak hal. Dari kebahagiaan hingga kesedihan. Semua itu ia jadikan sebagai bekal hidupnya. Hidup yang ia pilih bersama sepi tanpa kasih sayang. Hidup yang sempat ditentang oleh ayahnya.
"Untuk apa jauh-jauh ke Yogya di Semarang juga banyak universitas yang bagus dan berkualitas," tiba-tiba Re teringat kembali protes ayahnya saat Re mengutarakan keinginannya untuk kuliah di Yogya.
"Tapi Re pengennya di Yogya !" suaranya meninggi. "Tidak betah di Semarang," lanjutnya dengan nada yang sangat sinis.
Tanpa menunggu apa yang akan dikatakan ayahnya Re langsung melenggang pergi.
"Reeee..." teriak Rani setelah melihat kakak satu-satunya tiba-tiba sudah ada di depan pintu rumah. Ia langsung menghambur memeluknya. Rani tidak sabar lagi ingin seperti dulu. Saling bercerita, berbagi pendapat dan berkeluh kesah tentang hidup mereka sekarang. setelah setahun lebih dipisahkan oleh jarak antara semarang Yogya.
"Capek banget Ran," Reni menghempaskan tubuhnya di sofa panjang. Seperti yang ia lakukan dulu setelah pulang sekolah dan selalu ada yang bisa mengusir rasa capek, ibunya selalu membuatkan jus alpukat kesukaannya. Lalu sekarang.
"Dimana perempuan itu Ran ?" Re mengingatnya.
Rani hanya mengangkat bahunya tidak tahu. "Buat Rani mana Ren ?" katanya sambil membongkar tas kakaknya.
"Ayah ?" tanya Re lagi.
"Ayah marah-marah Re, kamu sih nggak pulang-pulang."
"kenapa kangen ya ?" jawab Re datar "Apa benar ayahnya kangen ?" gumamnya dalam hati.
"Siapa juga yang kangen sama kamu. sebulan yang lalu ayah kedatangan tamu."
"Maksudmu datang bulan ?" mereka sama-sama tertawa. Sudah lama mereka tidak sebahagia ini.
"Tamu itu bakal jadi kakak iparmu Ran." sela ayah mereka yang sudah ada di dekat mereka. Tawa mereka serentak berhenti.
"kakak iparku ?" tanya Rani kaget.
"Maksud ayah apa ?" tanya Re tak kalah kagetnya. Reni berdiri menahan marah.
"Bosnya ayah melamar kamu untuk anaknya," jawab ayahnya tenang.
"Jadi karena ini ayah nyuruh Reni pulang ? Kenapa tidak bilang dulu sama Reni ?" Reni kesal. "Tidak Reni tidak mau." Reni berbalik dan membanting pintu kamarnya yang bersebalahan dengan ruang tamu.
***
Pagi-pagi sekali Reni mengemasi barang-barang bawaan yang sama sekali tidak disentuhnya sejak kemarin. Reni berniat akan kembali ke Yogya. Sebelumnya Re berharap pulang akan melihat keadaan yang dulu akan berubah, ternyata tidak. Reni malah menemui kekecewaan yang ditimbulkan oleh ayahnya.
"Mau kemana kamu Re ?" tanya ayahnya setengah membentak.
"Pulang," jawabnya.
"Pulang kemana ini rumahmu."
"Rumah Re di Yogya, Re akan balik kesana. Re kesini cuma buang-buang waktu saja." sahut Re kesal.
"Jangan kurang ajar sama ayah Re."
"Re tidak bermaksud kurang ajar sama ayah tapi Re cuma ingin dihargai disini. Re pengen kuliah sampai selasai," Re gusar dan pergi dari rumah meninggalkan ayahnya yang masih mematung di depan pintu kamarnya.
Re berlari ke jalan untuk mencari kendaraan yang bisa membawanya pergi dari rumahnya. Sekuat tenaga ia berlari seakan-akan dikejar ayahnya. Memang benar ayahnya mengejarnya tapi hanya sampai di pintu depan.
"Ingat Re akan ada pesta besar-besaran menantimu disini," teriakan ayahnya masih didengar Re yang baru saja masuk ke dalam taksi.
