Sabtu, 20 November 2010

Surat Dari Ayah, untukmu Nak

Untuk calon Anakku
Bintang, permata, dan penghuni harapan sanubari hatiku

Ingatlah untai kata dari ayah ini
Anakku, saat surat ini tiba di atas telapak tanganmu yang awam akan segala bentuk muka dunia. Perlakukanlah surat ini sebagaimana ayah bicara padamu, sebagaimana ayah akan mendudukkanmu di pangkuan dan bercerita padamu. Tentang masa kecil ayah dulu yang tak pernah kamu bayangkan dan betapa ayah berharap agar tak akan kau alami kelak jika kau hadir ke dunia ini. Masa-masa dimana kesukaran begitu membelenggu usaha ayah untuk bisa tetap duduk di bangku kayu sekolah ayah dulu. Jika nanti kau mampu membuka mata pada pendidikanmu yang semakin mahal, maka jangan menyerah dan berputus asa. Teruslah berlari, jangan pernah takut terjatuh.
Anakku, kelak jika kau telah dewasa dan ayahmu ini hanya tinggal nama. Jangan berlebihan meratapi kehilangan diriku. Ingatlah tiap manusia sudah ditentukan ajalnya. Hadapi kehidupanmu dengan tegar, sebab kau tak akan pernah menjumpai seorang makhluk pun yang hidup di dunia ini tanpa pernah mengalami kesulitan dan kehilangan. Saat kau berada di posisi yang terburuk dalam kehidupanmu, jangan pernah sekali-kali kau berkata bahkan berpikir Allah itu tak adil bagimu. Tidakkah kau lihat, anakku. Segala yang diciptakannya di dunia ini selalu terdiri dua hal yang saling menyempurnakman dan dari itu kau dapat mengambil hikmah satu sama lain . Jika kau sedang jatuh cinta, maka kau akan merasakan patah hati untuk menghargai cinta. Jika kau memiliki sesuatu, maka ia akan menghilangkannya agar kamu merasa bagaimana seharusnya memiliki. Begitu juga jika kau diberi sesuatu yang banyak maka kelak kau akan diberi yang sedikit agar dapat mensyukuri apa yang telah diberikan padamu.
Anakku, jika kau tiba ke dunia nanti, ayah ingin kau selalu rajin membaca, bukan sebab wahyu nabi yang pertama karena diperintahkan membaca. Namun jika kau mau merenung, maka segala apa yang kau ingin kau ketahui tentang dunia ini membaca adalah kuncinya. Maksud Ayah bukan hanya membaca sesuatu yang di dalamnya termaktub tulisan, anakku. Namun, juga membaca alam, keadaan lingkuganmu, membaca perasaan dan hati orag-orang yang kurang beruntung daripada dirimu. Mengeja dan meresapi kesedihan demi kesedihan kaum yang memburtuhkan pertolonganmu. Bercita-citalah menjadi apa saja yang kau mau selagi itu tidak berlawanan syariat agamamu. Namun, dari sekian cita-cita itu, ayah ingin kau tetap menjadi seorang pembaca yang memahami. Seorang guru pun harus membaca untuk menyalurkan ilmunya pada murid. Seorang dokter harus membaca penyakit pasiennya agar ia tepat memberi obat demi kesembuhan pasiennya. Seorang pesepakbola, harus membaca pergerakan lawan agar ia memenangkan pertandingan. Bahkan seorang tukang sol sepatu pun harus membaca agar ia tepat menjahitkan jarum dan benangnya tepat pada tempat yang ia kehendaki. Sekali lagi anakku, membaca itu bukan hanya mengeja tulisan tetapi melihat, mengerti, dan memahami keadaan dimana kau harus menempatkan dirimu. Juga di waktu kapan kau harus berbuat agar amalmu bermanfaat bagi dirimu juga orang-orang di sekitarmu.
Anakku, jadilah orang yang pandai bersyukur. Tanamkanlah dalam kebiasaanmu untuk selalu mengucapkan “Alhamdulillah”. Dari kata sederhana itulah mampu meredam ketamakan. Dengan kata itu pula kau tidak akan merasa kekurangan apapun. Apa yang kau dapatkan dan apa yang ada dihadapanmu itulah anugerah yang diberikan Allah padamu. Jika kau pandai bersyukur, anakku, maka kau akan merasa bahwa segala yang ayah berikan padamu meski kenyataannya jauh dari cukup akan akan dapat membuatmu merasa bahagia.
Anakku, engkaulah cahaya masa depan silsilah, pelita do’amulah yang mampu menerangi gelapnya peradilan kuburku nanti. Doamu pada orang tuamu bagaikan mata air yang tiada ada keringnya. Dengan doamu Allah memperlebar pengampunan ayahmu ini kelak di akhirat. Maka rajin-rajinlah mencari ilmu akhirat anakku. Setelah kau lahir ke dunia nanti, dan saat usiamu telah beranjak memahami keadaan dunia, ayah berencana akan membawamu ke guru ngaji atau ke pesantren. Di sana kau akan belajar tentang syariat islam, tentang Aqidah, tentang Akhlaq, dan tentang Fiqih.
Tidakkah kau tahu anakku, orang yang ahli ilmu fiqih itu lebih utama daripada seribu orang ahli ibadah. Maka dari itu, ayah ingin kamu tidak hanya memperkaya dirimu dengan ilmu keduniawian tetapi juga ilmu syariat. Walau kelak kau tidak mau jadi kyai atau da’i itu tak masalah bagiku, ankakku. Asalkan kau mau mempelajarinya dan minimal kau amalkan untuk dirimu sendiri, syukur-syukur bisa kau ajarkan pada anak-anakmu kelak.
Anakku, harapanku, ayah tak ingin munafik. Ayah memang bukan orang yang pintar dan pandai tentang ilmu apapun. Namun, jika memang ayah bodoh biarlah ayah saja yang bodoh. Jadilah kamu putra-putri ayah yang pandai. Pergunakanlah ilmumu agar berguna bagi orang lain. Karena salah satu amal yang tak akan putus pahalanya adalah ilmu yang berguna.
Matahariku, simpan baik-baik surat ini sebagaimana kau menyimpan hartamu. Kelak jika kau dirundung putus asa, bukalah lembaran ini, sebagaimana kau menemui ayahmu untuk meminta sedikit kata nasihat. Tak banyak harta yang akan ayah titipkan padamu, maka jika kau tuntut harta yang melimpah maka tuntutlah dirimu sendiri. Membuatmu menjadi anak yang pandai segala ilmu agama dan dunia itulah harta ayah. Pergunakan itu semua dengan sebaik-baiknya. Ayah sangat menyayangimu. Ayah tak ingin kau terjerembab ke jurang gelap kemaksiatan. Terangilah selalu dirimu dengan bacaan AlQur’an.
Hanya ini selembar isi hati ayah yang begitu ayah ingin sampaikan padamu. Jangan pernah menyerah untuk menjalani hidup. Semoga kelak kau menjadi matahari yang mampu memberi manfaat kepada setiap orang tanpa mengharapkan pamrih.
Cinta ayah selalu untukmu.

Dari ayahmu
Yang menaruh harapan besar padamu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar