Rabu, 03 November 2010

feature

Bukanlah akhir Perjuangan

Matahari mengawali hari, memancarkan sinarnya di sela-sela pepohonan dan bangunan di kompleks ASWAJA. Di halaman telah terparkir begitu banyak kendaraan bermotor sebagaimana biasanya. Namun, hari itu ada yang berbeda. Sebagian wali santri kira-kira sejak pukul enam pagi telah memasuki ndalem untuk sowan Abah Kyai Masyrokhan. Beberapa santri putra dan putri berpakaian hitam dengan samir bergambar logo Unnes berwarna kuning keemasan yang telah terpasang di lehernya.
Mbak Ngamik Qongidah sudah berpenampilan rapi dengan kebaya barunya lengkap dengan baju wisuda. Wajah mahasiswa Geografi yang akan mengakhiri masa studinya dari Kampus Sekaran ini telah tampak terias. Tak ketinggalan toga yang akan dia pakai untuk menghadiri upacara penyematan wisuda, di Auditorium Unnes, Selasa (19/10). Mbak Ngamik dan 24 santri lainnya, untuk periode kedua tahun ini sudah layak menyandang gelarnya sebagai santri intelektual, yaitu sarjana pendidikan. Menurut wanita asal Kebumen ini, meski wisuda bukanlah akhir dari perjuangan, akan tetapi pencapaian mendapat gelar itu terasa sekali kepuasannya,
Juga sebagaimana yang diucapkan mbak Ita “Wah rasanya benar-benar plong, untuk menuju tahap selanjutnya lebih mantap untuk diseriusin”, Tuturnya.
Entah perasaan apa yang ada dalam hati mereka. Pancaran wajah para wisudawan itu memperlihatkan kelegaan dan kepuasan tersendiri. Meskipun gelar itu sudah dalam genggaman tak sepatutnya menjadi sarana bersombong ria. Gelar itu tak kan berarti apa-apa tanpa kontribusi nyata untuk kemaslahatan masyarakat dan pengabdian pada agama. Karena wisuda merupakan tahapan awal dalam menapaki lembaran hidup baru. Selamat melaju kange dan mbae wisudawan dalam tahapan hidup yang lebih bergelombang. (Dian)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar