Minggu, 23 Mei 2010
cerpen by wahyu ameer
Bapak tak pernah tahu kalau sebenarnya ada yang aneh dengan anak bungsunya. Begitu pula dengan adik-adikku yang lain, tak sedikit pun terbesit dalam pengamatan mereka ada hal yang janggal dengan tingkah laku Lastri. Seno dan Agung tak menyadari perbedaan sosok Lastri dengan perempuan sebayanya. Perbedaan yang begitu parahnya bagiku.
Adik perempuanku tak pernah mau memakai BH. Tak ada lapisan bedak di pipinya seperti wanita muda pada umumnya. Ia tak peduli lagi dengan penampilannya. Diam-diam aku tahu isi lemarinya sudah tak ada lagi rok, gaun, atau pula kebaya. Hanya ada jeans, celana pendek, dan bertumpuk-tumpuk kaos. Di meja riasnya pun tak kujumpai ada wewangian yang beraroma feminim. Gincu pun tak ada. Puntung rokok berserakan di lantai. Seprai dibiarkannya tak rapi. Bahkan sesekali kutemukan sebotol kecil minuman keras yang merknya asing bagiku. Suasana kamarnya awut-awutan.
Pernah aku melihat Lastri memanjat pohon kelapa. Astaga, pikirku. Pohon kelapa setinggi tujuh meter dipanjat gadis dua-puluh tahun. Aku sendiri pun bergidik bila disuruh menatap lantai dasar saat berada di balkon. Seperti lelaki saja ulah Lastri.
Saban bakda magrib, ia telah melenggang hilang dari rumah. Kata bapak ia bekerja shift malam di swalayan yang buka dua-puluh empat jam nonstop. Bagiku itu konyol. Memangnya tidak ada kerjaan lain, selain jaga malam. Pakaiannya pun menurutku tidak menunjukkan kalau dia seorang karyawan. Lebih pantas disebut mau dugem. Aku menangkap tanda kalau ia hanya kelayapan saja.
Bukannya aku tak sependapat jika zaman sekarang perempuan bisa sederajat dengan laki-laki. Tapi bukan untuk urusan kodrat, bukan? Aku paham, bukan saatnya perempuan terkungkung dalam rumah. Tahunya Cuma dapur, sumur, dan kasur. Kali ini berbeda. Lastri tak mau lagi menamai dirinya perempuan. Ia tak mau disebut sebagai seorang hawa. Hingga saat ini pun ia tak mau membuat KTP meski usianya sudah cukup. Sebab ia tahu petugas kecamatan akan menyodorinya formulir yang berisi pilihan jenis kelamin. Laki-laki atau perempuan. Itu akan menyinggung perasaannya.
Aku pun maklum dan tak mau memojokkan Lastri. Ia kubiarkan bebas pada prinsipnya itu. Jika ada yang aku sayangkan, yang mungkin juga akan disesali ibu, karena belum sempat melihat adik terkecilku menikah. Mendapat seorang pasangan hidup yang mampu menyayanginya lahir maupun batin. Berumah tangga dengan laki-laki yang bertanggung jawab pada keluarga. Tapi barangkali jika ibu mengetahui keadaan Lastri seperti sekarang ini, aku tak bisa membayangkan betapa kecewanya ibu pada Lastri. Untungnya cuma aku saja yang memperhatikan tingkah polah anehnya. Kalau bapak menyadarinya bisa kumat mendadak darah tinggi beliau. Seno dan Agung, yang aku paham keduanya amat temperamen, akan tega mereka memaki Lastri habis-habisan. Pasti sudah sangat malu mereka.
Bercak-bercak cahaya keemasan menempel di dinding, menembus pori-pori ventilasi ruang tamu. Menandakan senja telah datang ke tempat kami tanpa ungkapan permisi terlebih dahulu. Tanah di halaman menjadi gembur akibat ulah nakal hujan mengguyur siang tadi tiada ampun. Masih tersisa tetesan-tetesan kecil di antara rimbun daun jambu air yang menjalar rantingnya kemana-mana. Sore; Indahnya bisa aku rasakan ketika saat itu juga aku membayangkan ibu masih berkumpul bersama kami. Lastri akan begitu senangnya duduk di samping ibu. Meski hanya duduk di beranda memandangi orang-orang berseliweran. Suasana seperti itu begitu membuatku kangen. Ah, aku rindu keluargaku yang utuh. Semenjak wafatnya ibu (ketika itu umur Lastri tujuh tahun) cuma Lastri satu-satunya perempuan di keluarga ini. Semoga ibu tenang di alam sana.
Pekarangan telah tak tampak seperti dulu. Bunga-bunga matahari yang dulu ditanam ibu kini berubah menjadi ilalang dan rerumputan menjulang berlomba-lomba membuktikan diri yang tertinggi. Mawar putih dan merah hanya terlihat batang berdurinya yang kurus kering. Dipan bambu buatan bapak sudah tak segagah dulu. Pikiranku tak lagi di Surabaya. Aku tinggalkan anak-anak dan istriku di sana, di rumah mertuaku. Dua bulan ini aku silang tugas dengan rekanku. Sebenarnya, sebelum aku mendapat tugas di kampung halamanku ini, aku akan di tempatkan di Makasar. Kebetulan ada salah satu teman orang Manado yang mau bertukar tempat denganku. Atasanku menyetujuinya. Jadilah aku bertugas sambil tengok keluarga.
Terlintas begitu saja di benakku untuk mengambil sebatang rokok kretek yang sejak tadi pagi mengerami kantong bajuku. Pantas saja mulutku terasa hambar. Rupanya seharian ini tak satu pun rokok tersulut di bibirku. Kusulut satu. Asap putih mengepul. Plong rasanya. Rokok memang teman ternikmat untuk melayangkan pikiran.
“Surya”.
Suara bapak membuyarkan imaji-imaji dalam pikiranku. Diletakkannya sepiring pisang goreng di samping tempatku duduk melamun. Bapak duduk juga di sebelah piring tersebut. Ikut pula memandangi pagar dan lalu lalang anak-anak kampung yang bergegas menuju Langgar. Usianya yang telah menyongsong senja tertutupi oleh keriput di wajah. Rambutnya tampak seperti guratan salju yang putih. Jika disuruh membuat daftar orang-orang yang aku kagumi di dunia ini, bapak akan kutempatkan pada temapat terdepan. Beliau sosok yang amat demokratis. Membebaskan putra-putrinya mencari jati diri masing-masing.
Di masa tangguhnya pemerintahan orde baru, aku sering bersitegang dengan ibu karena menolak mengikuti partai yang bapak anut saat itu. Maklum saja saat itu bapak bekerja sebagai pegawai negeri rendahan yang ditekan agar mengikuti partai yang dianut pula oleh atasannya. Gejolak muda yang dipenuhi idealisme tinggi membuatku kokoh pada peran rasa anti diktator. Aku tetap tak mau mengikuti partai bapak. Ibu pun mengancamku tidak akan membiayai kuliahku jika aku tetap pada pendirianku. Namun bapak dengan mudahnya memberi jalan tengah. Beliau tetap menjamin kuliahku, begitu juga dengan idealismeku. Dengan satu syarat agar aku tetap memperjuangkan ideologi yang aku junjung tidak setengah-setengah.
Kesempatan yang diberikan bapak tidak kusia-siakan. Dan hasilnya, tahun 1998 telah tercatat dalam sejarah Indonesia sebuah perubahan besar yang pernah ada di negeri ini. Kekuatan yang mampu menggulingkan keotoriteran penguasa. Bersatu dari penjuru negeri ini meski ada beberapa teman kami yang menjadi tumbal. Meskipun perjuangan itu seakan bagai mencabuti ilalang. Satu musnah, lalu muncul yang lainnya. Justru yang lain inilah yang membunuh rakyat pelan-pelan. Sebab di luarnya mereka tampak mengangung-agungkan aspirasi kaum papa. Pada kenyataannya mereka sendiri yang menjadi racun arsenik, tanpa rasa, tanpa bau, tetapi mematikan.
Bapak terlihat meluap-luap seolah hendak mengungkapkan sesuatu.
“Adik perempuanmu….”, Bapak memulai pembicaraan.
“Ada apa dengan Lastri?” Tanyaku datar.
“Lamaran si Sodik anak Haji Sarkum ditolaknya, Bapak jadi semakin bingung, lelaki seperti apa yang diinginkan adikmu itu, yang kaya tak mau, yang tampan berpendidikan pun tak mau pula”. Ungkap bapak.
“Bapak paling tidak bisa jika harus memaksa Lastri, kamu tentu paham apa yang bapak maksudkan”, sambung bapak.
Suatu kali bapak juga pernah bercerita tentang lamaran-lamaran pemuda kampung. Namun tanpa cang-cing-cong ditolak pula oleh Lastri. Lamaran Sodik adalah dari kesekian kalinya yang kembali ditolaknya. Kuakui paras adikku memang lumayan cantik. Hidungnya seperti hidung ibu, mungil tapi mancung. Matanya tampak teduh dengan bola mata yang hitam. Tingginya pun lumayan. Kulitnya juga putih bersih. Banyak lelaki kampung yang tergila padanya.
Untuk ukuran pemuda yang akan berkeluarga kurasa Sodik cukup dalam hal kematangan materi. Sebagai seorang kepala kantor transmigrasi pasti terpenuhilah gajinya untuk membiayai keluarganya. Lebih-lebih ia sebagai pewaris tunggal berhektar-hektar sawah ladang Haji Sarkum. Tampang tak mengecewakan. Jebolan pesantren pula. Kurang apalagi pada diri seorang Sodik. Tapi mau bagaimana lagi, Lastri tetap menolak pinangannya. Dibujuk seperti apapun ia tetap keras kepala. Kelihatannya tidak ada niat dalam diri Lastri untuk menikah. Bahkan yang aku tahu tegur sapa dengan laki-laki di luar rumah ini pun kalau terpaksa. Apa aku harus membiarkan ia jadi perawan tua.
Saat upacara tedak-siten anakku yang pertama. Aku pernah berusaha meminta bapak membujuk Lastri turut serta ke Surabaya. Niatku mengenalkannya dengan saudara jauh istriku, putra sulung pengusaha tekstil dari Tuban. Siapa tahu hatinya agak lunak. Tetap saja hasilnya percuma.
Dengan segala keanehan tingkah polah Lastri aku tetap mencoba tak memusingkan diri. Aku hanya khawatir dengan bapak. Aku tak mau bapak bertambah beban pikiran di usia pensiunnya. Semoga saja Lastri tidak melakukan hal yang macam-macam, yang mungkin akan membuat gempar keluarga ini. Tapi mengapa harus aku duluan yang menyadarinya. Dan mengapa hatiku selalu menolak tiap ingin merembug masalah ini dengan Bapak. Tak munafik. Aku pun malu jika sanak-saudara lainnya tahu. Jika aku malu, lalu bapak akan seperti apa. Disingkirkan dari keluarga besar kakek mugkin. Entah.
Inikah zaman modern itu. Zaman yang telah berlari jauh sekali. Hingga jarum jam di segala sudut bumi seperti terlalu bernafsu mengejar waktu. Sampai-sampai melewatkan masa-masa adikku mengenal kodratnya sebagai perempuan. Dan sialnya, adikku tak mau sejengkal pun berusaha, sekalipun menyeret langkah. Hanya menunggu sang waktu membalikkan keadaan.
Ketenangan rumah ini sempat terpecah kala suara lantang Lastri begitu kerasnya kepada bapak.
“Aku tidak mau menikah!” katanya suatu kali,
“Kubilang berulangkali kalian tetap saja memaksaku. Tidak dengan Fajar, Ari, Sodik, atau tidak pun dengan laki-laki yang lain, mereka itu anjing!” Begitulah Lastri menjawab dengan kerasnya.
“Persetan semuanya!”
Bapak menghela nafas.
Petang itu menjadi petang terakhir Lastri di rumah. Kepergiannya yang tiba-tiba menjadi beban bagi bapak. Apalagi dia satu-satunya anak perempuan bapak. Telah kuhubungi teman-temannya, tak ada satu pun yang tahu keberadaannya. Tindakan nekatnya ini membuatku semakin bingung. Akibatnya kepulanganku ke Surabaya aku tangguhkan paling tidak hingga Lastri ketemu . Atau mungkin jika bosku merasa tak nyaman karena aku meninggalkan kerjaan maka paling lama aku di rumah hingga beberapa hari lagi saja.
Telah kutanyakan pada teman-temannya, tapi tak ada satu pun yang tahu. Lantas ke mana Lastri selama ini. Tiap kali Bapak tanya hasilnya, aku cuma bisa menggeleng. Agaknya ancaman yang dilontarkannnya kala itu benar-benar ia lakukan. Ia minggat tanpa ada satu pun yang tahu kapan dan kemana perginya.
Azan isya’ memenuhi angkasa. Dedaunan berbincang-bincang dengan angin, membicarakan cerita seorang bocah yang tadi pagi memaksanya mematahkan ranting. Sang bocah terjatuh saat salah berpijak pada kayu rapuh. Mereka tertawa berderai hingga mengaburkan burung gereja yang bertengger kelelahan. Ah masa bodo. Ingin rasanya kubelokkan pikiranku barang sesaat saja. Tak perlu ada lastri dalam pikiranku, bahkan kalau bisa bapak juga tak usah ikut-ikutan hadir dalam pikiranku. Tiap aku berusaha melenyapkan mereka dalam bayang-bayangku, maka akan muncul bayang-bayang lainnya. Tentang istri dan anakku di Surabaya, juga tentang kerjaanku yang kutinggalkan. Biarlah sejenak saja kulupakan semua itu.
Orang-orang berjalan beriringan mengumandangkan kalimat yang mengagungkan Tuhan. Langit terlapis awan seperti serpihan yang berserakan, tak rela jika Bapak harus tersengat matahari di hari yang menghantarkannya ke peraduan yang terakhir. Semua begitu cepat terjadi. Dayaku telah tiada di hari ini, entah kekuatan mana yang telah membuatku mampu menelapak. Bahu kananku terus saja memikul keranda. Pandangan mata seolah menarik tubuhku hingga tak terasa jika aku telah bergerak maju.
Kata Agung, sejak malam itu Bapak sakit keras. Bapak juga sangat kecewa atas kepergian Lastri. Beliau terus-menerus memikirkan Lastri yang tak jelas ke mana. Kesehatannya pun tak diperhatikan. Suatu kali tatkala Agung berpikir hari telah siang tapi Bapak belum bangun juga, maka ia membangunkan Bapak. Ia heran tangan Bapak terasa dingin. Juga tak terdengar dengkurannya. Ia tak merasakan nadi yang berkedut di pergelangan tangan Bapak. Setelah beberapa kali tangan Agung menepuk-nepuk paha Bapak, tak kunjung ada gerakan. Ia goyang-goyangkan tubuh Bapak yang telah terpejam, tapi sama saja. Lantas ia tahu Bapak telah tak lagi bernyawa. Bahwa itu adalah babak terakhir Bapak berada di dunia.
Pemakaman telah sesak dipenuhi warga dan kerabat yang turut mengantarkan jenazah Bapak. Kulihat liang tanah merah telah tergali. Dengan pasrah kuraihkan tubuh Bapak pada Seno yang telah berdiri siap dalam lubang itu.
Modin telah selesai memimpin do’a. Kuamati orang-orang di sekelilingku. Tampak tak pernah kukenal. Mereka melenggang pulang seusai upacara pemakaman.
Di rumah masih terdengar bacaan surah Yasin. Juga ada beberapa tetangga yang turut membantu menata kembali kursi. Kini ingatanku terbentang pada apa yang kulihat tadi. Di antara kerumunan kulihat seorang pemuda. Bukan pemuda tapi ibu. Bukan juga ibu tapi Lastri. Lastri yang telah serupa dengan laki-laki. Lastri yang tampan telah berdiri mengamati prosesi pemakaman Bapak dari kejauhan.
(Jepara, Februari 2010)
Muhammad Wahyu Amiruddin (Wahyu Ameer). Lahir di Jepara, 24 Juni 1989. Alamat Sekarang di Ponpes Durrotu Aswaja, Banaran,Gunungpati, Semarang. Masih kuliah di Universitas Negeri Semarang Prodi Sastra Indonesia. Pengalaman Kepenulisan Juara Tiga Lomba Cerpen Islami Rohis Kalimasada Semarang, Lima terbaik puisi pilihan Jateng. Aktif di Komunitas Kalam Semarang.aktif menulis di majalah annida. pegiat komunitas Kalimasada Semarang.
Sabtu, 08 Mei 2010
lingustik
Bahasa merupakan suatu keunikan yag sering tidak kita sadari. Pernahkah kita bertanya, misalnya, mengapa benda yang kita duduki dinamakan kursi, orang yang mengeluarkan airmata dinamakan menangis, dan binatang yang merayap di dinding dan memakan nyamuk dinamakan cicak. Lalu pernahkah kita bertanya sekali lagi, siapa tokoh yang menciptakan penamaan tersebut? Yang jelas, terciptanya bahasa bukan karena jasa perorangan. Bahasa terbentuk salah satunya karena adanya konvensi antar manusia yang menuturkan bahasa tersebut. Konvensi atau kesepakatan tersebut mengakibatkan penamaan terhadap apa yang ada di sekitarnya. Bahasa juga terbentuk melalui tiruan bunyi. Misalnya kata “tokek”, kata tersebut berasal dari bunyi yang dikeluarkan oleh binatang yang merayap di dinding yang besarnya melebihi cicak, dan berbentuk seperti kadal. Penamaan karena adanya peniruan bunyi tersebut dalam ilmu bahasa dinamakan onomatope. Banyak kita dapat kata-kata yang berasal dari onomatope, contohnya “meringkik”, “mencebur” , dan lainnya.
Dalam perkembangannya bahasa telah melalui banyak kajian para linguis. Maka para linguis merumuskan aturan-aturan standar dalam penggunaan bahasa yang sesuai dengan makna, grammar dan konteksnya. Namun, karena kurangnya pengetahuan yang mendalam penutur bahasa tersebut, sering terjadi pula kesalahan-kesalahan yang menjadi biasa.
……………
Saat Aku mencoba
merubah segalanya,
saat aku meratapi kekalahanku
……………
Kalimat di atas merupakan penggalan lagu yang berjudul Merindukanmu yang dipopulerkan grup musik D’Massive. Sekilas, kita tidak menyadari bahwa syair yang kita dengar ini tidak ada yang aneh. Hal ini mungkin karena iramanya yang mudah dicerna otak sehingga kita tidak perlu memusingkan diri benar atau salah segi semantik dan gramatikalnya. Namun jika kita mau teliti dan sedikit menganalisis terhadap syair tersebut, akan ada hal yang menarik yang bisa kita ungkap. Sesuatu yang “salah” tetapi malah dianggap wajar oleh penutur atau mitra tutur.
Hal yang sama pula terdapat pada penggalan lagu yang dipopulerkan Once, vokalis Dewa, yang berjudul Aku Mau, berikut petikan lagunya.
Kau boleh acuhkan diriku,
Dan anggapku tak ada
Tapi tak kan merubah perasaanku, kepadamu
……………..
Kita mungkin tidak mau ambil pusing terhadap apa yang kita dengar. Kita pun terkadang tidak mempersoalkannya. Lebih-lebih kita hanya sebagai pendengar yang hanya menikmati tanpa sedikit pun sikap kritis. Justru mulai dari sikap itulah, sesuatu yang sebenarnya salah akan menjadi hal yang wajar dan seolah-olah benar. Dalam masyarakat umum hal tersebut dinamakan “salah kaprah”
Mari kita teliti sekilas petikan lagu di atas!
Kata merubah yang diinginkan pengarang, dimaksudkan kepada proses menjadikan suatu hal menjadi hal yang berbeda. Secara gramatikal memang tidak salah. Akan tetapi dari segi semantik (makna) kata merubah sebenarnya berasal dari kata dasar rubah mendapat awalan me-, yang menyatakan arti menyerupai yang terdapat pada kata dasar. Dalam pemaknaan kata tersebut yaitu menyerupai rubah. Sedangkan kata mengubah berasal dari kata dasar ubah yang mendapat imbuhan prefiks (awalan) yang sama yaitu me-. Awalan me- pada verba (kata kerja) ubah mengalami nasalisasi (perubahan bunyi sengau) menjadi meng-. Makna kata mengubah yaitu melakukan perbuatan yang dinyatakan oleh kata dasar.
Dari segi kelas kata dasarnya pun berbeda. Kata merubah berasal dari kelas kata nomina atau sering disebut kata benda, sedangkan mengubah berasal dari kelas kata verba atau kata kerja. Ditinjau dalam susunan pola kalimat, kata merubah merupakan verba intransitif (tidak membutuhkan objek dalam kalimat). Misalnya kalimat, Andi akan merubah. Andi sebagi subjek, akan merupakan atribut kalimat, dan merubah adalah predikat verba intransitif. Berbeda halnya dengan Andi mengubah wajah. Kalimat tersebut berpola SPO. Andi sebagai subjek, mengubah merupakan predikat verba transitif, dan wajah merupakan objek kalimat.
Jadi, kata merubah yang digunakan dalam lagu tersebut kurang tepat pemakaiannya. Sebab arti kata merubah ialah menjadikan sesuatu menyerupai rubah (binatang rubah). Seharusnya pengarang lagu tersebut menggunakan kata mengubah yang berarti melakukan perbuatan sesuai kata dasar ubah. Sehingga antara maksud pengarang lagu, diksi (pilihan kata), dan pemaknaan pendengar dapat sesuai, seimbang dan tidak terjadi salah tafsir.
Memang, tidak ada aturan yang pokok mengenai tata penggunaan bahasa dalam sebuah syair. Kita tidak bisa pula serta merta menyalahkan sebab lagu pada hakikatnya adalah sebuah puisi populer yang berisi irama. Sehingga asas licentia poetika sah-sah saja jika digunakan dalam lagu. Namun, jika kata yang “salah” tersebut sudah dianggap benar oleh penutur bahasa secara umum maka mungkin saja hal tersebut akan menjadi hal yang berkesinambungan. Masyarakat pun akan menilai bahwa sesuatu yang umum mereka tahu adalah sasuatu yang benar.
Oleh karena itu, pendengar atau penikmat musik Indonesia agar lebih bijak dan teliti terhadap lagu-lagu dalam negeri. Jangan sampai kekayaan daya kreatif musisi kita justru merusak tatanan bahasa Indonesia.
*)oleh Kang Wahyu Ameer
sastra
NAHWU
Apakah kau tahu tentang mubtada'
Tulisan arab yang tiada jelas
Tak berharkah tak bermakna
Mangapa kau bisa membacanya
Bukankah itu hal yang tak mudah
Kenapa kalimat ini bisa dibaca seperti itu kawan
Hah,
Atau mungkin kau hanya asal membaca
Biar dikira kau orang pintar berbahasa arab
Tahu apa kau tentang bahasa arab
Aku tak pernah tahu tulisan itu bisa dibaca
Mengerti apa kau tentang kalimat
Kau bilang itu ilmu nahwu
Apa itu nahwu?
Aku tak pernah mendengar ilmu semacam itu
Ha, ha, ha,
Ilmu yang kutahu hanyalah ilmu matematika, fisika, kimia, bahasa, sejarah dan ilmu-ilmu lain yang sejak nenek moyang kita menemukan itu
Nahwu,
Kutak mengerti ilmu semacam apa itu
Tidak Mudah
Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tidaklah kau, tidaklah dia, tidaklah diriku pula.
Semua hanyalah suatu titipan belaka. Tidak nyawa, tidak raga, tidak jasad, dan tidak semua apa yang kita miliki. Semua hanyalah sesuatu yang nantinya akan kita tinggalkan
Kepintaran, kedigjayaan, kekuasaan, dan kemewahan bukanlah kepunyaan kita.
Bumi yang selama ini kita singgahi, hanyalah tempat kita merenung, tempat kita menanam, dan tempat kita menuai kebaikan dunia.
Bukanlah suatu kemudahan untuk menjadi orang yang mendekati sempurna, yaitu manusia yang bijak, derma, putih hati, polos budi, dan semua kebaikan-kebaikan yang kelak kita raih
Banyak hal yang harus kita kerjakan, kita laksanakan, kita tunaikan , dan kita jalankan.
Kumemang sulit merubah diri, merubah sikap, merubah, penampilan, dan merubah semua kenegatifan di dalam raga yang melekat.
Tidaklah mudah
Tidaklah mudah merubah dunia semudah membalikkan telapak tangan
Tidaklah mudah merubah keadaan menjadi lebih baik, karena begitu banyak noda-noda yang melekat dalam kehidupan, virus-virus yang tumbuh dalam kelakuan
Tidak mudah
KENAPA DENGAN DIRIKU
Kutahu memang tak sehat
Kuakui memang sakit
Beragam cara tuk sembuh ku tempuh
Beraneka upaya tuk meraih sehat kujalani
Mungkin nodaku sungguh melimpah
Tentu dosaku begitu meruah
Mungkin salahku tak hingga
Tapi kenapa dengan diriku
Dalam sakit ku masih
Penyakit yang menggerogotiku belum sadarkan
Sakitku belum buatku bangkit dari gelimangan kekotoran
Kenapa dengan diriku
Sakit pun masih bermaksiat
Belum bisa bertaubat
Belum bersyukur atas nikmat
Kenapa dengan diriku
Otak yang seharusnya bersih kini telah kotor
Dengan otak kulakukan kekejian
Dengan pikiran kujalani kenistaan
Kenapa dengan diriku
Otak yang seharusnya s’lalu mengingat-Mu
kini teracuni pikiran-pikiran kotor yang Kau murkai
Masih pantaskah kudapati nikmat-Mu
Ku ini kenapa
Setan begitu mudah merasuki kalbuku
Bisikannya kuat hingga menghantam lubukkku
Tiada kuasa menampik bujuknya
Kenapa dengan diriku
*) Oleh. SAIFUSSALAM
artikel bebas
Wisata Sejarah Di Kediaman Kartini
Selama ini sedikit yang mengetahui jika kediaman Kartini ternyata berada di kawasan Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Jepara. Bahkan warga Jepara sendiri pun tak banyak yang tahu. Letaknya dibelakang Pendopo Sekitar dua puluh meter ke selatan dari Kantor Setda atau sekitar lima menit berjalan kaki dari alun-alun menuju ke timur menyebrang jalan raya.
Kartini merupakan tokoh pahlawan emansipasi wanita di Indonesia. Hari kelahirannya pun (21 April) diperingati sebagai hari Kartini. Sosoknya tidak hanya dikenal di nusantara tetapi juga hingga Negeri Kincir Angin. Tokoh wanita progresif ini sempat mencengangkan khalayak dunia melalui buah pemikirannya yang tertuang dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.
Kartini, seorang wanita bangsawan Jawa yang lahir dari pasangan Raden Mas Semangun Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah. Ayahnya keturunan bangsawan menjabat sebagai Bupati Jepara, sedangkan ibunya seorang keturunan rakyat jelata, putri seorang kyai dari Desa Telukawur yang jaraknya kira-kira enam kilo meter ke arah selatan dari pusat kota Jepara.
Saat penulis mengikuti seminar Internasional mengenai Kartini yang diselenggarakan di pendopo Kabupaten Jepara, penulis berkesempatan diajak mengunjungi tempat tinggal Kartini. Di sana keutuhan perpaduan arsitektur Jawa dengan Belanda masih tampak asli. Memasuki tempat tersebut, sebelumnya dari pendopo melewati gebyok berukir motif bunga kita akan memasuki ruang penerima tamu yang banyak terpajang hiasan kayu dan kaligrafi berukir.
Setelah melewati ruang tersebut kita akan berada di ruang keluarga yang juga banyak terpajang benda-benda peninggalan Belanda, misalnya keramik dan perabotan lainnya. Selanjutnya, tempat Kartini mengajar wanita-wanita Bumiputera yaitu di teras belakang rumah. Bagian utara teras tersebut terdapat sumur yang berada di depan sebuah kamar yang dulunya merupakan kamar milik Mas Ajeng Ngasirah.
Masih banyak lagi lainnya yang menarik dari tempat tersebut. Namun patut disayangkan, sedikit yang mengetahui tempat tersebut adalah kediaman Kartini sebelum dipingit ke Rembang. Pemerintah setempat pun tidak melakukan sosialisasi pada masyarakat. Sehingga seolah tempat itu tidak terbuka untuk umum. Mengingat program nasional pada tahun 2010 ini adalah tahun kunjungan ke museum. Harapannya, jika tempat tersebut dijadikan objek wisata sejarah tentu mampu memberi pengetahuan yang lebih kepada masyarakat tentang peninggalan Kartini semasa hidup di Jepara.
oleh Wahyu Ameer
Rabu, 05 Mei 2010
info
Lomba Cerpen : 30 Mei 2010
Lomba Cerpen antar Pelajar dan Mahasiswa Se-Indonesia di Perpanjang Hingga 30 Mei 2010
Kompetisi ini diadakan dalam rangka memperingati HUT PIC dan Lembaga Pendidikan Computer dan Internet Cerdas.
TEMA
1. Kisah Cinta dengan latar belakang budaya santri (Islami) dan Umum (Bebas)
2. Kisah Berselancar di Dunia Maya (Internet)
3. Pengalaman Menggunakan Internet secara Sehat dan Cerdas
4. Tentang Budaya Indonesia
5. Entrepreneur Muda Indonesia
6. Islam Kebanggaanku
7. Semangat Untuk Bangkit
Peserta Bebas Menulis judul apa saja. namun tetap yang ada hubungannnya dengan salah satu diantara ke tujuh(7) tema diatas.
KRITERIA PESERTA DAN SYARAT PENULISAN
1. Peserta Warga Negara Indonesia (P/L);
2. Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar;
3. Cerpen diketik dengan huruf Time New Roman size 12, Spasi 1 ½, 7 – 15 halaman qwarto;
4. Cerpen yang diikutkan lomba adalah karya yang belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun;
5. Setiap peserta boleh mengirimkan maksimal 3 judul Cerpen dari karya terbaiknya;
6. Melampirkan Biografi singkat maksimal 1 halaman;
7. Batas terakhir penerimaan naskah 30 Mei 2010;
8. Naskah tulisan yang sudah dikirim menjadi hak panitia penyelenggara
9. Untuk Memudahkan Peserta dari Seluruh daerah di Indonesia, Naskah dapat dikirimkan melalui Email ke: PutraTerbaikIndonesia@gmail.com dengan Mencantumkan Subjek: Lomba Cerpen 2010
PENGUMUMAN NOMINATOR DAN PEMENANG
5 Juni 2010
HADIAH
1. Bagi cerpen nominator dan cerpen pemenang akan dibukukan eksklusif oleh Penerbit GagasMedia. 3 cerpen pemenang, dan 17 cerpen nominator;
2. Bagi cerpen nominator dan cerpen pemenang akan Mendapatkan Piagam Penghargaan sebagai Juara dan Nominator
3. Juara I, II, dan III, akan mendapatkan hadiah berupa Uang Tunai sebesar:
Juara I – Rp.700.000,
Juara II – Rp.350.000,
Juara III – Rp.150.000,
DEWAN JURI
1. Bpk Zainul Walid S.Ag. (Sastrawan, Kritikus Sastra Indonesia, dan Dosen Institut Agama Islam Ibrahimy(IAII) );
2. Bpk Syamsul A.Hasan S.Ag (Penulis Buku Kharisma Kiai. As’ad, Menulis itu gampang kok, dll. Beliau aktif menulis di beberapa media baik lokal maupun Nasional. dan Beliau juga menjadi dosen tetap di Jurusan Komunikasi IAII);
3. dari Pihak Penerbit (Menunggu Informasi selanjutnya)
KET:
Untuk Perubahan-Perubahan di kemudian hari (Penerbit, Sponsor, Juri, dls) , akan kami informasikan melalui Group Internet Cerdas(FaceBook) dan Web www.Cyberdakwah.SaputraOnline.com. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi Putra melalui email: succesgo@gmail.com,
Panitia Penyelenggara
Group Internet cerdas & PIC
Di Dikung Oleh:
1. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Dakwah dan BEMI
2. Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Situbondo Jawa Timur
3. Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII)
4. Blog Mahasiswa dan Entrepreneur Muda Indonesia (www.SaputraOnline.com)
5. Portal Majalah Online Mahasiswa Fakultas Dakwah ( www.Cyberdakwah.SaputraOnline.com)
Popularity: 4% [?]
Senin, 03 Mei 2010
Launching Komunitas Kalimasada
Syukur alhamdulillah kami ucapkan berkaitan dengan terbentuknya komunitas kalimasada. komunitas ini merupakan komunitas diskusi tentang ilmu humaniora, sastra, kajian karya ilmiah, ilmu sosial, dan agama. komunitas ini lahir karena keinginan bersama untuk membentuk satu komunitas yang bisa menampung aspirasi anggota yang haus akan pencerahan dan ilmu pengetahuan.
selamat bergabung dengan komunitas ini.
salam kebebasan....
Muhammmad Noor Ahsin