Lelaki Itu Bernama Lastri
Bapak tak pernah tahu kalau sebenarnya ada yang aneh dengan anak bungsunya. Begitu pula dengan adik-adikku yang lain, tak sedikit pun terbesit dalam pengamatan mereka ada hal yang janggal dengan tingkah laku Lastri. Seno dan Agung tak menyadari perbedaan sosok Lastri dengan perempuan sebayanya. Perbedaan yang begitu parahnya bagiku.
Adik perempuanku tak pernah mau memakai BH. Tak ada lapisan bedak di pipinya seperti wanita muda pada umumnya. Ia tak peduli lagi dengan penampilannya. Diam-diam aku tahu isi lemarinya sudah tak ada lagi rok, gaun, atau pula kebaya. Hanya ada jeans, celana pendek, dan bertumpuk-tumpuk kaos. Di meja riasnya pun tak kujumpai ada wewangian yang beraroma feminim. Gincu pun tak ada. Puntung rokok berserakan di lantai. Seprai dibiarkannya tak rapi. Bahkan sesekali kutemukan sebotol kecil minuman keras yang merknya asing bagiku. Suasana kamarnya awut-awutan.
Pernah aku melihat Lastri memanjat pohon kelapa. Astaga, pikirku. Pohon kelapa setinggi tujuh meter dipanjat gadis dua-puluh tahun. Aku sendiri pun bergidik bila disuruh menatap lantai dasar saat berada di balkon. Seperti lelaki saja ulah Lastri.
Saban bakda magrib, ia telah melenggang hilang dari rumah. Kata bapak ia bekerja shift malam di swalayan yang buka dua-puluh empat jam nonstop. Bagiku itu konyol. Memangnya tidak ada kerjaan lain, selain jaga malam. Pakaiannya pun menurutku tidak menunjukkan kalau dia seorang karyawan. Lebih pantas disebut mau dugem. Aku menangkap tanda kalau ia hanya kelayapan saja.
Bukannya aku tak sependapat jika zaman sekarang perempuan bisa sederajat dengan laki-laki. Tapi bukan untuk urusan kodrat, bukan? Aku paham, bukan saatnya perempuan terkungkung dalam rumah. Tahunya Cuma dapur, sumur, dan kasur. Kali ini berbeda. Lastri tak mau lagi menamai dirinya perempuan. Ia tak mau disebut sebagai seorang hawa. Hingga saat ini pun ia tak mau membuat KTP meski usianya sudah cukup. Sebab ia tahu petugas kecamatan akan menyodorinya formulir yang berisi pilihan jenis kelamin. Laki-laki atau perempuan. Itu akan menyinggung perasaannya.
Aku pun maklum dan tak mau memojokkan Lastri. Ia kubiarkan bebas pada prinsipnya itu. Jika ada yang aku sayangkan, yang mungkin juga akan disesali ibu, karena belum sempat melihat adik terkecilku menikah. Mendapat seorang pasangan hidup yang mampu menyayanginya lahir maupun batin. Berumah tangga dengan laki-laki yang bertanggung jawab pada keluarga. Tapi barangkali jika ibu mengetahui keadaan Lastri seperti sekarang ini, aku tak bisa membayangkan betapa kecewanya ibu pada Lastri. Untungnya cuma aku saja yang memperhatikan tingkah polah anehnya. Kalau bapak menyadarinya bisa kumat mendadak darah tinggi beliau. Seno dan Agung, yang aku paham keduanya amat temperamen, akan tega mereka memaki Lastri habis-habisan. Pasti sudah sangat malu mereka.
Bercak-bercak cahaya keemasan menempel di dinding, menembus pori-pori ventilasi ruang tamu. Menandakan senja telah datang ke tempat kami tanpa ungkapan permisi terlebih dahulu. Tanah di halaman menjadi gembur akibat ulah nakal hujan mengguyur siang tadi tiada ampun. Masih tersisa tetesan-tetesan kecil di antara rimbun daun jambu air yang menjalar rantingnya kemana-mana. Sore; Indahnya bisa aku rasakan ketika saat itu juga aku membayangkan ibu masih berkumpul bersama kami. Lastri akan begitu senangnya duduk di samping ibu. Meski hanya duduk di beranda memandangi orang-orang berseliweran. Suasana seperti itu begitu membuatku kangen. Ah, aku rindu keluargaku yang utuh. Semenjak wafatnya ibu (ketika itu umur Lastri tujuh tahun) cuma Lastri satu-satunya perempuan di keluarga ini. Semoga ibu tenang di alam sana.
Pekarangan telah tak tampak seperti dulu. Bunga-bunga matahari yang dulu ditanam ibu kini berubah menjadi ilalang dan rerumputan menjulang berlomba-lomba membuktikan diri yang tertinggi. Mawar putih dan merah hanya terlihat batang berdurinya yang kurus kering. Dipan bambu buatan bapak sudah tak segagah dulu. Pikiranku tak lagi di Surabaya. Aku tinggalkan anak-anak dan istriku di sana, di rumah mertuaku. Dua bulan ini aku silang tugas dengan rekanku. Sebenarnya, sebelum aku mendapat tugas di kampung halamanku ini, aku akan di tempatkan di Makasar. Kebetulan ada salah satu teman orang Manado yang mau bertukar tempat denganku. Atasanku menyetujuinya. Jadilah aku bertugas sambil tengok keluarga.
Terlintas begitu saja di benakku untuk mengambil sebatang rokok kretek yang sejak tadi pagi mengerami kantong bajuku. Pantas saja mulutku terasa hambar. Rupanya seharian ini tak satu pun rokok tersulut di bibirku. Kusulut satu. Asap putih mengepul. Plong rasanya. Rokok memang teman ternikmat untuk melayangkan pikiran.
“Surya”.
Suara bapak membuyarkan imaji-imaji dalam pikiranku. Diletakkannya sepiring pisang goreng di samping tempatku duduk melamun. Bapak duduk juga di sebelah piring tersebut. Ikut pula memandangi pagar dan lalu lalang anak-anak kampung yang bergegas menuju Langgar. Usianya yang telah menyongsong senja tertutupi oleh keriput di wajah. Rambutnya tampak seperti guratan salju yang putih. Jika disuruh membuat daftar orang-orang yang aku kagumi di dunia ini, bapak akan kutempatkan pada temapat terdepan. Beliau sosok yang amat demokratis. Membebaskan putra-putrinya mencari jati diri masing-masing.
Di masa tangguhnya pemerintahan orde baru, aku sering bersitegang dengan ibu karena menolak mengikuti partai yang bapak anut saat itu. Maklum saja saat itu bapak bekerja sebagai pegawai negeri rendahan yang ditekan agar mengikuti partai yang dianut pula oleh atasannya. Gejolak muda yang dipenuhi idealisme tinggi membuatku kokoh pada peran rasa anti diktator. Aku tetap tak mau mengikuti partai bapak. Ibu pun mengancamku tidak akan membiayai kuliahku jika aku tetap pada pendirianku. Namun bapak dengan mudahnya memberi jalan tengah. Beliau tetap menjamin kuliahku, begitu juga dengan idealismeku. Dengan satu syarat agar aku tetap memperjuangkan ideologi yang aku junjung tidak setengah-setengah.
Kesempatan yang diberikan bapak tidak kusia-siakan. Dan hasilnya, tahun 1998 telah tercatat dalam sejarah Indonesia sebuah perubahan besar yang pernah ada di negeri ini. Kekuatan yang mampu menggulingkan keotoriteran penguasa. Bersatu dari penjuru negeri ini meski ada beberapa teman kami yang menjadi tumbal. Meskipun perjuangan itu seakan bagai mencabuti ilalang. Satu musnah, lalu muncul yang lainnya. Justru yang lain inilah yang membunuh rakyat pelan-pelan. Sebab di luarnya mereka tampak mengangung-agungkan aspirasi kaum papa. Pada kenyataannya mereka sendiri yang menjadi racun arsenik, tanpa rasa, tanpa bau, tetapi mematikan.
Bapak terlihat meluap-luap seolah hendak mengungkapkan sesuatu.
“Adik perempuanmu….”, Bapak memulai pembicaraan.
“Ada apa dengan Lastri?” Tanyaku datar.
“Lamaran si Sodik anak Haji Sarkum ditolaknya, Bapak jadi semakin bingung, lelaki seperti apa yang diinginkan adikmu itu, yang kaya tak mau, yang tampan berpendidikan pun tak mau pula”. Ungkap bapak.
“Bapak paling tidak bisa jika harus memaksa Lastri, kamu tentu paham apa yang bapak maksudkan”, sambung bapak.
Suatu kali bapak juga pernah bercerita tentang lamaran-lamaran pemuda kampung. Namun tanpa cang-cing-cong ditolak pula oleh Lastri. Lamaran Sodik adalah dari kesekian kalinya yang kembali ditolaknya. Kuakui paras adikku memang lumayan cantik. Hidungnya seperti hidung ibu, mungil tapi mancung. Matanya tampak teduh dengan bola mata yang hitam. Tingginya pun lumayan. Kulitnya juga putih bersih. Banyak lelaki kampung yang tergila padanya.
Untuk ukuran pemuda yang akan berkeluarga kurasa Sodik cukup dalam hal kematangan materi. Sebagai seorang kepala kantor transmigrasi pasti terpenuhilah gajinya untuk membiayai keluarganya. Lebih-lebih ia sebagai pewaris tunggal berhektar-hektar sawah ladang Haji Sarkum. Tampang tak mengecewakan. Jebolan pesantren pula. Kurang apalagi pada diri seorang Sodik. Tapi mau bagaimana lagi, Lastri tetap menolak pinangannya. Dibujuk seperti apapun ia tetap keras kepala. Kelihatannya tidak ada niat dalam diri Lastri untuk menikah. Bahkan yang aku tahu tegur sapa dengan laki-laki di luar rumah ini pun kalau terpaksa. Apa aku harus membiarkan ia jadi perawan tua.
Saat upacara tedak-siten anakku yang pertama. Aku pernah berusaha meminta bapak membujuk Lastri turut serta ke Surabaya. Niatku mengenalkannya dengan saudara jauh istriku, putra sulung pengusaha tekstil dari Tuban. Siapa tahu hatinya agak lunak. Tetap saja hasilnya percuma.
Dengan segala keanehan tingkah polah Lastri aku tetap mencoba tak memusingkan diri. Aku hanya khawatir dengan bapak. Aku tak mau bapak bertambah beban pikiran di usia pensiunnya. Semoga saja Lastri tidak melakukan hal yang macam-macam, yang mungkin akan membuat gempar keluarga ini. Tapi mengapa harus aku duluan yang menyadarinya. Dan mengapa hatiku selalu menolak tiap ingin merembug masalah ini dengan Bapak. Tak munafik. Aku pun malu jika sanak-saudara lainnya tahu. Jika aku malu, lalu bapak akan seperti apa. Disingkirkan dari keluarga besar kakek mugkin. Entah.
Inikah zaman modern itu. Zaman yang telah berlari jauh sekali. Hingga jarum jam di segala sudut bumi seperti terlalu bernafsu mengejar waktu. Sampai-sampai melewatkan masa-masa adikku mengenal kodratnya sebagai perempuan. Dan sialnya, adikku tak mau sejengkal pun berusaha, sekalipun menyeret langkah. Hanya menunggu sang waktu membalikkan keadaan.
Ketenangan rumah ini sempat terpecah kala suara lantang Lastri begitu kerasnya kepada bapak.
“Aku tidak mau menikah!” katanya suatu kali,
“Kubilang berulangkali kalian tetap saja memaksaku. Tidak dengan Fajar, Ari, Sodik, atau tidak pun dengan laki-laki yang lain, mereka itu anjing!” Begitulah Lastri menjawab dengan kerasnya.
“Persetan semuanya!”
Bapak menghela nafas.
Petang itu menjadi petang terakhir Lastri di rumah. Kepergiannya yang tiba-tiba menjadi beban bagi bapak. Apalagi dia satu-satunya anak perempuan bapak. Telah kuhubungi teman-temannya, tak ada satu pun yang tahu keberadaannya. Tindakan nekatnya ini membuatku semakin bingung. Akibatnya kepulanganku ke Surabaya aku tangguhkan paling tidak hingga Lastri ketemu . Atau mungkin jika bosku merasa tak nyaman karena aku meninggalkan kerjaan maka paling lama aku di rumah hingga beberapa hari lagi saja.
Telah kutanyakan pada teman-temannya, tapi tak ada satu pun yang tahu. Lantas ke mana Lastri selama ini. Tiap kali Bapak tanya hasilnya, aku cuma bisa menggeleng. Agaknya ancaman yang dilontarkannnya kala itu benar-benar ia lakukan. Ia minggat tanpa ada satu pun yang tahu kapan dan kemana perginya.
Azan isya’ memenuhi angkasa. Dedaunan berbincang-bincang dengan angin, membicarakan cerita seorang bocah yang tadi pagi memaksanya mematahkan ranting. Sang bocah terjatuh saat salah berpijak pada kayu rapuh. Mereka tertawa berderai hingga mengaburkan burung gereja yang bertengger kelelahan. Ah masa bodo. Ingin rasanya kubelokkan pikiranku barang sesaat saja. Tak perlu ada lastri dalam pikiranku, bahkan kalau bisa bapak juga tak usah ikut-ikutan hadir dalam pikiranku. Tiap aku berusaha melenyapkan mereka dalam bayang-bayangku, maka akan muncul bayang-bayang lainnya. Tentang istri dan anakku di Surabaya, juga tentang kerjaanku yang kutinggalkan. Biarlah sejenak saja kulupakan semua itu.
Orang-orang berjalan beriringan mengumandangkan kalimat yang mengagungkan Tuhan. Langit terlapis awan seperti serpihan yang berserakan, tak rela jika Bapak harus tersengat matahari di hari yang menghantarkannya ke peraduan yang terakhir. Semua begitu cepat terjadi. Dayaku telah tiada di hari ini, entah kekuatan mana yang telah membuatku mampu menelapak. Bahu kananku terus saja memikul keranda. Pandangan mata seolah menarik tubuhku hingga tak terasa jika aku telah bergerak maju.
Kata Agung, sejak malam itu Bapak sakit keras. Bapak juga sangat kecewa atas kepergian Lastri. Beliau terus-menerus memikirkan Lastri yang tak jelas ke mana. Kesehatannya pun tak diperhatikan. Suatu kali tatkala Agung berpikir hari telah siang tapi Bapak belum bangun juga, maka ia membangunkan Bapak. Ia heran tangan Bapak terasa dingin. Juga tak terdengar dengkurannya. Ia tak merasakan nadi yang berkedut di pergelangan tangan Bapak. Setelah beberapa kali tangan Agung menepuk-nepuk paha Bapak, tak kunjung ada gerakan. Ia goyang-goyangkan tubuh Bapak yang telah terpejam, tapi sama saja. Lantas ia tahu Bapak telah tak lagi bernyawa. Bahwa itu adalah babak terakhir Bapak berada di dunia.
Pemakaman telah sesak dipenuhi warga dan kerabat yang turut mengantarkan jenazah Bapak. Kulihat liang tanah merah telah tergali. Dengan pasrah kuraihkan tubuh Bapak pada Seno yang telah berdiri siap dalam lubang itu.
Modin telah selesai memimpin do’a. Kuamati orang-orang di sekelilingku. Tampak tak pernah kukenal. Mereka melenggang pulang seusai upacara pemakaman.
Di rumah masih terdengar bacaan surah Yasin. Juga ada beberapa tetangga yang turut membantu menata kembali kursi. Kini ingatanku terbentang pada apa yang kulihat tadi. Di antara kerumunan kulihat seorang pemuda. Bukan pemuda tapi ibu. Bukan juga ibu tapi Lastri. Lastri yang telah serupa dengan laki-laki. Lastri yang tampan telah berdiri mengamati prosesi pemakaman Bapak dari kejauhan.
(Jepara, Februari 2010)
Muhammad Wahyu Amiruddin (Wahyu Ameer). Lahir di Jepara, 24 Juni 1989. Alamat Sekarang di Ponpes Durrotu Aswaja, Banaran,Gunungpati, Semarang. Masih kuliah di Universitas Negeri Semarang Prodi Sastra Indonesia. Pengalaman Kepenulisan Juara Tiga Lomba Cerpen Islami Rohis Kalimasada Semarang, Lima terbaik puisi pilihan Jateng. Aktif di Komunitas Kalam Semarang.aktif menulis di majalah annida. pegiat komunitas Kalimasada Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar