Bukanlah akhir Perjuangan
Matahari mengawali hari, memancarkan sinarnya di sela-sela pepohonan dan bangunan di kompleks ASWAJA. Di halaman telah terparkir begitu banyak kendaraan bermotor sebagaimana biasanya. Namun, hari itu ada yang berbeda. Sebagian wali santri kira-kira sejak pukul enam pagi telah memasuki ndalem untuk sowan Abah Kyai Masyrokhan. Beberapa santri putra dan putri berpakaian hitam dengan samir bergambar logo Unnes berwarna kuning keemasan yang telah terpasang di lehernya.
Mbak Ngamik Qongidah sudah berpenampilan rapi dengan kebaya barunya lengkap dengan baju wisuda. Wajah mahasiswa Geografi yang akan mengakhiri masa studinya dari Kampus Sekaran ini telah tampak terias. Tak ketinggalan toga yang akan dia pakai untuk menghadiri upacara penyematan wisuda, di Auditorium Unnes, Selasa (19/10). Mbak Ngamik dan 24 santri lainnya, untuk periode kedua tahun ini sudah layak menyandang gelarnya sebagai santri intelektual, yaitu sarjana pendidikan. Menurut wanita asal Kebumen ini, meski wisuda bukanlah akhir dari perjuangan, akan tetapi pencapaian mendapat gelar itu terasa sekali kepuasannya,
Juga sebagaimana yang diucapkan mbak Ita “Wah rasanya benar-benar plong, untuk menuju tahap selanjutnya lebih mantap untuk diseriusin”, Tuturnya.
Entah perasaan apa yang ada dalam hati mereka. Pancaran wajah para wisudawan itu memperlihatkan kelegaan dan kepuasan tersendiri. Meskipun gelar itu sudah dalam genggaman tak sepatutnya menjadi sarana bersombong ria. Gelar itu tak kan berarti apa-apa tanpa kontribusi nyata untuk kemaslahatan masyarakat dan pengabdian pada agama. Karena wisuda merupakan tahapan awal dalam menapaki lembaran hidup baru. Selamat melaju kange dan mbae wisudawan dalam tahapan hidup yang lebih bergelombang. (Dian)
Rabu, 03 November 2010
BENARKAH, LEBIH BANYAK WISUDAWAN LEBIH BANYAK PENGANGGURAN?
Wisuda merupakan sebuah kata yang selalu ditunggu oleh para mahasiswa. Wisuda membutuhkan banyak sekali perjuangan, karena wisuda merupakan simbol berakhirnya titel mahasiswa. Satu hal yang terpenting, semakin mirisnya perjuangan para sarjana untuk menapaki kehidupan selanjutnya, tak selamanya hidup itu indah, sehingga semuanya membutuhkan perjuangan lebih.
Mahasiswa merupakan agent of change, tanpa semangatnya mungkin Indonesia tak bisa menerapkan sistem demokrasi. Mahasiswa memperjuangkan hak asasi manusia, menyalurkan aspirasi rakyat, dan yang terpenting mereka telah menerapkan sistem demokrasi di Indonesia. Mahasiswa sangat berpengaruh besar terhadap kemajuan bangsa, karena mereka telah diajari bagaimana kehidupan yang sesungguhnya. Usia yang telah cukup, dan kemampuan yang cakap mendorong mereka untuk selalu bangkit, mereka tak hanya berpangku tangan, menerima semua keputusan, namun ilmu dan akal bersatu guna sebagai filter mana yang benar dan mana yang salah.
Berakhirnya titel sebagai mahasiswa, justru merupakan sebuah tantangan besar, karena hidup tak hanya sampai digelar sarjana. Setidaknya, mereka harus bisa menerapkan ilmu yang mereka peroleh, apalagi mengamalkannya. Memang benar, mahasiswa kuliah untuk mencari bekal, baik ilmu pengetahuan ataupun pengalaman, namun, pada zaman sekarang, banyak orang tak mengerti tujuan utama kuliah, mereka hanya mencari selembar kertas, yang katanya bisa untuk merubah segalanya. Ijazah memang penting, karena tanpa ijazah kita tak bisa berbuat apapun, namun setidaknya kita sebagai manusia yang bermoral, harus bisa berperilaku lebih, kita kuliah untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya yang kemudian bisa kita pergunakan untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Nah, ijazah sebagai syarat formalnya. Kunci utamanya adalah bersungguh-sungguh dalam kuliah, mengingat usia yang tak menentu dan takdir yang tidak kita tahu.
Zaman sekarang, sulitnya menjalani hidup setelah diwisuda, mengingat jumlah lulusan dengan lowongan yang tak sebanding. Persaingan yang semakin ketat meciptakan jumlah pengangguran semakin banyak. Untuk itu, dibutuhkan sarjana yang kreatif, tanpa harus menggantungkan hidupnya kepada orang lain, mereka harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, sebagai bukti bahwa mahasiswa tak sekedar nama beken, namun benar-benar sebagai agent of change.
“lebih banyak wisudawan, lebih banyak pengangguran”, kata yang sering terucap namun sangat tak diharap. Untuk itu, kita sebagai mahasiswa harus bisa menghapuskan kata tersebut, berusaha menjadi mahasiswa kreatif, mandiri dan dinamis. Semangat untuk para sarjana!!! (Mamila)
Mahasiswa merupakan agent of change, tanpa semangatnya mungkin Indonesia tak bisa menerapkan sistem demokrasi. Mahasiswa memperjuangkan hak asasi manusia, menyalurkan aspirasi rakyat, dan yang terpenting mereka telah menerapkan sistem demokrasi di Indonesia. Mahasiswa sangat berpengaruh besar terhadap kemajuan bangsa, karena mereka telah diajari bagaimana kehidupan yang sesungguhnya. Usia yang telah cukup, dan kemampuan yang cakap mendorong mereka untuk selalu bangkit, mereka tak hanya berpangku tangan, menerima semua keputusan, namun ilmu dan akal bersatu guna sebagai filter mana yang benar dan mana yang salah.
Berakhirnya titel sebagai mahasiswa, justru merupakan sebuah tantangan besar, karena hidup tak hanya sampai digelar sarjana. Setidaknya, mereka harus bisa menerapkan ilmu yang mereka peroleh, apalagi mengamalkannya. Memang benar, mahasiswa kuliah untuk mencari bekal, baik ilmu pengetahuan ataupun pengalaman, namun, pada zaman sekarang, banyak orang tak mengerti tujuan utama kuliah, mereka hanya mencari selembar kertas, yang katanya bisa untuk merubah segalanya. Ijazah memang penting, karena tanpa ijazah kita tak bisa berbuat apapun, namun setidaknya kita sebagai manusia yang bermoral, harus bisa berperilaku lebih, kita kuliah untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya yang kemudian bisa kita pergunakan untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Nah, ijazah sebagai syarat formalnya. Kunci utamanya adalah bersungguh-sungguh dalam kuliah, mengingat usia yang tak menentu dan takdir yang tidak kita tahu.
Zaman sekarang, sulitnya menjalani hidup setelah diwisuda, mengingat jumlah lulusan dengan lowongan yang tak sebanding. Persaingan yang semakin ketat meciptakan jumlah pengangguran semakin banyak. Untuk itu, dibutuhkan sarjana yang kreatif, tanpa harus menggantungkan hidupnya kepada orang lain, mereka harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, sebagai bukti bahwa mahasiswa tak sekedar nama beken, namun benar-benar sebagai agent of change.
“lebih banyak wisudawan, lebih banyak pengangguran”, kata yang sering terucap namun sangat tak diharap. Untuk itu, kita sebagai mahasiswa harus bisa menghapuskan kata tersebut, berusaha menjadi mahasiswa kreatif, mandiri dan dinamis. Semangat untuk para sarjana!!! (Mamila)
Berita Utama
TASYAKURAN WISUDAWAN SANTRI
ASWAJA UNTUK SELAMANYA
Tasyakuran wisudawan santri aswaja kembali dilaksanakan dengan tema “Aswaja untuk Semua”. Pembawa acara (kang Wahyu dan kang Alto, red) membuka tasyakuran wisudawan santri aswaja di halaman parkir ponpes aswaja, Banaran, Sekaran, Gunungpati, jumat (22/10).
Pondok Pesantren Durotu Ahlussunah Wal Jamaah ada di Banaran, Sekaran, Gunungpati. Mayoritas santrinya berstatus mahasiswa. Tak Heran jika pondok tersebut sarat akan kegiatan. Pada hari Jumat (22/10) kemarin tasyakuran wisudawan santri kembali dilaksanakan dengan tema “Aswaja untuk Selamanya”. Pembawa acara (kang Wahyu dan kang Alto, red) membuka tasyakuran wisudawan santri aswaja yang ada di halaman parkir Pondok pesantren Durrotu ahlussunah wal jamaah.
Acara dikemas secara rapi mulai tahlil, tilawah, sambutan-sambutan, kesan-pesandari wisudawan dan terakhir mauidhoh khasanah dari Abah yai Masrokhan. Malam itu tempat parkir ramai dipenuhi ratusan santri, 25 diantaranya dari wisudawan dengan rincian 13 orang santri dari wisudawan putri (mba’e) dan 12 orang santri dari wisudawan putra (kange). Acara dimulai pukul 21.00 berjalan dengan lancer. Para audience mendengarkan dengan khidmat, terutama saat wisudawan naik ke atas panggung menyampaikan kesan-pesan dan perform. “Sopan santun lebih dibutuhkan”. Ujar kang Nasihu, mewakili wisudawan putra.
Sampai menangis
“Ternyata dalam hidup bermasyarakat yang dibutuhkan itu sopan santun bukan pintarnya.” Tambahnya. Sementara dari wisudawan putri diwakili oleh mbak Nina. Ia terharu sampai mengeluarkan air mata waktu menyampaikan kesan-pesan. Setelah itu perform dari wisudawan lewat puisi lima bahasa dengan judul “Durrotu Aswaja” karya NA/05, yang dibacakan oleh kang Memed (bahasa jepang), kang Yen (bahasa Indonesia), kang Ngizudin (bahasa jawa), mbak Shoimah (bahasa arab), mbak Luluk Alawiah (bahasa inggris). Kemudian acara itu di tutup mauidhoh dan doa oleh Abah Yai Masrokhan. Selamat Ya….(arsai)
ASWAJA UNTUK SELAMANYA
Tasyakuran wisudawan santri aswaja kembali dilaksanakan dengan tema “Aswaja untuk Semua”. Pembawa acara (kang Wahyu dan kang Alto, red) membuka tasyakuran wisudawan santri aswaja di halaman parkir ponpes aswaja, Banaran, Sekaran, Gunungpati, jumat (22/10).
Pondok Pesantren Durotu Ahlussunah Wal Jamaah ada di Banaran, Sekaran, Gunungpati. Mayoritas santrinya berstatus mahasiswa. Tak Heran jika pondok tersebut sarat akan kegiatan. Pada hari Jumat (22/10) kemarin tasyakuran wisudawan santri kembali dilaksanakan dengan tema “Aswaja untuk Selamanya”. Pembawa acara (kang Wahyu dan kang Alto, red) membuka tasyakuran wisudawan santri aswaja yang ada di halaman parkir Pondok pesantren Durrotu ahlussunah wal jamaah.
Acara dikemas secara rapi mulai tahlil, tilawah, sambutan-sambutan, kesan-pesandari wisudawan dan terakhir mauidhoh khasanah dari Abah yai Masrokhan. Malam itu tempat parkir ramai dipenuhi ratusan santri, 25 diantaranya dari wisudawan dengan rincian 13 orang santri dari wisudawan putri (mba’e) dan 12 orang santri dari wisudawan putra (kange). Acara dimulai pukul 21.00 berjalan dengan lancer. Para audience mendengarkan dengan khidmat, terutama saat wisudawan naik ke atas panggung menyampaikan kesan-pesan dan perform. “Sopan santun lebih dibutuhkan”. Ujar kang Nasihu, mewakili wisudawan putra.
Sampai menangis
“Ternyata dalam hidup bermasyarakat yang dibutuhkan itu sopan santun bukan pintarnya.” Tambahnya. Sementara dari wisudawan putri diwakili oleh mbak Nina. Ia terharu sampai mengeluarkan air mata waktu menyampaikan kesan-pesan. Setelah itu perform dari wisudawan lewat puisi lima bahasa dengan judul “Durrotu Aswaja” karya NA/05, yang dibacakan oleh kang Memed (bahasa jepang), kang Yen (bahasa Indonesia), kang Ngizudin (bahasa jawa), mbak Shoimah (bahasa arab), mbak Luluk Alawiah (bahasa inggris). Kemudian acara itu di tutup mauidhoh dan doa oleh Abah Yai Masrokhan. Selamat Ya….(arsai)
POEM
Tanpa judul
Kesendirianku membuatku ngilu
Perih, letih
Berjalan terbata
Menyusuri lorong hampa
Hanya bayangan semu kawan abadi
Sampai habis waktu kiranya
Dan kini aku terpana
Melihat selaksa biru anggun
Menghampiri lelap gelap
Ternyata sang malaikat
Yang mungkin dikirim-Nya khusus menemani lelapku
Aku damai,
Indah,
Teduh
.
Tapi
Ah…..sinar mentari itu
Menghancurkan mimpiku!
Jika kau, aku akan, aku pasti
Jiak kau butuh
Aku akan menjauh
Jika kau datang
Aku akan menghilang
Jika kau menangis
Aku akan terbahak
Jika kau tersenyum
Aku akan tersedu
Tapi jika kau mati
Aku pasti mati……hwehehe…
Oleh Aminatuz
Kesendirianku membuatku ngilu
Perih, letih
Berjalan terbata
Menyusuri lorong hampa
Hanya bayangan semu kawan abadi
Sampai habis waktu kiranya
Dan kini aku terpana
Melihat selaksa biru anggun
Menghampiri lelap gelap
Ternyata sang malaikat
Yang mungkin dikirim-Nya khusus menemani lelapku
Aku damai,
Indah,
Teduh
.
Tapi
Ah…..sinar mentari itu
Menghancurkan mimpiku!
Jika kau, aku akan, aku pasti
Jiak kau butuh
Aku akan menjauh
Jika kau datang
Aku akan menghilang
Jika kau menangis
Aku akan terbahak
Jika kau tersenyum
Aku akan tersedu
Tapi jika kau mati
Aku pasti mati……hwehehe…
Oleh Aminatuz
“Saya Khawatir Kreativitas Santri (PPDAW) Pudar….”
Judul yang saya lontarkan di atas itu mungkin hanya pernyataan kegelisahan sederhana dari saya kepada jenengan semua, syukur-syukur ada yang baca. Maaf kalau memang agak sinis, atau mungkin ada yang ilfeel dengan apa yang saya nyatakan atau bahkan bertanya-tanya (mosok sih? Ah kuwe iki ngawur -saya mencoba menebak benak jenengan-¬). Saya hanya mengambil beberapa kesimpulan kecil dari apa yang selama ini saya lihat -sendirian, selaku yang merasakan- dengan apa yang telah menjadi fenomena.
Kalau dulu sewaktu saya masih semester satu. Saat itu masih begitu polos dan imut-imutnya, melongo melihat kang-kang dan mbak-mbake yang luar biasa bakatnya di bidang apapun. Contoh kecil sajalah, kalau gede tak ada tempat untuk nampung, terus terang pertama kali saya melihat Grup Vokal pondok Aqila Voice yang dimotori Kang Yasin, Pak Cik, Kang Memed, dan sepiturutnya, saya bergumam pada diri saya sendiri itulah pertama kalinya saya melihat performance acapela secara langsung bukan dari tivi, radio, atau pun dari layar ajaibnya mbah Google. Lebih-lebih waktu saya dipameri penghargaan yang mereka raih dari beberapa kompetisi yang mereka juarai, saya hanya bergumam “Weleh-weleh, kondhang tenan iki”. Dan sekarang? Memang masih ada, tapi hanya berupa sebuah inisiatif yang tak pernah terbentuk.
