Sabtu, 08 Mei 2010

lingustik

Merubah atau Mengubah?
Bahasa merupakan suatu keunikan yag sering tidak kita sadari. Pernahkah kita bertanya, misalnya, mengapa benda yang kita duduki dinamakan kursi, orang yang mengeluarkan airmata dinamakan menangis, dan binatang yang merayap di dinding dan memakan nyamuk dinamakan cicak. Lalu pernahkah kita bertanya sekali lagi, siapa tokoh yang menciptakan penamaan tersebut? Yang jelas, terciptanya bahasa bukan karena jasa perorangan. Bahasa terbentuk salah satunya karena adanya konvensi antar manusia yang menuturkan bahasa tersebut. Konvensi atau kesepakatan tersebut mengakibatkan penamaan terhadap apa yang ada di sekitarnya. Bahasa juga terbentuk melalui tiruan bunyi. Misalnya kata “tokek”, kata tersebut berasal dari bunyi yang dikeluarkan oleh binatang yang merayap di dinding yang besarnya melebihi cicak, dan berbentuk seperti kadal. Penamaan karena adanya peniruan bunyi tersebut dalam ilmu bahasa dinamakan onomatope. Banyak kita dapat kata-kata yang berasal dari onomatope, contohnya “meringkik”, “mencebur” , dan lainnya.
Dalam perkembangannya bahasa telah melalui banyak kajian para linguis. Maka para linguis merumuskan aturan-aturan standar dalam penggunaan bahasa yang sesuai dengan makna, grammar dan konteksnya. Namun, karena kurangnya pengetahuan yang mendalam penutur bahasa tersebut, sering terjadi pula kesalahan-kesalahan yang menjadi biasa.
……………
Saat Aku mencoba
merubah segalanya,
saat aku meratapi kekalahanku
……………
Kalimat di atas merupakan penggalan lagu yang berjudul Merindukanmu yang dipopulerkan grup musik D’Massive. Sekilas, kita tidak menyadari bahwa syair yang kita dengar ini tidak ada yang aneh. Hal ini mungkin karena iramanya yang mudah dicerna otak sehingga kita tidak perlu memusingkan diri benar atau salah segi semantik dan gramatikalnya. Namun jika kita mau teliti dan sedikit menganalisis terhadap syair tersebut, akan ada hal yang menarik yang bisa kita ungkap. Sesuatu yang “salah” tetapi malah dianggap wajar oleh penutur atau mitra tutur.
Hal yang sama pula terdapat pada penggalan lagu yang dipopulerkan Once, vokalis Dewa, yang berjudul Aku Mau, berikut petikan lagunya.
Kau boleh acuhkan diriku,
Dan anggapku tak ada
Tapi tak kan merubah perasaanku, kepadamu
……………..
Kita mungkin tidak mau ambil pusing terhadap apa yang kita dengar. Kita pun terkadang tidak mempersoalkannya. Lebih-lebih kita hanya sebagai pendengar yang hanya menikmati tanpa sedikit pun sikap kritis. Justru mulai dari sikap itulah, sesuatu yang sebenarnya salah akan menjadi hal yang wajar dan seolah-olah benar. Dalam masyarakat umum hal tersebut dinamakan “salah kaprah”
Mari kita teliti sekilas petikan lagu di atas!
Kata merubah yang diinginkan pengarang, dimaksudkan kepada proses menjadikan suatu hal menjadi hal yang berbeda. Secara gramatikal memang tidak salah. Akan tetapi dari segi semantik (makna) kata merubah sebenarnya berasal dari kata dasar rubah mendapat awalan me-, yang menyatakan arti menyerupai yang terdapat pada kata dasar. Dalam pemaknaan kata tersebut yaitu menyerupai rubah. Sedangkan kata mengubah berasal dari kata dasar ubah yang mendapat imbuhan prefiks (awalan) yang sama yaitu me-. Awalan me- pada verba (kata kerja) ubah mengalami nasalisasi (perubahan bunyi sengau) menjadi meng-. Makna kata mengubah yaitu melakukan perbuatan yang dinyatakan oleh kata dasar.
Dari segi kelas kata dasarnya pun berbeda. Kata merubah berasal dari kelas kata nomina atau sering disebut kata benda, sedangkan mengubah berasal dari kelas kata verba atau kata kerja. Ditinjau dalam susunan pola kalimat, kata merubah merupakan verba intransitif (tidak membutuhkan objek dalam kalimat). Misalnya kalimat, Andi akan merubah. Andi sebagi subjek, akan merupakan atribut kalimat, dan merubah adalah predikat verba intransitif. Berbeda halnya dengan Andi mengubah wajah. Kalimat tersebut berpola SPO. Andi sebagai subjek, mengubah merupakan predikat verba transitif, dan wajah merupakan objek kalimat.
Jadi, kata merubah yang digunakan dalam lagu tersebut kurang tepat pemakaiannya. Sebab arti kata merubah ialah menjadikan sesuatu menyerupai rubah (binatang rubah). Seharusnya pengarang lagu tersebut menggunakan kata mengubah yang berarti melakukan perbuatan sesuai kata dasar ubah. Sehingga antara maksud pengarang lagu, diksi (pilihan kata), dan pemaknaan pendengar dapat sesuai, seimbang dan tidak terjadi salah tafsir.
Memang, tidak ada aturan yang pokok mengenai tata penggunaan bahasa dalam sebuah syair. Kita tidak bisa pula serta merta menyalahkan sebab lagu pada hakikatnya adalah sebuah puisi populer yang berisi irama. Sehingga asas licentia poetika sah-sah saja jika digunakan dalam lagu. Namun, jika kata yang “salah” tersebut sudah dianggap benar oleh penutur bahasa secara umum maka mungkin saja hal tersebut akan menjadi hal yang berkesinambungan. Masyarakat pun akan menilai bahwa sesuatu yang umum mereka tahu adalah sasuatu yang benar.
Oleh karena itu, pendengar atau penikmat musik Indonesia agar lebih bijak dan teliti terhadap lagu-lagu dalam negeri. Jangan sampai kekayaan daya kreatif musisi kita justru merusak tatanan bahasa Indonesia.

*)oleh Kang Wahyu Ameer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar