Minggu, 21 November 2010

Kyai Mbeling

Sabtu, 20 November 2010

LOMBA terbaru

Deadline: 10 Desember 2010

Show Up Your Talent!
Keputrian SKI ( Sentra kegiatan Islam ) Institut Teknologi Telkom- Bandung, mengajak Kamu-kamu untuk unjuk kebolehan dalam rangkaian acara Princess Day 2010. Salah satunya adalah Kompetisi Nasional menulis cerita pendek dan fotografi. Kompetisi ini merupakan sarana pengembangan bakat dan minat peserta dalam bidang menulis dan Fotografi. Berikut adalah syarat dan ketentuannya :
Ketentuan Umum ( Berlaku untuk Kategori Menulis Cerpen & Fotografi ) :
Kompetisi ini berskala nasional, dan terbuka untuk siswi SMA dan Mahasiswi di seluruh Indonesia.
Tema : Wanita Inspiratif Pembangun Peradaban
Judul cerpen dan tema foto bebas tetapi harus mengacu pada tema.
Setiap peserta diperkenankan mengirimkan maksimal 3 karya.
Karya harus original dan belum pernah dipublikasikan.
Hadiah untuk masing-masing kategori :
Juara 1 : Rp. 1.000.000,- + SERTIFIKAT + HADIAH SPONSOR
Juara 2 : Rp. 750.000,- + SERTIFIKAT + HADIAH SPONSOR
Juara 3 : Rp. 500.000,- + SERTIFIKAT + HADIAH SPONSOR
Pengumpulan karya paling lambat tanggal 10 Desember 2010, dan tidak dipungut biaya apapun ( GRATIS )
Keputusan Dewan Juri tidak bisa diganggu gugat, dan karya yang dikompetisikan mutlak menjadi milik Panitia PD 2010.
Ketentuan Khusus Kompetisi menulis cerpen :
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia literer (indah, menarik, mengalir) dan komunikatif. Bahasa gaul dan bahasa daerah/asing dapat digunakan untuk segmen dialog para tokohnya – jika itu diperlukan dan sesuai dengan tema
Naskah ditulis di kertas ukuran kuarto, dengan aturan sebagai berikut :
• spasi 1,5; Times New Roman; ukuran font 12
• margin justified 2 cm
• panjang naskah antara 3 – 5 halaman
Ketentuan Khusus Kompetisi Fotografi :
Hasil karya sendiri, orisinil dan bukan hasil rekayasa digital dengan menggabungkan 2 (dua) foto atau lebih, beserta unsur-unsur/elemen foto lain ke dalam foto yang diikutsertakan dalam lomba
Jenis kamera bebas kemudian foto dicetak dalam ukuran 4R (10,2 x 15,2 cm) berwarna ( tidak monochrome )
Ketentuan Pendaftaran dan Pengiriman Karya :
Karya yang dilombakan beserta fotokopi KTP/KTM dan biodata diri dimasukkan ke dalam amplop ( boleh berisi maksimal 3 karya dengan kategori berbeda), cantumkan tulisan PESERTA KMC untuk Kompetisi Menulis Cerpen atau PESERTA KF untuk Kompetisi Fotografi -Princess Day-(Nama Anda)-Kampus/ kota tempat tinggal Anda di pojok kanan atas amplop, Contoh ESERTA KF-PRINCESS DAY-La Nashia Baraqbah-Bandung
Kirim karya anda Kepada Panitia Princess Dat 2010 , Alamat : Sekretariat Sentra Kegiatan Islam, Student Center Lantai 1 IT Telkom Jl.telekomunikasi no.1 dayeuh kolot, sukabirus bandung. 40257
Peserta wajib mengirimkan email konfirmasi pengiriman ke princessday2010@gmail.com dengan subject : LP-Princess Day-2010 – (Nama Anda)-Kampus/kota domisili .
Pengumpulan karya paling lambat tanggal 10 Desember 2010
Hasil lomba diumumkan tanggal 19 Desember 2010 dalam acara puncak Princess Day ”I AM A GREAT WOMAN” dan dapat dilihat di www.princessday2010.blogspot.com
Cp : Nadia.085266262932 // Eva.085222420129

Surat Dari Ayah, untukmu Nak

Untuk calon Anakku
Bintang, permata, dan penghuni harapan sanubari hatiku

Ingatlah untai kata dari ayah ini
Anakku, saat surat ini tiba di atas telapak tanganmu yang awam akan segala bentuk muka dunia. Perlakukanlah surat ini sebagaimana ayah bicara padamu, sebagaimana ayah akan mendudukkanmu di pangkuan dan bercerita padamu. Tentang masa kecil ayah dulu yang tak pernah kamu bayangkan dan betapa ayah berharap agar tak akan kau alami kelak jika kau hadir ke dunia ini. Masa-masa dimana kesukaran begitu membelenggu usaha ayah untuk bisa tetap duduk di bangku kayu sekolah ayah dulu. Jika nanti kau mampu membuka mata pada pendidikanmu yang semakin mahal, maka jangan menyerah dan berputus asa. Teruslah berlari, jangan pernah takut terjatuh.
Anakku, kelak jika kau telah dewasa dan ayahmu ini hanya tinggal nama. Jangan berlebihan meratapi kehilangan diriku. Ingatlah tiap manusia sudah ditentukan ajalnya. Hadapi kehidupanmu dengan tegar, sebab kau tak akan pernah menjumpai seorang makhluk pun yang hidup di dunia ini tanpa pernah mengalami kesulitan dan kehilangan. Saat kau berada di posisi yang terburuk dalam kehidupanmu, jangan pernah sekali-kali kau berkata bahkan berpikir Allah itu tak adil bagimu. Tidakkah kau lihat, anakku. Segala yang diciptakannya di dunia ini selalu terdiri dua hal yang saling menyempurnakman dan dari itu kau dapat mengambil hikmah satu sama lain . Jika kau sedang jatuh cinta, maka kau akan merasakan patah hati untuk menghargai cinta. Jika kau memiliki sesuatu, maka ia akan menghilangkannya agar kamu merasa bagaimana seharusnya memiliki. Begitu juga jika kau diberi sesuatu yang banyak maka kelak kau akan diberi yang sedikit agar dapat mensyukuri apa yang telah diberikan padamu.
Anakku, jika kau tiba ke dunia nanti, ayah ingin kau selalu rajin membaca, bukan sebab wahyu nabi yang pertama karena diperintahkan membaca. Namun jika kau mau merenung, maka segala apa yang kau ingin kau ketahui tentang dunia ini membaca adalah kuncinya. Maksud Ayah bukan hanya membaca sesuatu yang di dalamnya termaktub tulisan, anakku. Namun, juga membaca alam, keadaan lingkuganmu, membaca perasaan dan hati orag-orang yang kurang beruntung daripada dirimu. Mengeja dan meresapi kesedihan demi kesedihan kaum yang memburtuhkan pertolonganmu. Bercita-citalah menjadi apa saja yang kau mau selagi itu tidak berlawanan syariat agamamu. Namun, dari sekian cita-cita itu, ayah ingin kau tetap menjadi seorang pembaca yang memahami. Seorang guru pun harus membaca untuk menyalurkan ilmunya pada murid. Seorang dokter harus membaca penyakit pasiennya agar ia tepat memberi obat demi kesembuhan pasiennya. Seorang pesepakbola, harus membaca pergerakan lawan agar ia memenangkan pertandingan. Bahkan seorang tukang sol sepatu pun harus membaca agar ia tepat menjahitkan jarum dan benangnya tepat pada tempat yang ia kehendaki. Sekali lagi anakku, membaca itu bukan hanya mengeja tulisan tetapi melihat, mengerti, dan memahami keadaan dimana kau harus menempatkan dirimu. Juga di waktu kapan kau harus berbuat agar amalmu bermanfaat bagi dirimu juga orang-orang di sekitarmu.
Anakku, jadilah orang yang pandai bersyukur. Tanamkanlah dalam kebiasaanmu untuk selalu mengucapkan “Alhamdulillah”. Dari kata sederhana itulah mampu meredam ketamakan. Dengan kata itu pula kau tidak akan merasa kekurangan apapun. Apa yang kau dapatkan dan apa yang ada dihadapanmu itulah anugerah yang diberikan Allah padamu. Jika kau pandai bersyukur, anakku, maka kau akan merasa bahwa segala yang ayah berikan padamu meski kenyataannya jauh dari cukup akan akan dapat membuatmu merasa bahagia.
Anakku, engkaulah cahaya masa depan silsilah, pelita do’amulah yang mampu menerangi gelapnya peradilan kuburku nanti. Doamu pada orang tuamu bagaikan mata air yang tiada ada keringnya. Dengan doamu Allah memperlebar pengampunan ayahmu ini kelak di akhirat. Maka rajin-rajinlah mencari ilmu akhirat anakku. Setelah kau lahir ke dunia nanti, dan saat usiamu telah beranjak memahami keadaan dunia, ayah berencana akan membawamu ke guru ngaji atau ke pesantren. Di sana kau akan belajar tentang syariat islam, tentang Aqidah, tentang Akhlaq, dan tentang Fiqih.
Tidakkah kau tahu anakku, orang yang ahli ilmu fiqih itu lebih utama daripada seribu orang ahli ibadah. Maka dari itu, ayah ingin kamu tidak hanya memperkaya dirimu dengan ilmu keduniawian tetapi juga ilmu syariat. Walau kelak kau tidak mau jadi kyai atau da’i itu tak masalah bagiku, ankakku. Asalkan kau mau mempelajarinya dan minimal kau amalkan untuk dirimu sendiri, syukur-syukur bisa kau ajarkan pada anak-anakmu kelak.
Anakku, harapanku, ayah tak ingin munafik. Ayah memang bukan orang yang pintar dan pandai tentang ilmu apapun. Namun, jika memang ayah bodoh biarlah ayah saja yang bodoh. Jadilah kamu putra-putri ayah yang pandai. Pergunakanlah ilmumu agar berguna bagi orang lain. Karena salah satu amal yang tak akan putus pahalanya adalah ilmu yang berguna.
Matahariku, simpan baik-baik surat ini sebagaimana kau menyimpan hartamu. Kelak jika kau dirundung putus asa, bukalah lembaran ini, sebagaimana kau menemui ayahmu untuk meminta sedikit kata nasihat. Tak banyak harta yang akan ayah titipkan padamu, maka jika kau tuntut harta yang melimpah maka tuntutlah dirimu sendiri. Membuatmu menjadi anak yang pandai segala ilmu agama dan dunia itulah harta ayah. Pergunakan itu semua dengan sebaik-baiknya. Ayah sangat menyayangimu. Ayah tak ingin kau terjerembab ke jurang gelap kemaksiatan. Terangilah selalu dirimu dengan bacaan AlQur’an.
Hanya ini selembar isi hati ayah yang begitu ayah ingin sampaikan padamu. Jangan pernah menyerah untuk menjalani hidup. Semoga kelak kau menjadi matahari yang mampu memberi manfaat kepada setiap orang tanpa mengharapkan pamrih.
Cinta ayah selalu untukmu.

Dari ayahmu
Yang menaruh harapan besar padamu

Rabu, 03 November 2010

feature

Bukanlah akhir Perjuangan

Matahari mengawali hari, memancarkan sinarnya di sela-sela pepohonan dan bangunan di kompleks ASWAJA. Di halaman telah terparkir begitu banyak kendaraan bermotor sebagaimana biasanya. Namun, hari itu ada yang berbeda. Sebagian wali santri kira-kira sejak pukul enam pagi telah memasuki ndalem untuk sowan Abah Kyai Masyrokhan. Beberapa santri putra dan putri berpakaian hitam dengan samir bergambar logo Unnes berwarna kuning keemasan yang telah terpasang di lehernya.
Mbak Ngamik Qongidah sudah berpenampilan rapi dengan kebaya barunya lengkap dengan baju wisuda. Wajah mahasiswa Geografi yang akan mengakhiri masa studinya dari Kampus Sekaran ini telah tampak terias. Tak ketinggalan toga yang akan dia pakai untuk menghadiri upacara penyematan wisuda, di Auditorium Unnes, Selasa (19/10). Mbak Ngamik dan 24 santri lainnya, untuk periode kedua tahun ini sudah layak menyandang gelarnya sebagai santri intelektual, yaitu sarjana pendidikan. Menurut wanita asal Kebumen ini, meski wisuda bukanlah akhir dari perjuangan, akan tetapi pencapaian mendapat gelar itu terasa sekali kepuasannya,
Juga sebagaimana yang diucapkan mbak Ita “Wah rasanya benar-benar plong, untuk menuju tahap selanjutnya lebih mantap untuk diseriusin”, Tuturnya.
Entah perasaan apa yang ada dalam hati mereka. Pancaran wajah para wisudawan itu memperlihatkan kelegaan dan kepuasan tersendiri. Meskipun gelar itu sudah dalam genggaman tak sepatutnya menjadi sarana bersombong ria. Gelar itu tak kan berarti apa-apa tanpa kontribusi nyata untuk kemaslahatan masyarakat dan pengabdian pada agama. Karena wisuda merupakan tahapan awal dalam menapaki lembaran hidup baru. Selamat melaju kange dan mbae wisudawan dalam tahapan hidup yang lebih bergelombang. (Dian)

BENARKAH, LEBIH BANYAK WISUDAWAN LEBIH BANYAK PENGANGGURAN?

Wisuda merupakan sebuah kata yang selalu ditunggu oleh para mahasiswa. Wisuda membutuhkan banyak sekali perjuangan, karena wisuda merupakan simbol berakhirnya titel mahasiswa. Satu hal yang terpenting, semakin mirisnya perjuangan para sarjana untuk menapaki kehidupan selanjutnya, tak selamanya hidup itu indah, sehingga semuanya membutuhkan perjuangan lebih.
Mahasiswa merupakan agent of change, tanpa semangatnya mungkin Indonesia tak bisa menerapkan sistem demokrasi. Mahasiswa memperjuangkan hak asasi manusia, menyalurkan aspirasi rakyat, dan yang terpenting mereka telah menerapkan sistem demokrasi di Indonesia. Mahasiswa sangat berpengaruh besar terhadap kemajuan bangsa, karena mereka telah diajari bagaimana kehidupan yang sesungguhnya. Usia yang telah cukup, dan kemampuan yang cakap mendorong mereka untuk selalu bangkit, mereka tak hanya berpangku tangan, menerima semua keputusan, namun ilmu dan akal bersatu guna sebagai filter mana yang benar dan mana yang salah.
Berakhirnya titel sebagai mahasiswa, justru merupakan sebuah tantangan besar, karena hidup tak hanya sampai digelar sarjana. Setidaknya, mereka harus bisa menerapkan ilmu yang mereka peroleh, apalagi mengamalkannya. Memang benar, mahasiswa kuliah untuk mencari bekal, baik ilmu pengetahuan ataupun pengalaman, namun, pada zaman sekarang, banyak orang tak mengerti tujuan utama kuliah, mereka hanya mencari selembar kertas, yang katanya bisa untuk merubah segalanya. Ijazah memang penting, karena tanpa ijazah kita tak bisa berbuat apapun, namun setidaknya kita sebagai manusia yang bermoral, harus bisa berperilaku lebih, kita kuliah untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya yang kemudian bisa kita pergunakan untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Nah, ijazah sebagai syarat formalnya. Kunci utamanya adalah bersungguh-sungguh dalam kuliah, mengingat usia yang tak menentu dan takdir yang tidak kita tahu.
Zaman sekarang, sulitnya menjalani hidup setelah diwisuda, mengingat jumlah lulusan dengan lowongan yang tak sebanding. Persaingan yang semakin ketat meciptakan jumlah pengangguran semakin banyak. Untuk itu, dibutuhkan sarjana yang kreatif, tanpa harus menggantungkan hidupnya kepada orang lain, mereka harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, sebagai bukti bahwa mahasiswa tak sekedar nama beken, namun benar-benar sebagai agent of change.
“lebih banyak wisudawan, lebih banyak pengangguran”, kata yang sering terucap namun sangat tak diharap. Untuk itu, kita sebagai mahasiswa harus bisa menghapuskan kata tersebut, berusaha menjadi mahasiswa kreatif, mandiri dan dinamis. Semangat untuk para sarjana!!! (Mamila)

Berita Utama

TASYAKURAN WISUDAWAN SANTRI
ASWAJA UNTUK SELAMANYA

Tasyakuran wisudawan santri aswaja kembali dilaksanakan dengan tema “Aswaja untuk Semua”. Pembawa acara (kang Wahyu dan kang Alto, red) membuka tasyakuran wisudawan santri aswaja di halaman parkir ponpes aswaja, Banaran, Sekaran, Gunungpati, jumat (22/10).

Pondok Pesantren Durotu Ahlussunah Wal Jamaah ada di Banaran, Sekaran, Gunungpati. Mayoritas santrinya berstatus mahasiswa. Tak Heran jika pondok tersebut sarat akan kegiatan. Pada hari Jumat (22/10) kemarin tasyakuran wisudawan santri kembali dilaksanakan dengan tema “Aswaja untuk Selamanya”. Pembawa acara (kang Wahyu dan kang Alto, red) membuka tasyakuran wisudawan santri aswaja yang ada di halaman parkir Pondok pesantren Durrotu ahlussunah wal jamaah.
Acara dikemas secara rapi mulai tahlil, tilawah, sambutan-sambutan, kesan-pesandari wisudawan dan terakhir mauidhoh khasanah dari Abah yai Masrokhan. Malam itu tempat parkir ramai dipenuhi ratusan santri, 25 diantaranya dari wisudawan dengan rincian 13 orang santri dari wisudawan putri (mba’e) dan 12 orang santri dari wisudawan putra (kange). Acara dimulai pukul 21.00 berjalan dengan lancer. Para audience mendengarkan dengan khidmat, terutama saat wisudawan naik ke atas panggung menyampaikan kesan-pesan dan perform. “Sopan santun lebih dibutuhkan”. Ujar kang Nasihu, mewakili wisudawan putra.

Sampai menangis
“Ternyata dalam hidup bermasyarakat yang dibutuhkan itu sopan santun bukan pintarnya.” Tambahnya. Sementara dari wisudawan putri diwakili oleh mbak Nina. Ia terharu sampai mengeluarkan air mata waktu menyampaikan kesan-pesan. Setelah itu perform dari wisudawan lewat puisi lima bahasa dengan judul “Durrotu Aswaja” karya NA/05, yang dibacakan oleh kang Memed (bahasa jepang), kang Yen (bahasa Indonesia), kang Ngizudin (bahasa jawa), mbak Shoimah (bahasa arab), mbak Luluk Alawiah (bahasa inggris). Kemudian acara itu di tutup mauidhoh dan doa oleh Abah Yai Masrokhan. Selamat Ya….(arsai)

POEM

Tanpa judul

Kesendirianku membuatku ngilu
Perih, letih
Berjalan terbata
Menyusuri lorong hampa
Hanya bayangan semu kawan abadi
Sampai habis waktu kiranya

Dan kini aku terpana
Melihat selaksa biru anggun
Menghampiri lelap gelap
Ternyata sang malaikat
Yang mungkin dikirim-Nya khusus menemani lelapku
Aku damai,
Indah,
Teduh
.
Tapi
Ah…..sinar mentari itu
Menghancurkan mimpiku!










Jika kau, aku akan, aku pasti

Jiak kau butuh
Aku akan menjauh
Jika kau datang
Aku akan menghilang
Jika kau menangis
Aku akan terbahak
Jika kau tersenyum
Aku akan tersedu
Tapi jika kau mati
Aku pasti mati……hwehehe…

Oleh Aminatuz

“Saya Khawatir Kreativitas Santri (PPDAW) Pudar….”

Judul yang saya lontarkan di atas itu mungkin hanya pernyataan kegelisahan sederhana dari saya kepada jenengan semua, syukur-syukur ada yang baca. Maaf kalau memang agak sinis, atau mungkin ada yang ilfeel dengan apa yang saya nyatakan atau bahkan bertanya-tanya (mosok sih? Ah kuwe iki ngawur -saya mencoba menebak benak jenengan-¬). Saya hanya mengambil beberapa kesimpulan kecil dari apa yang selama ini saya lihat -sendirian, selaku yang merasakan- dengan apa yang telah menjadi fenomena.
Kalau dulu sewaktu saya masih semester satu. Saat itu masih begitu polos dan imut-imutnya, melongo melihat kang-kang dan mbak-mbake yang luar biasa bakatnya di bidang apapun. Contoh kecil sajalah, kalau gede tak ada tempat untuk nampung, terus terang pertama kali saya melihat Grup Vokal pondok Aqila Voice yang dimotori Kang Yasin, Pak Cik, Kang Memed, dan sepiturutnya, saya bergumam pada diri saya sendiri itulah pertama kalinya saya melihat performance acapela secara langsung bukan dari tivi, radio, atau pun dari layar ajaibnya mbah Google. Lebih-lebih waktu saya dipameri penghargaan yang mereka raih dari beberapa kompetisi yang mereka juarai, saya hanya bergumam “Weleh-weleh, kondhang tenan iki”. Dan sekarang? Memang masih ada, tapi hanya berupa sebuah inisiatif yang tak pernah terbentuk.
Di bidang lainnya, bidang tul-menul atau tulis-menulis (maaf, ini tidak ada unsur promosi suatu UKP apapun) paling tidak tiap tahunnya pasti ada delegasi pondok yang ikut dikirim ke ajang kompetisi regional hingga nasional. Ada yang menggondol emas milik PIMNAS (bukan maling, tapi juara), ada juga yang langganan juara LKTM Jawa Tengah. Saya acungi jempol lima untuk mereka, dua jempol kaki dan dua jempol tangan, satunya pinjam jempol jenengan, atas kreativitas yang luar biasa itu. Dan sekarang? Memang masih ada, tapi hanya secuil orang, seperempat cuilan malah dan lagi-lagi itu hanya berbentuk angan-angan.
Penasarannya, Dimanakah kreativitas-kreativitas luar biasa itu tersisa di pondok ini? Apa ya dibawa pendahulu-pendahulu itu semuanya tanpa menyisakan sekelumit untuk adik-adiknya ini. Kalau mau belajar dari sejarah (sekali lagi maaf, ini tak bermaksud mengunggulkan jurusan atau prodi tertentu) seharusnya kita bisa termotivasi untuk menyetarakan dan sedikit sajalah mengungguli apa yang dulu-dulu mereka raih. Jika melihat semakin terpenuhinya fasilitas yang ada seharusnya pula itu bisa menjadi media penunjang bagi kita.
Baru kemarin saya ditelpon salah satu penggagas buletin ini, yang sekarang ia sudah menyalurkan ilmunya di TBS Kudus. Ya, ia anggota si kembar dari Gua Hantu, ups keceplosan, maksud saya si kembar dari Gebog Kudus, Kang Ahsin. Saya sedikit curhat padanya, kok sekarang minat-minat itu semakin menghilang ya? Beliau hanya menjawab, bukan menghilang tapi teralihkan ke perhatian yang lain, yang perhatian itu menurut mereka lebih ringan untuk dijalani. Sebenarnya minat itu ada, tapi kesanggupan dan kesediaan menyempatkan itu tidak ada (sebagaimana ngendikanipun Abah, Mau-Mampu-Menyempatkan).
Bagaimana pun, saya tetap khawatir kreativitas yang menelurkan seabrek prestasi yang dulu saya kagumi itu pudar begitu saja. Saya betul-betul tidak rela, jika santri (PPDAW) yang lebih disiplin ini kalah prestasinya dibanding anak kos-kosan. Setelah membaca tulisan ini, Tapi apa mungkin jenengan akan nyadar? Semoga sajalah, wallahu a’lam. Wahyu Ameer*.

*Penulis adalah mahasiswa prodi Sastra Indonesia 2007. Anggota Lab Teater dan Film Usmar Ismail. Pernah menulis di Swara Muda (Suara Merdeka) juga Tabloid Nuansa, Enam cerpennya telah termuat di Annida, salah satunya berjudul Dia Bukan Teroris menjadi cerpen terfavorit bulan Maret 2010. Cerpen Kiriman Terakhir mendapatkan penghargaan ketiga pada kompetisi cerpen Islami FBS Unnes (2009). Puisi berjudul Izrail menjadi pemenang dalam kompetisi Semarak Indonesia 2009, yang dibacakan pada lomba baca puisi SMA se-Jawa Tengah. Pernah menjadi editor buku Kartini Sang Pembaharu (Proyek Kabag Humas Jepara, 2010). Dua karyanya juga telah ikut diterbitkan dalam antologi buku bersama Aku dan Masa Silam (Hitam-Putih Publishing, 2010) dan Singkong bukan Singkong (Polifenol Publishing, 2010).