Di bidang lainnya, bidang tul-menul atau tulis-menulis (maaf, ini tidak ada unsur promosi suatu UKP apapun) paling tidak tiap tahunnya pasti ada delegasi pondok yang ikut dikirim ke ajang kompetisi regional hingga nasional. Ada yang menggondol emas milik PIMNAS (bukan maling, tapi juara), ada juga yang langganan juara LKTM Jawa Tengah. Saya acungi jempol lima untuk mereka, dua jempol kaki dan dua jempol tangan, satunya pinjam jempol jenengan, atas kreativitas yang luar biasa itu. Dan sekarang? Memang masih ada, tapi hanya secuil orang, seperempat cuilan malah dan lagi-lagi itu hanya berbentuk angan-angan.
Penasarannya, Dimanakah kreativitas-kreativitas luar biasa itu tersisa di pondok ini? Apa ya dibawa pendahulu-pendahulu itu semuanya tanpa menyisakan sekelumit untuk adik-adiknya ini. Kalau mau belajar dari sejarah (sekali lagi maaf, ini tak bermaksud mengunggulkan jurusan atau prodi tertentu) seharusnya kita bisa termotivasi untuk menyetarakan dan sedikit sajalah mengungguli apa yang dulu-dulu mereka raih. Jika melihat semakin terpenuhinya fasilitas yang ada seharusnya pula itu bisa menjadi media penunjang bagi kita.
Baru kemarin saya ditelpon salah satu penggagas buletin ini, yang sekarang ia sudah menyalurkan ilmunya di TBS Kudus. Ya, ia anggota si kembar dari Gua Hantu, ups keceplosan, maksud saya si kembar dari Gebog Kudus, Kang Ahsin. Saya sedikit curhat padanya, kok sekarang minat-minat itu semakin menghilang ya? Beliau hanya menjawab, bukan menghilang tapi teralihkan ke perhatian yang lain, yang perhatian itu menurut mereka lebih ringan untuk dijalani. Sebenarnya minat itu ada, tapi kesanggupan dan kesediaan menyempatkan itu tidak ada (sebagaimana ngendikanipun Abah, Mau-Mampu-Menyempatkan).
Bagaimana pun, saya tetap khawatir kreativitas yang menelurkan seabrek prestasi yang dulu saya kagumi itu pudar begitu saja. Saya betul-betul tidak rela, jika santri (PPDAW) yang lebih disiplin ini kalah prestasinya dibanding anak kos-kosan. Setelah membaca tulisan ini, Tapi apa mungkin jenengan akan nyadar? Semoga sajalah, wallahu a’lam. Wahyu Ameer*.
*Penulis adalah mahasiswa prodi Sastra Indonesia 2007. Anggota Lab Teater dan Film Usmar Ismail. Pernah menulis di Swara Muda (Suara Merdeka) juga Tabloid Nuansa, Enam cerpennya telah termuat di Annida, salah satunya berjudul Dia Bukan Teroris menjadi cerpen terfavorit bulan Maret 2010. Cerpen Kiriman Terakhir mendapatkan penghargaan ketiga pada kompetisi cerpen Islami FBS Unnes (2009). Puisi berjudul Izrail menjadi pemenang dalam kompetisi Semarak Indonesia 2009, yang dibacakan pada lomba baca puisi SMA se-Jawa Tengah. Pernah menjadi editor buku Kartini Sang Pembaharu (Proyek Kabag Humas Jepara, 2010). Dua karyanya juga telah ikut diterbitkan dalam antologi buku bersama Aku dan Masa Silam (Hitam-Putih Publishing, 2010) dan Singkong bukan Singkong (Polifenol Publishing, 2010).
Kalau dulu sewaktu saya masih semester satu. Saat itu masih begitu polos dan imut-imutnya, melongo melihat kang-kang dan mbak-mbake yang luar biasa bakatnya di bidang apapun. Contoh kecil sajalah, kalau gede tak ada tempat untuk nampung, terus terang pertama kali saya melihat Grup Vokal pondok Aqila Voice yang dimotori Kang Yasin, Pak Cik, Kang Memed, dan sepiturutnya, saya bergumam pada diri saya sendiri itulah pertama kalinya saya melihat performance acapela secara langsung bukan dari tivi, radio, atau pun dari layar ajaibnya mbah Google. Lebih-lebih waktu saya dipameri penghargaan yang mereka raih dari beberapa kompetisi yang mereka juarai, saya hanya bergumam “Weleh-weleh, kondhang tenan iki”. Dan sekarang? Memang masih ada, tapi hanya berupa sebuah inisiatif yang tak pernah terbentuk.
Di bidang lainnya, bidang tul-menul atau tulis-menulis (maaf, ini tidak ada unsur promosi suatu UKP apapun) paling tidak tiap tahunnya pasti ada delegasi pondok yang ikut dikirim ke ajang kompetisi regional hingga nasional. Ada yang menggondol emas milik PIMNAS (bukan maling, tapi juara), ada juga yang langganan juara LKTM Jawa Tengah. Saya acungi jempol lima untuk mereka, dua jempol kaki dan dua jempol tangan, satunya pinjam jempol jenengan, atas kreativitas yang luar biasa itu. Dan sekarang? Memang masih ada, tapi hanya secuil orang, seperempat cuilan malah dan lagi-lagi itu hanya berbentuk angan-angan.
Penasarannya, Dimanakah kreativitas-kreativitas luar biasa itu tersisa di pondok ini? Apa ya dibawa pendahulu-pendahulu itu semuanya tanpa menyisakan sekelumit untuk adik-adiknya ini. Kalau mau belajar dari sejarah (sekali lagi maaf, ini tak bermaksud mengunggulkan jurusan atau prodi tertentu) seharusnya kita bisa termotivasi untuk menyetarakan dan sedikit sajalah mengungguli apa yang dulu-dulu mereka raih. Jika melihat semakin terpenuhinya fasilitas yang ada seharusnya pula itu bisa menjadi media penunjang bagi kita.
Baru kemarin saya ditelpon salah satu penggagas buletin ini, yang sekarang ia sudah menyalurkan ilmunya di TBS Kudus. Ya, ia anggota si kembar dari Gua Hantu, ups keceplosan, maksud saya si kembar dari Gebog Kudus, Kang Ahsin. Saya sedikit curhat padanya, kok sekarang minat-minat itu semakin menghilang ya? Beliau hanya menjawab, bukan menghilang tapi teralihkan ke perhatian yang lain, yang perhatian itu menurut mereka lebih ringan untuk dijalani. Sebenarnya minat itu ada, tapi kesanggupan dan kesediaan menyempatkan itu tidak ada (sebagaimana ngendikanipun Abah, Mau-Mampu-Menyempatkan).
Bagaimana pun, saya tetap khawatir kreativitas yang menelurkan seabrek prestasi yang dulu saya kagumi itu pudar begitu saja. Saya betul-betul tidak rela, jika santri (PPDAW) yang lebih disiplin ini kalah prestasinya dibanding anak kos-kosan. Setelah membaca tulisan ini, Tapi apa mungkin jenengan akan nyadar? Semoga sajalah, wallahu a’lam. Wahyu Ameer*.
*Penulis adalah mahasiswa prodi Sastra Indonesia 2007. Anggota Lab Teater dan Film Usmar Ismail. Pernah menulis di Swara Muda (Suara Merdeka) juga Tabloid Nuansa, Enam cerpennya telah termuat di Annida, salah satunya berjudul Dia Bukan Teroris menjadi cerpen terfavorit bulan Maret 2010. Cerpen Kiriman Terakhir mendapatkan penghargaan ketiga pada kompetisi cerpen Islami FBS Unnes (2009). Puisi berjudul Izrail menjadi pemenang dalam kompetisi Semarak Indonesia 2009, yang dibacakan pada lomba baca puisi SMA se-Jawa Tengah. Pernah menjadi editor buku Kartini Sang Pembaharu (Proyek Kabag Humas Jepara, 2010). Dua karyanya juga telah ikut diterbitkan dalam antologi buku bersama Aku dan Masa Silam (Hitam-Putih Publishing, 2010) dan Singkong bukan Singkong (Polifenol Publishing, 2010).
Senin, 04 Oktober 2010
nge-poem
dear I.EM.A.EN.KA.U
Sebuah rasa yang tak habis oleh kikisan gelombang zaman
Di antara derap-derap langkah yang sempurna
Melaju pada rel yang panjang terbentang
Hanya untuk suatu pengharapan
Atas nama kata cinta
Sayang……
Engkau tak ubahnya hanya sebuah siluet bayangan
Dalam cahaya temaram setengah purnama bulan
Berbalut pekat malam yang semakin hitam
Dalam keheningan yang tak bertuan
Tuk eja sebuah kata
Iman……
Tak mudah sungguh memang
Menggapai karunia cinta yang Kau ciptakan tuk syukuri apa yang Kau anugerahkan
-dian-
Antusias MASTA di Hari ke-2
MASTA (Masa Ta’aruf Santri) 2010 diadakan mulai tanggal 21,22 dan 24 September 2010. Acara ini cukup menyita perhatian karena selain penampilan ta’aruf dari santri baru, acara tersebut juga diisi oleh UKP (Unit kegiatan Pondok) yang menambah ramainya acara tersebut. Diantara UKP-UKP tersebut adalah Ad-durrota, Ad-durroti, Teater Kupluk, LBA dan Komunitas Kalimasada.
Hari kedua acara yang menjadi agenda tahunan Litbang ini dimulai pada jam 20.30. Acara tersebut seharusnya bisa dimulai lebih awal namun para santri tidak mengindahkan panggilan panitia agar segera datang ke halaman pondok. Namun itu Tak berlangsung lama setelah MC membuka acara. Setelah itu acara demi acara mengalir dengan lancar.
Para santri baru diberi kesempatan maju dan memperkenalkan diri mereka, hal itu betujuan agar santri saling mengenal. Santri baru dari kange dibagi menjadi dua kelompok, sedangkan dari mbake menjadi empat kelompok yang masing-masing terdiri dari kurang lebih 10 orang. Sebelum memperkenalkan diri, tiap kelompok diwajibkan menampilkan yel-yel masing-masing.
Salah satu penghibur acara pada malam itu adalah penampilan teater kupluk oleh Mbake, yang diperankan sangat indah oleh Mbak Uut, Mbak Aniqoh, Mbak Fani dan Mbak Hanif. Walaupun sebagian dialog ada yang kurang jelas karena tidak menggunakan pengeras suara, penonton tetap dapat tertawa dengan kekocakan yang mereka bawa. Jika dibandingkan dengan MASTA tahun lalu, memang jauh berbeda dengan tidak adanya penampilan dari Aqila Voice dan Teater Kupluk Kange, namun semua itu tidak mengurangi antusias para santri untuk acara tersebut.Dini
Hari kedua acara yang menjadi agenda tahunan Litbang ini dimulai pada jam 20.30. Acara tersebut seharusnya bisa dimulai lebih awal namun para santri tidak mengindahkan panggilan panitia agar segera datang ke halaman pondok. Namun itu Tak berlangsung lama setelah MC membuka acara. Setelah itu acara demi acara mengalir dengan lancar.
Para santri baru diberi kesempatan maju dan memperkenalkan diri mereka, hal itu betujuan agar santri saling mengenal. Santri baru dari kange dibagi menjadi dua kelompok, sedangkan dari mbake menjadi empat kelompok yang masing-masing terdiri dari kurang lebih 10 orang. Sebelum memperkenalkan diri, tiap kelompok diwajibkan menampilkan yel-yel masing-masing.
Salah satu penghibur acara pada malam itu adalah penampilan teater kupluk oleh Mbake, yang diperankan sangat indah oleh Mbak Uut, Mbak Aniqoh, Mbak Fani dan Mbak Hanif. Walaupun sebagian dialog ada yang kurang jelas karena tidak menggunakan pengeras suara, penonton tetap dapat tertawa dengan kekocakan yang mereka bawa. Jika dibandingkan dengan MASTA tahun lalu, memang jauh berbeda dengan tidak adanya penampilan dari Aqila Voice dan Teater Kupluk Kange, namun semua itu tidak mengurangi antusias para santri untuk acara tersebut.Dini
Langganan:
Postingan (Atom)