Rukmini
Tiap hitungan tanggal malam ganjil, sosok itu selalu datang menjelang fajar. Menatap nyala ke arahku. Berdiri tepat di sampingku tidur. Tiada alasan apapun tiba-tiba tengkukku bergetar. Bisa kurasakan detak jantungku yang berpacu seiring sorot matanya yang menerabas. Sekeliling bola matanya hitam, seperti orang terserang insomnia. Rambutnya panjang menutupi sebagian mukanya. Tiap datang bayang wanita itu selalu didahului aroma melati. Padahal setahuku, di halaman atau di sekitar kosku tak ada yang menanam pohon melati.
***
Setibaku di Bumiayu, sambutan yang kurasakan tak sewajar biasanya. Tiap bercakap dengan nenek, pandangan beliau tak fokus ke arahku. Bahkan kadang beliau seperti ngelantur, berbicara sendiri. Kenangan itu yang kuingat terakhir kali tentang nenek.
Hingga malam keempat puluh meninggalnya beliau, nama perempuan yang sering digumamkan nenek itu masih kuingat betul. “Rukmini!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar