Minggu, 20 Juni 2010

BOBROK

"Bobrok..." ungkap Reni lemas ketika tiba di depan rumahnya. Setelah berjam-jam menempuh perjalanan Yogya Semarang, iapun sampai di tempat yang tak ingin lagi disinggahinya itu. Dengan langkah gontai Reni memasuki pelataran rumahnya. Disana ia bermain ayunan bersama ibunya. Berlarian bersama ayahnya.
"Sungguh bobrok..." sekali lagi ia menguatkan pernyataannya seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Ungkapan itu sering ia katakan setiap kali ia melihat rumahnya. Bukan karena bentuk fisiknya yang reot, bukan karena kondisinya yang seperti sarang laba-laba. Rumahnya berdiri sangat kokoh dan sama sekali tidak ada tanda-tanda akan roboh. Rumahnya juga bersih terawat setiap hari, bahkan didesain oleh arsitek terkemuka. Rumahnya terbilang sempurna. Tetapi kata bobrok itu adalah kata yang menurut Reni pantas untuk menyebut rumahnya.
Setelah kepergian ibunya dua tahun yang lalu jalan hidupnya telah melenceng dari skenario yang telah digariskan oleh Tuhan. Roda kehidupan terus berputar, musimpun telah berganti. Tuhan telah mengambil ibunya terlebih dahulu. Tidak ada lagi kasih sayang seorang ibu apalagi seorang ayah. Ayahnya jadi sering pulang malam dalam keadaan mabuk bahkan membawa perempuan ke rumah. Reni sebagai anak tertua selalu menegur ayahnya tetapi selalu saja berahir dengan pertengkaran. Pepatah mengatakan "Rumahku Surgaku" tetapi bagi Reni pepatah itu sudah direvisi menjadi rumahku nerakaku.
Keburukan ayahnya mereda setelah menikahinya. Perempuan yang pernah mengumpat mencari ayahnya untuk meminta pertanggungjawaban. Perempuan itulah yang telah merenggut seluruh cinta ayahnya. Sikapnya tak lagi penyayang seperti ketika masih bersama istrinya yang dulu. Reni menjadi tidak betah berlama-lama bersama mereka. Sering kali ia pulang malam. Memberontak. Berbeda dengan Rani, adik satu-satunya yang Umurnya hanya selisih satu tahun dengan Re. Ia sangat penurut.

***
Hari ini Reni kembali ke rumah ini, tempat yang dulu menjadi buku hariannya selama tujuh belas tahun. tempat yang mengajarkannya banyak hal. Dari kebahagiaan hingga kesedihan. Semua itu ia jadikan sebagai bekal hidupnya. Hidup yang ia pilih bersama sepi tanpa kasih sayang. Hidup yang sempat ditentang oleh ayahnya.
"Untuk apa jauh-jauh ke Yogya di Semarang juga banyak universitas yang bagus dan berkualitas," tiba-tiba Re teringat kembali protes ayahnya saat Re mengutarakan keinginannya untuk kuliah di Yogya.
"Tapi Re pengennya di Yogya !" suaranya meninggi. "Tidak betah di Semarang," lanjutnya dengan nada yang sangat sinis.
Tanpa menunggu apa yang akan dikatakan ayahnya Re langsung melenggang pergi.
"Reeee..." teriak Rani setelah melihat kakak satu-satunya tiba-tiba sudah ada di depan pintu rumah. Ia langsung menghambur memeluknya. Rani tidak sabar lagi ingin seperti dulu. Saling bercerita, berbagi pendapat dan berkeluh kesah tentang hidup mereka sekarang. setelah setahun lebih dipisahkan oleh jarak antara semarang Yogya.
"Capek banget Ran," Reni menghempaskan tubuhnya di sofa panjang. Seperti yang ia lakukan dulu setelah pulang sekolah dan selalu ada yang bisa mengusir rasa capek, ibunya selalu membuatkan jus alpukat kesukaannya. Lalu sekarang.
"Dimana perempuan itu Ran ?" Re mengingatnya.
Rani hanya mengangkat bahunya tidak tahu. "Buat Rani mana Ren ?" katanya sambil membongkar tas kakaknya.
"Ayah ?" tanya Re lagi.
"Ayah marah-marah Re, kamu sih nggak pulang-pulang."
"kenapa kangen ya ?" jawab Re datar "Apa benar ayahnya kangen ?" gumamnya dalam hati.
"Siapa juga yang kangen sama kamu. sebulan yang lalu ayah kedatangan tamu."
"Maksudmu datang bulan ?" mereka sama-sama tertawa. Sudah lama mereka tidak sebahagia ini.
"Tamu itu bakal jadi kakak iparmu Ran." sela ayah mereka yang sudah ada di dekat mereka. Tawa mereka serentak berhenti.
"kakak iparku ?" tanya Rani kaget.
"Maksud ayah apa ?" tanya Re tak kalah kagetnya. Reni berdiri menahan marah.
"Bosnya ayah melamar kamu untuk anaknya," jawab ayahnya tenang.
"Jadi karena ini ayah nyuruh Reni pulang ? Kenapa tidak bilang dulu sama Reni ?" Reni kesal. "Tidak Reni tidak mau." Reni berbalik dan membanting pintu kamarnya yang bersebalahan dengan ruang tamu.

***

Pagi-pagi sekali Reni mengemasi barang-barang bawaan yang sama sekali tidak disentuhnya sejak kemarin. Reni berniat akan kembali ke Yogya. Sebelumnya Re berharap pulang akan melihat keadaan yang dulu akan berubah, ternyata tidak. Reni malah menemui kekecewaan yang ditimbulkan oleh ayahnya.
"Mau kemana kamu Re ?" tanya ayahnya setengah membentak.
"Pulang," jawabnya.
"Pulang kemana ini rumahmu."
"Rumah Re di Yogya, Re akan balik kesana. Re kesini cuma buang-buang waktu saja." sahut Re kesal.
"Jangan kurang ajar sama ayah Re."
"Re tidak bermaksud kurang ajar sama ayah tapi Re cuma ingin dihargai disini. Re pengen kuliah sampai selasai," Re gusar dan pergi dari rumah meninggalkan ayahnya yang masih mematung di depan pintu kamarnya.
Re berlari ke jalan untuk mencari kendaraan yang bisa membawanya pergi dari rumahnya. Sekuat tenaga ia berlari seakan-akan dikejar ayahnya. Memang benar ayahnya mengejarnya tapi hanya sampai di pintu depan.
"Ingat Re akan ada pesta besar-besaran menantimu disini," teriakan ayahnya masih didengar Re yang baru saja masuk ke dalam taksi.
Malam ini Reni memandangi langit yang terlihat begitu megah dengan indahnya senyuman sang rembulan. Sayangnya senyuman Reni kini tak lagi seindah senyuman sang raja malam disana. Yang menampakkan cahayanya begitu transparan dan mampu menelanjangi setiap mata yang melihatnya. Tetapi tidak untuk mata Reni. Melihat keindahan malam ini, matanya langsung dihujani oleh air mata. Membayangkan tak ada lagi keindahan malam seperti malam ini. "Pesta ?" sepenggal suara ayahnya terngiang kembali. Sungguh-sungguhkah ayah ? Pikirnya dalam hati. Kuliahku bagaimana kalau aku bakal jadi seorang istri ? Memang pemikiran orang terdahulu yang tidak lagi mengerti betapa pentingnya pendidikan di zaman sekarang. Ayahnya hanya lulusan SMA yang kini hanya jadi tangan kanan Hartoyo, direktur perusahaan yang sangat otoriter. Apa yang diinginkan harus dicapainya. Menikahkan anaknya dengan anak seorang pembantu memang bukan keinginannya, melainkan keinginan ayah Reni, yang tidak lain karena tergiur dengan apa yang dimiliki bosnya. Hartoyo marah kemudian menggebrak mejanya dengan sengit "kau menghinaku ?"
"Atau aku akan melaporkanmu pada semua relasimu ?" ancamnya ketika permintaannya ditolak.
Harta memang sudah membutakan seseorang. Hartoyo tern'yata salah telah memilihnya sebagai orang kepercayaan. Orang yang telah tahu kelicikannya menjalankan suksesnya bisnis yang telah digeluti selama bertahun-tahun. Akhirnya dituruti saja kemauannya untuk mempertahankan kesuksesannya itu. Sedangkan Randy, lelaki yang akan dinikahkan dengan Re hanya mengangguk layaknya kerbau yang dicocok hidungnya. Karena memang Reni yang cantik membuat siapa saja akan tertarik kepadanya. Randypun juga tampan. Dan dengan ketampanan itulah yang selalu dijadikan Ayahnya alasan untuk mengiming-imingi Reni.
"Kamu akan menyesal Re anaknya tampan lho" bujuk ayahnya ketika Reni mengunjungi rumahnya minggu lalu.
"Re tidak tertarik, " tolak Reni.
"Kamu tidak boleh menolak," tegas ayahnya.
"Re masih pengen kuliah yah."
"Re Re kamu kuliah mau jadi apa ? Kamu itu perempuan Re ujung-ujungnya juga di dapur melayani suami."
"Pokoknya Re tidak mau, titik," Reni ngotot menolak untuk dinikahkan.
Seminggu sebelum acara pernikahannya. Ayahnya sudah berkali-kali menyuruhnya pulang tapi ia sama sekali tidak menanggapi perintah itu. Hingga suatu hari ketika Re berada di kampusnya ada mobil mewah yang tengah menghadangnya. Dari luar terlihat bukan orang sembarangan siapa yang ada di dalamnya. Pasti orang-orang yang terbiasa duduk di belakang meja DPR, pikirnya. Pintu terbuka dan seorang lelaki yang tampak berwibawa keluar dari sana.
"Hai Re senang bertemu denganmu," lelaki itu mengulurkan tangannya. Lalu pintu keduapun terbuka.
"Ayah ?" seru Re tampak kaget melihat ayahnya turut keluar dari mobil itu juga. ***
Pintu gerbang terbuka, berdiri di sana mak Sum yang biasa mengurus kebutuhan anak-anak kos. Randy menghentikan mobilnya tepat di depan tempat kos Reni. Pintu mobil belakang terbuka.
"Re," panggil ayahnya sebelum ia turun dari mobil itu.
"Iya yah," sahutnya antusias.
"Kemasi barang-barang kamu dan kembali lagi kesini."
"Maksud ayah ?"
"Kita pulang."
"Re tidak mau."
"Pokoknya yah tidak ada acara pernikahan tidak ada pesta buat Re, Re mau tetap kuliah di sini." jawab Re mantap.
"Jangan membantah kamu Re ayo cepat kamasi barang kamu dan kembali ke sini kita pulang," kata ayah Re sambil berteriak setelah melihat Re meninggalkan mereka.
Rapat-rapat Re mengunci kamarnya. membiarkan ayahnya pulang bersama Randy. Di belakang pintu kamarnya, Reni menekuk lutut dan sesenggukan menahan tangis. Ia berpikir untuk menggagalkan rencana ayahnya itu. Pernikahan itu tidak boleh terjadi. Tetapi acara itu sudah semakin dekat dan ayahnya telah mempersiapkan segalanya. Reni tidak punya cara lain. Reni menghilang ke suatu tempat karena ia yakin pasti ayahnya akan kembali untuk mencarinya. Dan hari itu semakin dekat. Dua hari sebelum pernikahannya ayahnya memang mencari Reni ke tempat kosnya juga ke kampus Renipun tidak ada di sana. Tepat di hari pernikahannya Reni tetap tidak muncul juga. Ayahnya sangat panik. Begitu pula Randy juga tak kalah cemasnya karena pengantinnya belum juga datang.Berbeda dengan Hartoyo ia merasa puas melihat kepanikan cukongnya itu. Ia tidak sudi berbesanan dengannya. Rani, adiknya juga berusaha menelepon nomor HP Reni hingga berkali-kali tidak juga aktiv. Ketika Rani sudah putus asa tiba-tiba teleponnya berbunyi.
"Ran aku tidak bisa datang," suara Re di seberang sana.
Rani langsung berteriak menyebut nama kakaknya ketika mendengar suara Re. Semua yang ada di dekat Rani menghentikan apa saja yang mereka kerjakan. Begitu juga dengan ayahnya, kecemasan langsung hilang seketika nama Reni disebut-sebut oleh Rani. Dengan tidak sabar ayahnya mengambil telepon yang tengah dipegang oleh Rani.
"Re kamu di mana semua orang sudah menunggumu di sini. Acara akan segera dimulai." kata ayahnya gugup.
"Maaf yah aku tidak bisa," putusnya setelah lama ia menimbang-nimbang.
"Tidak ada cara lain Re," katanya lemas. "Kalau lima jam lagi kamu tidak pulang acara ini akan tetap ayah lanjutkan dan adikmu yang akan menggantikan posisimu," ayahnya mengancam.
"Rani ?" Reni masih melongo kaget.
Terdengar bunyi tut tut tut telepon telah terputus. Percuma saja Reni berteriak memanggil nama ayahnya. "Kenapa harus Rani yah batalkan saja pernikahannya kalau Reni tidak mau," sanggah Rani.
"Ayah bisa malu kalau acara ini dibatalkan Ran, dan jalan satu-satunya hanya kamu yang menggantikan jika kakakmu tidak juga datang," jelas ayahnya.
"Menurut ayah Rani mau gitu?" tanyanya sengit.
"Jangan seperti Reni kamu Ran." suara ayahnya meninggi.
"Jangan korbankan Rani yah," seru Reni yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka. semua yang ada di tempat itu kaget melihatnya. Ayahnya mendesak agar acaranya cepat di laksanakan takut jika Reni akan kabur lagi.
"Re kesini tidak untuk menikah yah. Re tidak ingin melihat Rani menjadi korban kerakusan ayah sama harta."
"Apa katamu ?" bentak ayahnya seraya melayangkan tangannya ke pipi Re.
"Ayah." Rani menghela ayahnya. Ia tidak mau ayahnya akan lebih marah dan terjadi pukulan yang berikutnya terhadap Reni. Ayahnya memberontak dan keduanya saling beradu pendapat.
"Iya iya Rani mau," akhirnya Rani menengahi perdebatan keduanya. "Tapi dengan satu syarat," lanjutnya.
"Ran kamu gila apa?" sergah Reni.
"Apa syaratnya Ran?" tanya ayahnya semangat.
"Jika Re benar-benar tidak mau dan ayah maunya Rani, Rani punya satu syarat buat Re. semua yang sebelumnya diberikan ibu harus menjadi milik Rani tanpa terkecuali," ancam Rani. Ia sama sekali tidak bermaksud demikian tetapi ia hanya mengancam agar Reni mengubah keputusannya. Dan ternyata Reni tidak mengubah keputusannya. Ia malah membenci adiknya karena dianggapnya Rani sama saja dengan ayahnya yang gila akan harta.
"Ambil saja semuanya Ran aku tidak menginginkannya. Jika kamu pikir aku mau menikah dengan dia karena kamu mengancamku seperti itu kamu salah. Baik Ran selamat berbahagia dengan lelaki pilihan ayah. Aku akan balik ke Yogya. Selamat tinggal Ran. Ayah."
Reni kembali tanpa membawa apapun. Ia meninggalkan Rani bersama ayahnya. Membiarkan Rani dipersunting oleh Randy yang sama sekali tidak diketahui bagaimana kelakuannya. Reni kembali meneruskan kuliahnya dengan biayanya sendiri. Ia tidak lagi menemui keluarganya.
***
Rani tidak bisa bekerja, sekarang menjadi janda muda yang tak terurus. Seminggu setelah pernikahannya dengan Randy ia diceraikan. Sedangkan ayahnya di PHK dari perusahaan.

Nur hidayah

Minggu, 13 Juni 2010

artikel by Kg.Anas ASa

BENARKAH KAPAL NABI NUH?

Awal bulan mei 2010 lalu, kelompok gabungan peneliti Cina, Hongkong, dan Turki merilis sebuah video yang berisi gambar para peneliti memasuki sebuah goa di kaki gunung Ararat Turki, yang di dalam goa tersebut semua dindingnya terbuat dari bahan kayu. Diduga usia kayu itu berkisar sekitar 100.000 tahun. Penelitian ini merupakan tindak lanjut dari dugaan-dugaan bahwa di kaki gunung Ararat tersebut terdapat artefak kapal.
Seperti kabar yang pernah dirilis oleh peneliti dari Kerajaan Turki tahun 1883, Kaisar Rusia tahun 1917, dan satelit Amerika Bolsey Taylor tahu 1995. Memberikan gambaran (foto-foto) mengenai adanya sebuah gumpalan mirip perahu atau kapal yang berada di kaki gunung Ararat. Gumpalan itulah yang diduga kuat The Great of Noah Ark (Kapal Nabi Nuh). Sehingga hasil penemuan dari peneliti Cina, Hongkong dan Turki ini menguatkan bahwa penemuan itu adalah benar dimungkinkan The Great of Noah Ark.
Sebagai orang Islam tentu kita meyakini kisah dari Nabi Nuh, kapalnya, dan bencana banjir besarnya. Hal ini diterangkan di dalam Al qur’an surat Hud ayat 37, Allah SWT befirman “Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan petunjuk wahyu kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan”. Kemudian mengenai banjir dijelaskan dalam Surat Hud ayat 40, “Hingga apabila perintah kami datang dan tanur telah memancarkan air, kami (Allah SWT) berfirman, ‘muatkanlah ke dalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan) sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu (Nuh) kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu dan (muatkan pula) orang yang beriman’. Ternyata orang-orang yang beriman yang bersama Nuh hanya sedikit”. Untuk kisah lengkapnya dapat dibaca di Surat Nuh dan sebagian surat Hud.
Tentu tidak ada keraguan bagi kita umat islam untuk meyakini dari kisah Nabi Nuh. Namun kisah yang telah ribuan tahun lalu terjadi kini disuguhkan kembali kepada kita dengan berupa penemuan sebuah artefak kapal yang sampai saat ini para peneliti tersebut sangat berkeyakinan bahwa itu adalah The Great of Noah Ark. Boleh percaya atau tidak kita terhadap penemuan dan klaim tersebut, kita umat islam harus tetap mengapresiasi hasil penelitian tersebut. Kita boleh saja tidak percaya dengan penemuan itu dengan berbagai macam pendapat. Namun setidaknya jika kita percayapun bukanlah sebuah kerugian bagi kita.
Jika benar artefak itu adalah The Great of Noah Ark maka suatu bukti kemahabesaran Allah SWT. Karena Ke Agungan Allah SWT Kita diberi kesempatan melihat bagaimana sisa-sisa dari kapal seorang nabi ulul azmi, nabi Nuh as. Dimana seorang nabi yang diberikan cobaan begitu besar dengan tidak pada beriman-imanya kaum bani Rasib (kaum nabi Nuh) padahal telah didakwahi selama 500 tahun. Dari sekian ribu kaum bani Rasib hanya beberapa glintir orang yang mau beriman. Hal inilah yang membuat sedih nabi Nuh sehingga mendoakan kaumnya yang tidak beriman untuk dimusnahkan dari muka bumi. Seperti yang tercantum dalah Surat Nuh ayat 26 yang artinya “Dan Nuh berkata ”Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi”. Tidak hanya percaya pada kisah nabi nuh nya, kalau kita sudah melihat beberapa foto-foto dan videonya kita akan kagum dengan The Great of Noah Ark ini. Sebab sulit untuk kita percayai pada masa nabi Nuh telah mampu membuat teknologi kapal yang begitu besar dan modern. Tentu jika kita tidak memiliki keimanan kita tidak akan meyakini keberadaan kapal tersebut.
Kalaupun penemuan The Great of Noah Ark bukan sebuah kebenaran, hal ini masih menjadi bukti ke Maha Besaraan Allah SWT dengan segala rahasia Nya. Dengan segala Ke Maha Pengetahun Nya, rahasia keberadaan kapal nabi Nuh belum bisa diungkap tentu menyimpan rahasia-rahasia besar dan mungkin sulit dicerna oleh pengetahuan manusia biasa. Hal ini menandakan bahwa manusia itu makhluk yang masih lemah dan hanya sedikit kecerdasan yang dimiliki. Sehingga tidak layak untuk menyombongkan diri dengan keilmuan yang dimiliki.
Percaya atau tidak dengan penemuan The Great of Noah Ark ini jangan lantas kita jadikan sebagai pemikiran dangkal yang dapat membuat perpecahan di kalangan kita, terutama sesama kalangan umat islam. Percaya atau tidak itu adalah hak masing-masing dan keyakinan masing-masing. Namun hal penting yang harus kita yakini adalah, bahwa ilmu pengetahuan yang dapat kita serap hanya secuil dari apa yang telah Allah SWT berikan. Sehingga jangan cepat berpuas dirilah kamu dalam mencari ilmu. Penemuan artefak kapal ini hanya sebagian kecil dari tanda-tanda kemahabesaran Allah. Dan jika mau mengetahui lebih dalam mengenai artefak kapal ini, maka carilah keteranga itu dengan ilmu yang kau punyai. Jadi, benarkah itu kapal nabi Nuh? Wallahu a’lam bishowabi. (by AsA).

Analisis Santri by Dian Afrianti

KESUKARAN ITU MENARIK KEMUDAHAN
Oleh Dian A

Salah satu dari qaidah ushul fiqih disebutkan bahwa “kesukaran itu mendatangkan kemudahan”.
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-baqarah 185
Artinya:” Allah menghendaki kelonggaran bagimu dan tidak menghendaki kesempitan bagimu”
(al-baqarah: 185)
Dalam kaitannya dengan hal ini imam Syafi’i pernah memberikan jawaban sesuai dengan qaidah ini atas tiga pertanyaan yang berbeda-beda
1. Bagaimana status hukum seorang wanita yang tanpa wali bepergian diantar oleh laki-laki yang bukan muhrimnya. Dengan spontan beliau menjawab: “idza dhoqol-amru ittasa’a.”
2. Jawaban serupa juga diberikan kepada seseorang yang menanyakanbejana yang di buat dari tanah liat yang bercampur dengan najis apakah dapat dipakai sebagai tempat air wudlu atau tidak.
3. Tentang seekor lalat yang baru saja mendekap di kotoran. Lalu terbang dan hinggap di pakaian. Beliau menjawab: tidak mengapa jika waktu terbangnya memungkinkan kedua kakinya menjadi kering karenanya.
Dari kaidah ini menjadi sumber adanya bermacam-macam rukhsah (kemurahan) dalam melaksanakan syariat.
Contohnya:
1. Kesulitan seseorang menjalankan sholat dengan berdiri, memberikan padanya keringanan untuk duduk. Bila keringanan ini masih dirasa berat maka boleh dilakukan dengan berbaring. Dan bila keringanan itu masih merupakan keberatan keberatan, ia diizinkan sholat dengan mengerdipkan mata saja.
2. Bila seseorang sulit menghindari najis darah nyamuk yang melekat pada pakaiannya atau percikan air di jalanan akibat hujan yang memercik pada celanaya, maka ia di maafkan sholat dengan pakaian tersebut.
3. Diperkenankan bertatap muka dengan wanita yang bukan muhrimnya dalam keperluan melamar, memberikan pelajaran, persaksian, pengobatan dan lain sebagainya. Sebab akan menjadi kesulitan perbuatan tersebut dilakukan dengan tanpa bertatap muka.
4. Orang yang akan meninggal dunia diperkenankan mewsasiatkan seprtiga harta peninggalannya kepada siapa saja yang dikehendakinya untuk menambah amal taqarrubnya. Andaikata ia tidak diberi batasan maksimal sepertiga harta peninggalannya, maka hal itu akan menimbulkan kesulitan ekonomi bagi ahli waris yang berhak menerimanya. Apalagi kalau mereka sangat membutuhkannya.


Sebab-sebab timbulnya keringanan
Setelah mengadakan penelitian secara mendalam para ulama ahli ushul menemukan sebab-sebab timbulnya keringanan itu, yakni:
a. Bepergian
b. Sakit
c. Terpaksa
d. Lupa
e. Kebodohan
f. Kurang mampu
g. Kesukaran umum
Kaidah-kaidah yang berkaitan dengan kemurahan
Ada dua macam kaidah yang erat hubungannya dengan kemurahan,
1. Rukhsah-rukhsah itu tidak boleh dihubungkan dengan kemaksiatan
Mengerjakan maksiat dilarang oleh syariat. Tuntunan itu sangat kuat sehingga hampir tidak ada jalan untuk memperingankannya. Padahal keringanan itu sendiri pada hakikatnya adalah suatu kelonggaran dalam menjalankan perintah syariat. Karena itu tidak logis jika dalam mengerjakan maksiat diberi kelonggaran demi tercapainya suatu kemaksiatan yang justru harus dihindarinya.
Orang yang sedang bepergian untuk merampok atau mencuri, sekalipun jarak perjalanannya sudah memenuhi syarat diperkenankannya rukhsah, maka tidaklah diperkenankan kemurahan-kemurahan dalam bepergian
Bepergian untuk maksiat berbeda dengan maksiat dalam bepergian. Seorang istri pergi karena purik (nusuz) dari suaminya atau seseorang yang pergi untuk membunuh kawannya adalah bepergian untuk maksiat. Selama kepergiannya bersifat semacam itu , ia dilarang menjalankan rukhsah. Sedangkan jika seseorang bepergian mubah, kemudian dalam perjalanan itu ia melakukan maksiat, maka ia dikatakan menjalankan maksiat di dalam bepergian. Karena itu ia diperbolehkan melekukan rukhsoh bepergian.
2. Rukhsah-rukhsah itu tidak disangkutpautkan dengan keraguan
Misalnya, apabila seseorang raguapakah kepergiannya itutelah memenuhi syarat untuk menqashar sholat atau belum, maka ia harus menjalankan sholat secara sempurna, tidak boleh menqasharnya. Sebab menurut asalnya ia harus menyempurnakan sholat. Sedang qashar itu diperbolehkan apabila telah memenuhi syarat-syaratnya. Padahal syarat-syarat tersebut diragukannya.
Wallahu a’lam bisshowab....

Sumber: Dasar-dasar pembinaan hukum fiqih islami, ushul fiqih