Malam ini Reni memandangi langit yang terlihat begitu megah dengan indahnya senyuman sang rembulan. Sayangnya senyuman Reni kini tak lagi seindah senyuman sang raja malam disana. Yang menampakkan cahayanya begitu transparan dan mampu menelanjangi setiap mata yang melihatnya. Tetapi tidak untuk mata Reni. Melihat keindahan malam ini, matanya langsung dihujani oleh air mata. Membayangkan tak ada lagi keindahan malam seperti malam ini. "Pesta ?" sepenggal suara ayahnya terngiang kembali. Sungguh-sungguhkah ayah ? Pikirnya dalam hati. Kuliahku bagaimana kalau aku bakal jadi seorang istri ? Memang pemikiran orang terdahulu yang tidak lagi mengerti betapa pentingnya pendidikan di zaman sekarang. Ayahnya hanya lulusan SMA yang kini hanya jadi tangan kanan Hartoyo, direktur perusahaan yang sangat otoriter. Apa yang diinginkan harus dicapainya. Menikahkan anaknya dengan anak seorang pembantu memang bukan keinginannya, melainkan keinginan ayah Reni, yang tidak lain karena tergiur dengan apa yang dimiliki bosnya. Hartoyo marah kemudian menggebrak mejanya dengan sengit "kau menghinaku ?"
"Atau aku akan melaporkanmu pada semua relasimu ?" ancamnya ketika permintaannya ditolak.
Harta memang sudah membutakan seseorang. Hartoyo tern'yata salah telah memilihnya sebagai orang kepercayaan. Orang yang telah tahu kelicikannya menjalankan suksesnya bisnis yang telah digeluti selama bertahun-tahun. Akhirnya dituruti saja kemauannya untuk mempertahankan kesuksesannya itu. Sedangkan Randy, lelaki yang akan dinikahkan dengan Re hanya mengangguk layaknya kerbau yang dicocok hidungnya. Karena memang Reni yang cantik membuat siapa saja akan tertarik kepadanya. Randypun juga tampan. Dan dengan ketampanan itulah yang selalu dijadikan Ayahnya alasan untuk mengiming-imingi Reni.
"Kamu akan menyesal Re anaknya tampan lho" bujuk ayahnya ketika Reni mengunjungi rumahnya minggu lalu.
"Re tidak tertarik, " tolak Reni.
"Kamu tidak boleh menolak," tegas ayahnya.
"Re masih pengen kuliah yah."
"Re Re kamu kuliah mau jadi apa ? Kamu itu perempuan Re ujung-ujungnya juga di dapur melayani suami."
"Pokoknya Re tidak mau, titik," Reni ngotot menolak untuk dinikahkan.
Seminggu sebelum acara pernikahannya. Ayahnya sudah berkali-kali menyuruhnya pulang tapi ia sama sekali tidak menanggapi perintah itu. Hingga suatu hari ketika Re berada di kampusnya ada mobil mewah yang tengah menghadangnya. Dari luar terlihat bukan orang sembarangan siapa yang ada di dalamnya. Pasti orang-orang yang terbiasa duduk di belakang meja DPR, pikirnya. Pintu terbuka dan seorang lelaki yang tampak berwibawa keluar dari sana.
"Hai Re senang bertemu denganmu," lelaki itu mengulurkan tangannya. Lalu pintu keduapun terbuka.
"Ayah ?" seru Re tampak kaget melihat ayahnya turut keluar dari mobil itu juga. ***
Pintu gerbang terbuka, berdiri di sana mak Sum yang biasa mengurus kebutuhan anak-anak kos. Randy menghentikan mobilnya tepat di depan tempat kos Reni. Pintu mobil belakang terbuka.
"Re," panggil ayahnya sebelum ia turun dari mobil itu.
"Iya yah," sahutnya antusias.
"Kemasi barang-barang kamu dan kembali lagi kesini."
"Maksud ayah ?"
"Kita pulang."
"Re tidak mau."
"Pokoknya yah tidak ada acara pernikahan tidak ada pesta buat Re, Re mau tetap kuliah di sini." jawab Re mantap.
"Jangan membantah kamu Re ayo cepat kamasi barang kamu dan kembali ke sini kita pulang," kata ayah Re sambil berteriak setelah melihat Re meninggalkan mereka.
Rapat-rapat Re mengunci kamarnya. membiarkan ayahnya pulang bersama Randy. Di belakang pintu kamarnya, Reni menekuk lutut dan sesenggukan menahan tangis. Ia berpikir untuk menggagalkan rencana ayahnya itu. Pernikahan itu tidak boleh terjadi. Tetapi acara itu sudah semakin dekat dan ayahnya telah mempersiapkan segalanya. Reni tidak punya cara lain. Reni menghilang ke suatu tempat karena ia yakin pasti ayahnya akan kembali untuk mencarinya. Dan hari itu semakin dekat. Dua hari sebelum pernikahannya ayahnya memang mencari Reni ke tempat kosnya juga ke kampus Renipun tidak ada di sana. Tepat di hari pernikahannya Reni tetap tidak muncul juga. Ayahnya sangat panik. Begitu pula Randy juga tak kalah cemasnya karena pengantinnya belum juga datang.Berbeda dengan Hartoyo ia merasa puas melihat kepanikan cukongnya itu. Ia tidak sudi berbesanan dengannya. Rani, adiknya juga berusaha menelepon nomor HP Reni hingga berkali-kali tidak juga aktiv. Ketika Rani sudah putus asa tiba-tiba teleponnya berbunyi.
"Ran aku tidak bisa datang," suara Re di seberang sana.
Rani langsung berteriak menyebut nama kakaknya ketika mendengar suara Re. Semua yang ada di dekat Rani menghentikan apa saja yang mereka kerjakan. Begitu juga dengan ayahnya, kecemasan langsung hilang seketika nama Reni disebut-sebut oleh Rani. Dengan tidak sabar ayahnya mengambil telepon yang tengah dipegang oleh Rani.
"Re kamu di mana semua orang sudah menunggumu di sini. Acara akan segera dimulai." kata ayahnya gugup.
"Maaf yah aku tidak bisa," putusnya setelah lama ia menimbang-nimbang.
"Tidak ada cara lain Re," katanya lemas. "Kalau lima jam lagi kamu tidak pulang acara ini akan tetap ayah lanjutkan dan adikmu yang akan menggantikan posisimu," ayahnya mengancam.
"Rani ?" Reni masih melongo kaget.
Terdengar bunyi tut tut tut telepon telah terputus. Percuma saja Reni berteriak memanggil nama ayahnya. "Kenapa harus Rani yah batalkan saja pernikahannya kalau Reni tidak mau," sanggah Rani.
"Ayah bisa malu kalau acara ini dibatalkan Ran, dan jalan satu-satunya hanya kamu yang menggantikan jika kakakmu tidak juga datang," jelas ayahnya.
"Menurut ayah Rani mau gitu?" tanyanya sengit.
"Jangan seperti Reni kamu Ran." suara ayahnya meninggi.
"Jangan korbankan Rani yah," seru Reni yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka. semua yang ada di tempat itu kaget melihatnya. Ayahnya mendesak agar acaranya cepat di laksanakan takut jika Reni akan kabur lagi.
"Re kesini tidak untuk menikah yah. Re tidak ingin melihat Rani menjadi korban kerakusan ayah sama harta."
"Apa katamu ?" bentak ayahnya seraya melayangkan tangannya ke pipi Re.
"Ayah." Rani menghela ayahnya. Ia tidak mau ayahnya akan lebih marah dan terjadi pukulan yang berikutnya terhadap Reni. Ayahnya memberontak dan keduanya saling beradu pendapat.
"Iya iya Rani mau," akhirnya Rani menengahi perdebatan keduanya. "Tapi dengan satu syarat," lanjutnya.
"Ran kamu gila apa?" sergah Reni.
"Apa syaratnya Ran?" tanya ayahnya semangat.
"Jika Re benar-benar tidak mau dan ayah maunya Rani, Rani punya satu syarat buat Re. semua yang sebelumnya diberikan ibu harus menjadi milik Rani tanpa terkecuali," ancam Rani. Ia sama sekali tidak bermaksud demikian tetapi ia hanya mengancam agar Reni mengubah keputusannya. Dan ternyata Reni tidak mengubah keputusannya. Ia malah membenci adiknya karena dianggapnya Rani sama saja dengan ayahnya yang gila akan harta.
"Ambil saja semuanya Ran aku tidak menginginkannya. Jika kamu pikir aku mau menikah dengan dia karena kamu mengancamku seperti itu kamu salah. Baik Ran selamat berbahagia dengan lelaki pilihan ayah. Aku akan balik ke Yogya. Selamat tinggal Ran. Ayah."
Reni kembali tanpa membawa apapun. Ia meninggalkan Rani bersama ayahnya. Membiarkan Rani dipersunting oleh Randy yang sama sekali tidak diketahui bagaimana kelakuannya. Reni kembali meneruskan kuliahnya dengan biayanya sendiri. Ia tidak lagi menemui keluarganya.
***
Rani tidak bisa bekerja, sekarang menjadi janda muda yang tak terurus. Seminggu setelah pernikahannya dengan Randy ia diceraikan. Sedangkan ayahnya di PHK dari perusahaan.
Nur hidayah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar