Mayat
Di suatu ruang, dimana gelap dan terang tak ada bedanya. Dimana sunyi tak pernah surut. Tempat yang hanya muat untuk menyelonjorkan kaki dan berbaring. Tak bisa merentangkan tangan. Bahkan mekangkang pun tak bisa. Makluk-makhluk kecil berlendir menggeliat-geliat. Ada yang malu-malu mengendus bau busuk. Sepi beranak-pinak. Pekat merambat sampai ke ubun-ubun. Suasana sepah menjalar.
Ada orang. Bukan orang, tapi bangkai, ya tiga bangkai yang namanya telah lapuk dimakan rayap. Berbaring berdamping-dampingan. Tempat mereka diteduhi pohon kamboja yang wanginya khas dan menyengat. Kadangkala orang lewat di atas mereka, melengos sebentar, lalu cepat-cepat melebarkan langkahnya. Merinding. Lebih lagi jika malam, maka orang-orang yang lewat itu akan berpikir lagi –hanya orang ngaco- mengambil jalan disitu.
“Kalau saja aku tak mati cepat-cepat, istriku mungkin tak kawin lagi dengan keparat, anakku tak jadi pelacur, dan aku bisa melihat wajah cucu-cucuku, menimang-nimangnya gemas melihat tawa polosnya”` keluh mayat pertama.
“Jadi kau menyesal telah datang lebih dulu kemari?” ujar mayat kedua agak sinis.
“Bukan itu maksudku”
“Lantas, kau mau meminta kompensasi dari Tuhan untuk datang lagi ke atas sana?”
“Bukan juga”
“Hayah, kau ini, sudah jadi bangkai masih saja tak tahu diri”
“Apa salah? Apa yang telah mati itu tak berhak berangan-angan?”
“Nah itu, semakin tak tahu diri. Seharusnya kau itu tak perlu banyak angan. Cita-cita dan angan-angan itu miliknya manusia”
“Kau kira aku ini bukan manusia apa?”
“Siapa bilang kau bukan manusia, kau ini manusia, tapi yang sudah kadaluwarsa, manusia yang dicampakkan ke dalam lobang, alias manusia yang sudah jadi mayat, atau kalau kamu mau yang agak halus, kamu itu sudah modar, tau?”
Mayat pertama terdiam. Ia seperti terkena serangan balik yang bertubi-tubi.
“Kenapa diam?”
“Tak apa-apa”
Mereka saling diam kemudian. Mayat pertama mengawang-awang pikirannya. Saat ia masih hidup. Saat ia masih disebut manusia. Ia ingin membego-begokan dirinya sendiri. Sebab ia merasa bego memang saat masih diberi kesempatan memperkaya diri. Kenapa dulu ia tak mencatut uang tunjangan warga. Ia kan bisa cari-cari alasan macam rupa agar para warga percaya kalau uang mereka untuk administrasi inilah-itulah. Toh, uang tunjangan dari pemerintah mereka dapatkan cuma-cuma. Apa salahnya kalau ia ikut merasakan uang kesejahteraan dari pemerintah itu. Pun ia juga warga negara yang sama. Juga ia merasa punya hak yang sama. Lagipula ia juga bisa menggunakan uang catutan itu untuk berangkat haji atau menggunakan setengahnya, -kebanyakan-, maksudnya seperempat atau seperlimanya saja untuk beramal atau ikut-ikutan menyumbang saat ada pembangunan masjid. Bisa kaya iya, bisa beramal juga iya. Kan lumayan.
Ia mengernyit-ngernyitkan dahinya. Ia ragu pada pembayangannya sendiri. Tapi apa bisa pegawai rendahan sepertinya bisa mencatut banyak-banyak. Jabatan paling mentok dinaikkan ke kecamatan. Itu pun kalau atasan sedang berbaik hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar