Judul yang saya lontarkan di atas itu mungkin hanya pernyataan kegelisahan sederhana dari saya kepada jenengan semua, syukur-syukur ada yang baca. Maaf kalau memang agak sinis, atau mungkin ada yang ilfeel dengan apa yang saya nyatakan atau bahkan bertanya-tanya (mosok sih? Ah kuwe iki ngawur -saya mencoba menebak benak jenengan-¬). Saya hanya mengambil beberapa kesimpulan kecil dari apa yang selama ini saya lihat -sendirian, selaku yang merasakan- dengan apa yang telah menjadi fenomena.
Kalau dulu sewaktu saya masih semester satu. Saat itu masih begitu polos dan imut-imutnya, melongo melihat kang-kang dan mbak-mbake yang luar biasa bakatnya di bidang apapun. Contoh kecil sajalah, kalau gede tak ada tempat untuk nampung, terus terang pertama kali saya melihat Grup Vokal pondok Aqila Voice yang dimotori Kang Yasin, Pak Cik, Kang Memed, dan sepiturutnya, saya bergumam pada diri saya sendiri itulah pertama kalinya saya melihat performance acapela secara langsung bukan dari tivi, radio, atau pun dari layar ajaibnya mbah Google. Lebih-lebih waktu saya dipameri penghargaan yang mereka raih dari beberapa kompetisi yang mereka juarai, saya hanya bergumam “Weleh-weleh, kondhang tenan iki”. Dan sekarang? Memang masih ada, tapi hanya berupa sebuah inisiatif yang tak pernah terbentuk.
Di bidang lainnya, bidang tul-menul atau tulis-menulis (maaf, ini tidak ada unsur promosi suatu UKP apapun) paling tidak tiap tahunnya pasti ada delegasi pondok yang ikut dikirim ke ajang kompetisi regional hingga nasional. Ada yang menggondol emas milik PIMNAS (bukan maling, tapi juara), ada juga yang langganan juara LKTM Jawa Tengah. Saya acungi jempol lima untuk mereka, dua jempol kaki dan dua jempol tangan, satunya pinjam jempol jenengan, atas kreativitas yang luar biasa itu. Dan sekarang? Memang masih ada, tapi hanya secuil orang, seperempat cuilan malah dan lagi-lagi itu hanya berbentuk angan-angan.
Penasarannya, Dimanakah kreativitas-kreativitas luar biasa itu tersisa di pondok ini? Apa ya dibawa pendahulu-pendahulu itu semuanya tanpa menyisakan sekelumit untuk adik-adiknya ini. Kalau mau belajar dari sejarah (sekali lagi maaf, ini tak bermaksud mengunggulkan jurusan atau prodi tertentu) seharusnya kita bisa termotivasi untuk menyetarakan dan sedikit sajalah mengungguli apa yang dulu-dulu mereka raih. Jika melihat semakin terpenuhinya fasilitas yang ada seharusnya pula itu bisa menjadi media penunjang bagi kita.
Baru kemarin saya ditelpon salah satu penggagas buletin ini, yang sekarang ia sudah menyalurkan ilmunya di TBS Kudus. Ya, ia anggota si kembar dari Gua Hantu, ups keceplosan, maksud saya si kembar dari Gebog Kudus, Kang Ahsin. Saya sedikit curhat padanya, kok sekarang minat-minat itu semakin menghilang ya? Beliau hanya menjawab, bukan menghilang tapi teralihkan ke perhatian yang lain, yang perhatian itu menurut mereka lebih ringan untuk dijalani. Sebenarnya minat itu ada, tapi kesanggupan dan kesediaan menyempatkan itu tidak ada (sebagaimana ngendikanipun Abah, Mau-Mampu-Menyempatkan).
Bagaimana pun, saya tetap khawatir kreativitas yang menelurkan seabrek prestasi yang dulu saya kagumi itu pudar begitu saja. Saya betul-betul tidak rela, jika santri (PPDAW) yang lebih disiplin ini kalah prestasinya dibanding anak kos-kosan. Setelah membaca tulisan ini, Tapi apa mungkin jenengan akan nyadar? Semoga sajalah, wallahu a’lam. Wahyu Ameer*.
*Penulis adalah mahasiswa prodi Sastra Indonesia 2007. Anggota Lab Teater dan Film Usmar Ismail. Pernah menulis di Swara Muda (Suara Merdeka) juga Tabloid Nuansa, Enam cerpennya telah termuat di Annida, salah satunya berjudul Dia Bukan Teroris menjadi cerpen terfavorit bulan Maret 2010. Cerpen Kiriman Terakhir mendapatkan penghargaan ketiga pada kompetisi cerpen Islami FBS Unnes (2009). Puisi berjudul Izrail menjadi pemenang dalam kompetisi Semarak Indonesia 2009, yang dibacakan pada lomba baca puisi SMA se-Jawa Tengah. Pernah menjadi editor buku Kartini Sang Pembaharu (Proyek Kabag Humas Jepara, 2010). Dua karyanya juga telah ikut diterbitkan dalam antologi buku bersama Aku dan Masa Silam (Hitam-Putih Publishing, 2010) dan Singkong bukan Singkong (Polifenol Publishing, 2010).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar